Website Iklan Tayang Selamanya
Promo spesial hari ini posting iklan di situs web Iklan Jawa Barat murah sekali
setidaknya satu iklan Anda harus ada di Iklan Jawa Barat unikbaca.com ini, agar pengunjung
atau pengakses dapat mencari dan tahu usaha Anda, posting iklan di Iklan Jawa Barat murah
🎁 Hari ini sebar iklan massal murah ke 1.050 web! DISKON!

Tampilkan postingan dengan label tempo dulu. Tampilkan semua postingan
thumbnail

Kantor Pusat Bala Keselamatan

KANTOR Pusat Teritorial Bala Keselamatan berpindah dari Semarang ke Bandung seiring dengan rencana perpindahan ibu kota Pemerintah Hindia Belanda ke Bandung, pada awal 1900-an. Pandangan strategis ini diambil Letnan Kolonel JW de Groot sebagai Komandan Teritorial Bala Keselamatan di Hindia Belanda agar komunikasi dengan instansi pemerintah berjalan lebih baik, demi peningkatan pelayanan sosial.

Kantor Pusat Bala Keselamatan
Illistrasi: Fachri/*PR*
Arsitek : FW Brinkman en Voorhoeve (Belanda)
Tahun berdiri : 1917
Gaya bangunan : art deco geometrik
Alamat : Jalan Jawa No. 20 Kota Bandung
Bala Keselamatan (Inggris: Salvation Army) yang dikenal sebagai pelayanan sosial Gereja Protestan ini didirikan oleh William Booth dan berpusat di London. Untuk mengenang jasanya, saat itu Letnan Kolonel de Groot mengusahakan membuat bangunan di atas sebidang tanah kepada pemerintah di sudut Jalan Sumatera dan Jalan Jawa. Tanggal 24 Agustus 1915, tanah yang merupakan lapangan sepak bola tersebut resmi diberikan pemerintah kepada Bala Keselamatan. Sebagai wujud penghargaan terhadap Milliam Booth, maka di atas tanah itu berdirilah gedung kantor pusat teritorial Bala Keselamatan dan panti asuhan, dengan nama William Booth.

Pada upacara peletakan batu pertamanya, dihadiri oleh Wali Kota Bandung Tuan Coops dan putrinya yang juga meletakkan batu pertama gedung panti asuhan. Dalam buku berjudul “Sejarah Gereja Bala Keselamatan di Indonesia” karangan Letnan Kolonel Melatte M Brouwer, disebutkan bahwa “Pada acara ini ikut dibenamkan bersama batu penjuru sebuah kotak alumunium berisi buku doktrin Bala Keselematan, perintah dan aturan bagi prajurit Bala Keselamatan, undang-undang peperangan, serta strijdkreet dan penderita peperangan.

Pada 24 September 1917, akhirnya peresmian gedung dilaksanakan, tanpa kehadiran Letnan Kolonel JW de Groot yang sudah pindah ke teritori Jepang pada tahun 1916. Gedung ini diresmikan oleh Gubernur Jendral Count John Paul van Linburg Stirum yang membuka pintu kantor pusat teritorial dan istrinya yang membuka pintu panti asuhan anak-anak yang terletak di samping kantor pusat. Pembangunan gedung megah bergaya arsitektur modern fungsional (art deco geometrik) itu menelan dana sebesar 117.022 gulden. Biaya pembangunan berasal dari sumbangan perorangan dan perusahaan seperti Kantor Pusan Bala Keselamatan Internasional, serta para simpatisan di Belanda.

Keadaan berubah saat tentara Jepangt tiba di di Pulau Jawa dan mengambil alih kantor pusat pada 13 Maret 1942 dan memduduki bangunan ini sebagai salah satu markas. Ketegangan berlangsung tidak saja di seluruh Bala Keselamatan daerah-daerah di Indonesia. Akhirnya, setelah kemerdekaan Indonesia pada September 1945, Kantor Pusat Bala Keselamatan kembali dalam keadaan porak poranda. Dua tahun kemudian, proses pemulihan bangunan ini rampung. Pada 31 Mei 1947, kantor pusat teritorial dan panti asuhan berfungsi seperti semula.

Tahun 1999-2000 kantor ini direnovasi dengan menambah bangunan sayap antara kantor pusat dengan panti asuhan di bawah persetujuan Pemerintah Kota Bandung. Kini, gedung pusaka yang berada di kawasan militer tersebut membawahi korps yang tersebar di 20 provinsi dan terus berkominten dalam memberikan pelayanan sosial gereja di seluruh lapisan umat di dunia.

Sumber: Putri Khaira Ansuri/Periset, *Pikiran Rakyat** Minggu, 23 Juni 2013
thumbnail

Balai Perguruan Putri

Van Deventerschool, itulah nama awal dari Balai Perguruan Putri. Sebuah sekolah guru putri atau meisjenormaalschool yang dibangun untuk mengenang jasa Mr. Conrad Theodore van Deventer. Ia adalah orang Belanda, ahli hukum yang memprakarsai politik etis atau politik balas budi Belanda kepada pribumi. Kemunculan politik tersebut memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan di Hindia Belanda dalam wujud berdirinya sekolah-sekolah untuk pribumi. Di Bandung keluarga Van Deventer mendirikan Van Deventerschool, beberapa tahun kemudian van Deventer meninggal. Sekolah itu diresmikan pada 24 Juli 1919 oleh istri Gubernur Jenderal Ny. Gravin van Limburg Stirum Sminia. Saat itu, sekolah guru sangat dibutuhkan. Apalagi, sebelumnya sudah ada Sekolah Keutamaan Istri yang didirikan Raden Dewi Sartika pada 1904 meski dengan sedikit tenaga pengajar.

Balai Perguruan Putri
Illistrasi: Jony/*PR*
Lokasi: Jalan Van Deventer No. 14, Kota Bandung
Fungsi: Sekolah (SMK, SMP, TK), Wisma
Pengelola: Yayasan Balai Perguruan Putri
Luas: 1,6 hektare
Lebih dari 20 tahun, Van Deventerschool atau dahulu dikenal pula Van Deventer Vereeniging Vor West Java telah mencetak guru-guru putri. Calon guru putri sekolah itu berasal dari berbagai daerah, karena Van Deventerschool tak ada di semua wilayah Hindia Belanda. Murid-muridnya pun tak terbatas pada kalangan bangsawan saja. Sayangnya, keadaan itu harus berubah saat pendudukan Jepang pada tahun 1942. Van Deventerschool Bandung harus dibubarkan. Sekolah itu lalu dijadikan markas tentara, sedangkan murid-muridnya terpaksa diungsikan ke Sekolah Guru Putri Yogyakarta. Van Deventerschool harus pindah ke Belanda. Lepas dari cengkeraman Jepang, bangunan sekolah ini sempat digunakan ITB (Institut Teknologi Bandung) dan STO (Sekolah Tinggi Olahraga). Namun, pada 1952, perwakilan dari Belanda menyerahkan Van Deventerschool, termasuk semua kekayaan, bangunan sekolah dan tanahnya kepada sejumlah alumni dan tokoh pendidikan di Jawa Barat. Atas keputusan bersama, nama sekolah ikut berganti pada 1953, yakni menjadi Balai Perguruan Putri (BPP).

Seiring perkembangannya, tak banyak perubahan yang terjadi pada Balai Perguruan Putri. Bangunan itu masih berfungsi sebagai sekolah hingga sekarang. Hanya saja, terdapat tiga tingkatan pendidikan yang menempati kompleks tersebut, yaitu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Taman Kanak-kanak (TK). Siswa sekolah ini awalnya hanya menerima siswa putri menjadi terbuka untuk siswa putra, karena dahulu sempat hanya memiliki sedikit murid. Namun, yang tak mengalami perubahan adalah pemeliharaan kultur Sunda yang selalu diwariskan kepada siswanya.

Bangunan sekolah itu sebagian besar masih menggunakan bangunan lama peninggalan Belanda. Namun, ada beberapa bangunan baru dan bangunan lama direnovasi. Khusus untuk bangunan lama, tak ada sedikit pun yang diubah secara drastis. Termasuk dalam kompleks tersebut terdapat wisma yang sekarang diberi nama Wisma Van Deventer. Wisma ini terbilang baru meskipun bangunannya menggunakan bangunan lama. Wisma ini diresmikan 11 Desember 2006 oleh istri Danny Setiawan, Gubernur Jawa Barat saat itu. Wisma berkapasitas 150 tamu itu disewakan kepada masyarakat, lalu hasil sewanya digunakan untuk menunjang operasional sekolah

Sumber: Kania DN/Periset *Pikiran Rakyat** Minggu, 29 Juli 2013
thumbnail

Alun-alun Kota Bandung

Alun-alun Kota Bandung yang sekarang terlihat lebih banyak berfungsi sebagai halaman masjid Raya saja, meskipun fungsi ruang terbuka bagi masyarakat masih dipertahankan. Akan tetapi, nyaris tak ada yang dengan sengaja datang berekreasi ke lapangan di pusat kota itu. salah satu penyebabnya adalah jarang sekali ada kegiatan dan acara yang dapat membuat warga Bandung berbondong-bondong mengunjungi alun-alun. Kebanyakan orang yang datang hanya memanfaatkan alun-alun sebagai tempat melepas lelah dengan duduk-duduk di kursi batu yang tersebar di setiap sudut. Padahal, Alun-alun Kota Bandung tempo dulu merupakan pusat keramaian tempat berbagai perhelatan diadakan.

Alun-alun Kota Bandung
Illistrasi: Jony/*PR*
Lokasi : Diapit Jalan Asia Afrika, Jalan Dalem Kaum, dan jalan Alun-alun Timur
Dibangun : Tahun 1811
Luas: 22.700 m
Tahun 1925, pertandingan memanah yang diikuti peserta dari berbagai daerah mampu menyedot warga Bandung datang ke sana. Mereka berdesak-desak hingga meluber ke badan Jalan Groteposweg (sekarang Jalan Asia Afrika). Setiap malam, Alun-alun Bandung layaknya pasar dadakan. Ronggeng dan pemutaran film menjadi hiburan favorit warga kota sambil menyantap kacang goreng dan serabi yang banyak dijajakan di sana. Belum lagi pertandingan sepak bola yang kerap digelar pada rentang tahun 1900-1905 dan 1914-1921. Penontonnya pun tak sedikit hingga mengitari lapangan yang dibatasi pagar dari kayu setinggi pinggang.

Ketika kuda masih menjadi alat transportasi utama. Alun-alun Kota Bandung sempat menjadi terminal tempat delman-delman pengantar surat parkir di pinggir lapangan dekat Gedung Pos Besar Bandung. Ada pula Order de Boom atau tukang cukur yang setiap harinya berpraktik di sana. Pada 1 Mei 1909, di lapangan alun-alun ditanam pohon betepatan dengan kelahiran Putri Juliana, anak dari Ratu Wilhelmina. Pohon itu pun diberi nama Juliana Boom. Sayang pohon itu sekarang sudah tidak ada. Pohonnya tumbang tahun 1942. Bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan Belanda di Indonesia.

Alun-alun Bandung yang juga seusia dengan kotanya dirancang layaknya pusat kota tradisional di Pulau Jawa. Kompleksnya terdiri atas masjid raya di sebelah barat, pendopo, serta penjara yang ada di Jalan Banceuy. Ketiga bangunan tersebut tidak kebetulan dibangun di sekitar alun-alun, tetapi mencerminkan tiga kekuasaan atau asas trias politika di suatu negara. Pendopo mencerminkan eksekutif, penjara melambangkan kekuatan yudikatif, dan mesjid disebut juga sebagai representasi dari legislatif tempat masyarakat bermusyawarah. Pada masa lalu, Alun-alun Bandung juga dipakai warga untuk menyampaikan protes damai. Mereke biasanya mengenakan pakaian putih dan duduk bersama anak istrinya untuk menarik perhatian para pemimpin.

Penataan Alun-alun Bandung sudah sejak dulu dilakukan. Dekade 1950 hingga 1960-an misalnya, berbagai jenis bunga ditanam di sana. Fungsi alun-alun mulai memudar ketika tahun 1980-an lapangan alun-alun sedikit demi sedikit dibuat menjadi halaman mesjid hingga ruas jalan yang memisahkan mesjid dengan lapangan alun-alun menjadi tak ada. Penataan kala itu juga bersamaan dengan pembangunan jembatan beton yang menghubungan sisi barat alun-alun dengan mesjid raya. Pemugaran tahun 2003 lalu semakin mengukuhkan alun-alun sebagai beranda mesjid ditambah pembangunan basement parkir. Kini, lapangan Alun-alun Bandung dihiasi tanaman rindang, pagar setinggi dua meter, tempat duduk, dan kolam air mancur yang jarang menyala.

Sumber: Fitrah/Periset. *Pikiran Rakyat** Minggu, 29 Desember 2013
thumbnail

Situ Cileunca – Pangalengan (Bandung)

PADA masa Pemerintahan Hindia Belanda, Situ Cileunca menjadi salah satu sumber listrik bagi Kota Bandung. Air dari Situ Cileunca dialirkan ke sungai buatan untuk menjadi penggerak turbin tiga pembangkit listrik tenaga air (PLTA) utama di Pangalengan. Listrik dari PLTA tersebut disebut-sebut merupakan listrik pertama yang dapat dinikmati oleh penduduk di wilayah ini, termasuk dimanfaatkan para preanger planter (pengusaha perkebunan). Sebelum menjadi situ atau danau buatan, kawasan ini merupakan area hutan belantara milik seorang Belanda bernama Kuhlan. Tahun 1918, area hutan tersebut direncanakan untuk dibangun situ dengan tujuan awal untuk memenuhi kebutuhan air bagi warga setempat. Pemerintah Hindia Belanda pun kemudian membangun situ tersebut pada tahun berikutnya, yakni tahun 1919.

Situ Cileunca – Pangalengan (Bandung)
Illistrasi: Fian Afandi/*PR*
Lokasi : Desa Warnasari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung (45 km sebelah Kota Bandung
Ketinggian : 1.550 mdpi
Luas: 180 hektare
Kedalaman: 17 meter
Suhu: 15-25° Celsius
Sumber Air: Situ Cipanunjang, Sungai Cilaki Beet, dan Sungai Cibuni Ayu
Untuk membangun situ, aliran sungai yang ada di sekitar situ dibendung. Konon, pembangunan situ tersebut tidak menggunakan cangkul melainkan alu atau halu dalam bahasa Sunda. Tak sedikit orang yang dikerahkan untuk mengerjakan pembuatan situ tersebut. Atas perintah Hindia Belanda, proyek ini pun dikomandoi dua orang terpercaya, yaitu juragan Arya dan Mahesti. Hingga tujuh tahun lamanya, tepatnya pada tahun 1926, Situ Cileunca baru benar-benar rampung. Situ yang terletak diantara Desa Warnasari dan Desa Pulosari ini pun membentuk bendungan hingga akhirnya diberi nama Dam Pulo.

Tahun 1930, pemerintah mendirikan bangunan pengontrol ketinggian air di Situ Cileunca. Air dari bangunan pengontrol ini kemudian mengalir ke sungai buatan Palayangan, lalu menjadi salah satu sumber air yang digunakan untuk menggerakkan turbin Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Plengan, Lamajan, dan Cikondang. Dari ke tiga PLTA ini dihasilkan daya listrik sekitar 5,5 MW. Tak hanya menjadi sumber listrik, kapasitas situ yang mencapai 9,89 juta meter kubik pun menjadi cadangan sumber air bersih bagi Kota Bandung.

Dari segi panorama, Situ Cileunca memiliki keindahan yang tak kalah menarik untuk dijadikan objek wisata.hamparan perkebunan teh dan pegunungan yang memanjakan mata menjadai latar belakang Situ Cileunca. Situ Cileunca dikelilingi dua perkebunan teh Malabar dan tiga gunung yang berdiri kokoh, yaitu Gunung Windu, Gunung Malabar, dan Gunung Wayang. Untuk lebih menikmati pemandangan Situ Cileunca, pengunjung dapat menyewa perahu mengelilingi situ. Pengunjung pun dapat menyambangi kebun stroberi dan arbei yang berada di seberang Situ Cileunca. Bagi menyuka wisata menantang, tersedia olahraga arung jeram yang mengarungi Sungai Palayangan sepanjang 7 kilometer atau permainan ekstrem lainnya seperti flying fox. jika hanya ingin bersantai, area berkemah dekat danau pun dapat menjadi pilihan pengunjung.

Sumber: Kania DN/*Pikiran Rakyat** Minggu, 2 Desember 2012
thumbnail

Gedung Paguyuban Pasundan

PERAN Paguyuban Pasundan dalam sejarah Bandung dan Jawa Barat tak bisa dipisahkan. Saat dunia mengalami krisis ekonomi, atau melaise, pada periode 1930-1940, kota Bandung mampu melakukan pembangunan besar-besaran. Mulai dari sekolah, pasar, bank, hingga gerakan kaum perempuan mampu didirikan di kota ini dengan bantuan Paguyuban Pasundan yang saat itu dipimpin oleh Oto Iskandar Di Nata.

Menjadi organisasi yang tersebar di berbagai daerah di Jawa Barat, Paguyuban Pasundan dibentuk di Jakarta (ketika itu Batavia) pada 1913. Siswa-siswa STOVIA yang berasal dari etnis Sunda sering berkumpul setiap Sabtu malam dan bercakap-cakap dalam bahasa Sunda. Lewat pertemuan itu meraka merasakan perlunya ada persatuan di antara orang-orang Sunda dan adanya satu wadah pergerakan di bidang Sosial-budaya. Saat Volksraad (Dewan Parlemen) berdiri, Paguyuban Pasundan kemudian memperlebar gerakannya di ranah politik.

Gedung Paguyuban Pasundan
Illistrasi: Parmaali/*PR*
Lokasi : Jalan Sumatera No. 41, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung
Berdiri : 1905 – 1915
Luas tanah: 1.630 M2
Luas banguan: 460 M2
Perkembangan sejarah: Didirikan sebagai rumah tinggal militer lalu pada 1939 dijadikan kantor pusat Paguyuban Pasundan
Selama 25 tahun semenjak Paguyuban Pasundan berdiri, masih berkantor di Batavia. Namun pada 1939, pada masa kepemimpinan Oto Iskandar Di nata, semua aktivitas pengurus pusat lalu dipindahkan ke Bandung, tepatnya ke Jalan Sumatera No. 41. Di Bandung, Paguyuban Pasundan lalu menempati sebuah gedung yang pada awal abad ke-19 didirikan sebagai rumah tinggal militer. Pada era tersebut, Bandung memang tengah dipersiapkan sebagai pusat militer Pemerintah Hindia-belanda. Banyak daerah yang dibangun untuk dijadikan kawasan militer, termasuk di antaranya area Archipelwijk atau area yang nama-nama jalanya menggunakan nama pulau-pulau di Nusantara.

Gaya arsitektur yang lazim dipilih untuk gedung-gedung militer itu adalah gaya neo-klasik. Dengan simetri, garis-garis bersih, dan penampilan rapi (uncluttered), Pemerintah Hindia-Belanda seakan ingin menunjukkan kedisiplinan dan kekokohan militernya melalui rancang bangunan. Karena itu, tak heran jika Gedung Paguyuban Pasundan pun ikut menggunakan gaya arsitektur ini. Namun, di gedung Paguyuban Pasundan gaya neo-klasikal tersebut dipadukan juga dengan gaya klasik-romantik. Hal ini terlihat dari ornamen atap jendela yang berbentuk melengkung, yang jadi ciri khas gaya klasik-romantik. Kedua desain ini dapat ditemui di bangunan-bangunan yang didirikan pada awal abad ke-19 seperti Kantor Detasemen Markas Kodam III/Siliwangi di Jalan Kalimantan Kota Bandung. Hampir berusia 100 tahun, saat ini gedung masih berdiri tegak bak saksi seluruh aktivitas Paguyuban Pasundan, yang usianya juga sudah mencapai satu abad.

Sumber: Vetriciawizach/Periset *Pikiran Rakyat** Minggu, 9 Desember 2012
thumbnail

Rumah Sakit Dustira - Cimahi

PADA abad ke-18, pemerintah kolonial Hindia Belanda mendirikan fasilitas militer di daerah Cimahi. Lokasi ini dipilih karena berdekatan dengan Kota Bandung, sebagai ibukota Hindia Belanda (saat itu). Didirikan pula rumah sakit militer untuk melengkapi keperluan para prajurit yang bertugas di sana. Rumah sakit yang berdiri di atas lahan seluas 14 hektare ini diresmikan pada 1887 dengan nama Militare Hospital. Desain bangunannya mengusung gaya arsitektur artdeco, khas Eropa. Setelah lebih dari satu abad usianya, hingga saat ini bentuk bentuk fisik bangunan rumah sakit tak banyak berubah. Bangunan bagian depan dan dindingnya dibiarkan sama seperti saat pertama kali dibangun. Atap rumah sakit pun masih menggunakan genting bergelombang dengan struktur kerangka yang terbuat dari kayu.

Rumah Sakit Dustira
Illistrasi: Ali Parma/*PR*
Lokasi : Jalan Rumah Sakit No. 1 Kota Cimahi
Pengelola : TNI-AD (Kodam III Siliwangi)
Pelayanan medis: Medical check up, dokter umum, dokter gigi, dokter spesialis/sub-spesial (anak, bedah umum, bedah saraf, bedah tulang, kebidanan dan kandungan, penyakit dalam, THT, mata, paru, jantung, rehabilitasi medik, radiologi, psikologi, jiwa, saraf, serta kulit dan kelamin.
Pelayanan Penunjang: Laboratorium Patologi Klinik, laboratorium Patologi Anatomi, Ct-scan, X-Ray, ECG, Endoscopy, Treadmill, Echocardiografi, Laparoscopi, Hemodialisa, Farmasi dan Konsultasi Gizi.
Fasilitas lainnya: UGD 24 jam, rawat inap, rawat jalan, kamar bedah, ICU, instalansi pendidikan, pemulasaran jenazah, kedokteran kehakiman dan forensik.
Setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Kerajaan Belanda pada 1949, kepemilikan Militare Hospital diserahkan kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI). Rumah sakit ini kemudian berganti nama menjadi Rumah Sakit Territorium III dengan Letnal Kolonel dr Kornel Singawinata sebagai kepala yang pertama rumah sakit tersebut. Kemudian, dalam perayaan ulang tahun Territorium III/Siliwangi yang ke-10 pada 19 Mei 1956. Panglima Territorium III/Siliwangi Kolonel Kawilarang mengganti nama rumah sakit ini menjadi Rumah Sakit Dustira.

Penetapan nama tersebut sebagai bentuk penghargaan atas jasa dan perjuangan Mayor dr Dustira Prawiraamidjaja. Dustira adalah dokter tamatan pendidikan kedokteran di Geneeskundige Hogeschool (ika Saigaku atau Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta) pada tahun 1945. Dustira kemudian mengikuti pelatihan kemiliteran selama dua minggu. Setelah itu, ia ditugaskan membantu para korban perang, khususnya di front Padalarang, Cililin, dan Batujajar. Jumlah korban yang terus bertambah di tengah segala keterbatasan peralatan medis yang tersedia membuat Dustira kelelahan hingga akhirnya meninggal dunia pada 17 Maret 1946.

Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), Militare Hospital digunakan sebagai tempat untuk merawat tentara Jepang dan tentara Belanda yang menjadi tawanan tentara Jepang. Kendati merupakan rumah sakit militer, dalam perkembangan selanjutnya, Rumah Sakit Dustira menerima pasien dari kalangan masyarakat umum. Berbagai pelayanan medis dan pelayanan penunjang tersedia di sini. Atas prestasinya dalam pelayanan tersebut, pada November 2010 rumah sakit ini menerima sertifikat akreditasi 16 pelayanan dari Direktorat Jenderal Kekuatan Pertahanan Kementrian Pertahanan RI (Dirjen Kuathan Kemenhan RI)

Sumber: Hanif Hafsari Chaeza/Periset *Pikiran Rakyat* Minggu 2 September 2012
thumbnail

"Kilometer NOL" Bandung

Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd (Usahakan, jika aku kembali ke sini, di daerah ini telah dibangun satu kota)” – Herman Willem Daendels, 1810
SEMBARI menancapkan tongkat kayu, titah itu mengalir dari mulut Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels kepada Bupati Bandung RA Wiranatakusumah II, seusai peresmian jembatan Cikapundung pada 25 Mei 1810, Daendels memerintahkan pembangunan kota di sekitar tempat tertancapnya tongkat di sisi De Grote Postweg.

De Grote Posweg adalah Jalan Raya Pos sepanjang 1.000 kilometer yang dikerjakan selama setahun dengan sisitem rodi dan merenggut nyawa sedikitnya 12.000 pribumi. Jalur ini dibuat untuk mengangkut hasil perkebunan dari Anyer ke Panarukan. Salah satu perlintasannya adalah yang kini dikenall dengan ruas jalan Asai-Afrika di Kota Bandung. Menurut Daendels, jika ibu kota Kabupaten Bandung pindah ke sekitar jalan ini, kota akan ramai karena berada di jalur stategis.

Kilometer NOL
Illistrasi: Fian Afandi /*PR*
Lokasi : Jln. Asia Afrika No. 79 Kota Bandung
Penetapan: Mei 1810 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels
Peresmian: 18 Mei 2004 oleh Gubernur Jawa Barat H Danny Setiawan
Ide pemindahan ibu kota kabupaten sebetulnya sudah lama dipersiapkan Wiranatakusumah II. Dengan pertimbangan religi tradisional, ia membangun pusat pemerintahan pada lahan kosong tepi barat Sungai Cikapundung, tak jauh dari tongkat tersebut. Pembangunan dipimpin langsung oleh Wiranatakusumah II. Pertama kali ia mendirikan alun-alaun sebagai orientasi kota tradisional, bangunan pusat pemerintah (pendopo), masjid agung, dan pasar tradisional. Pada 25 September 1810, Kabupaten Bandung dipendahkan dari Krapyak (Dayeuhkolot) ke daerah yang kini disebut dengan Alun-alun. Disanalah kota Bandung terbentuk dan ramai dikunjungi. Wiranatakusumah II dijuluki sebagai The Founding Father of Bandung.

Pada pertengahan abad ke-19, hasil perkebunan Priangan meningkat dan menjadi magnet bagi pendatang luar kota untuk berdagang dan bermalam. Sejalan dengan dinamika keramaian, dibangun struktur gedung pemerintahan, hotel, kafe, pertokoan, transportasi, dan lain sebagainya. Hingga 1906, Kabupaten Bandung menjadi kotamadya Bandung. Tanggal kepindahan ibu kota kabupaten kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Bandung.

Kilometer Nol yang juga menjadi patokan pengiriman tarif pos kini diabadikan menjadi monumen yang terletak di depan kantor Provinsi Dinas Bina Marga Jawa Barat jalan Asia-Afrika No. 79 Bandung. Tulisan “CLN 18” pada tugu menunjukkan bahwa kota/daerah terdekat ke arah timur adalah Cileunyi, dengan jarak 18 kilometer. Sementara “PDL 18” menunjukkan bahwa kota/daerah terdekat ke arah barat adalah Padalarang dengan jarak 18 kilometer.

Sumber: Putri Khaira Ansuri/Periset *Pikiran Rakyat* Minggu, 23 September 2012
thumbnail

Gedung Detasemen Markas Kodam III/Siliwangi (Gedong Sabau)

KEKALAHAN dari pasukan Inggris pada 1811 membuat pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan rencana pemindahan ibu kota dan pusat militer dari wilayah pesisir nusantara ke kawasan pedalaman. Setelah melalui berbagai pertimbangan, menjelang akhir abad ke-19, Bandung yang berada di dataran tinggi Priangan terpilih sebagai pusat pertahanan militer sekaligus pemerintahan sipil. Selain berdasarkan aspek geografis dan geostrategis, dipilihnya Bandung juga karena kawasan ini merupakan pusat kegiatan ekonomi yang menunjang kas Kerajaan Belanda.

Setelah menetapkan Cimahi sebagai garnisun militer, pemerintah kolonial Belanda kemudian memindahkan Departemen Peperangan/Pertahanan (Departement van Oorlog/DVO) dari Batavia ke Bandung. DVO menempati satu bangunan yang oleh masyarakat Bandung disebut Gedong Sabau. Dalam bahasa Sunda, kata sabau yang berarti satu bau merupakan satuan ukuran luas sebesar 7.096 m2. Gedong Sabau memang dibangun dengan menempati lahan seluas tujuh hektare. Desain bangunannya bergaya arsitektur klasik romantik, seperti gedung-gedung militer lainnya. Terlihat dari banyaknya jendela yang dipasang pada gedung ini. Dinding bagian luarnya berwarna putih dengan atap berwarna abu-abu. Sementara pada bagian eksterior bangunan minim ornamen.

Pembangunan gedung markas pusat komando militer Belanda tersebut telah dimulai sejak tahun 1908, tetapi baru rampung pada tahun 1913. Sementara itu, secara bertahap personel Departement van Oolog mulai dipindahkan ke Bandung sejak 1916, termasuk di antaranya adalah Panglima KNIL (Legercommandant Koninklijke Nederlands-Indiicshr Leger) yang turut dipindahkan dan berkantor di Gedong Sabau. Fasilitas militer yang juga dialihkan ke Bandung antara lain Paleis van den Legercommandant atau Istana Panglima Perang Tertinggi di Hindia Belanda dan rumah dinas untuk para perwira yang dibangun tak jauh dari Gedong sabau, sehingga terbentuklah suatu kompleks militer di kawasam tersebut.

Bangunan yang berlokasi di Jalan Kalimantan itu kini ditempati Detasemen Markas Komando Militer (Denma Kodam) III/Siliwangi. Sejak awal berdiri hingga sekarang, gedung ini telah menjadi saksi perjalanan militer di tanah air. Selain fungsinya yang masih hidup, bentuk asli Gedong Sabau yang hampir berumur satu abad ini juga tidak berubah. Gedung Denma Kodam III/Siliwangi merupakan satu dari ratusan warisan heritage peninggalan Belanda yang masih tersisa di Kota Bandung.

Gedung Detasemen Markas Kodam III/Siliwangi (Gedong Sabau)
Illistrasi: Fachri Fauzi/*PR*
Lokasi : Jln. Kalimantan No. 14 Bandung
Arsitek: V L Slors
Tahun berdiri: 1913
Pengelola saat ini: Kodam III/Siliwangi
Sumber: Hanif Hafsari C/Periset *Pikiran Rakyat* Minggu 7 Oktober 2012
thumbnail

Pabrik Kina (Bandoengsche Kinine Fabriek)

DAHULU, saat bangunan belum berdiri megah dan Batavia masih berupa rawa-rawa, nyamuk sempat jadi musuh utama penjajah Belanda. Bahkan selama 53 tahun, antara 1714-1767, tercatat 72.816 penduduk eropa yang tinggal di Batavia meninggal karena penyakit malaria. Karena penyakit inilah kota Batavia sempat dijuluki “Het graf van het Oosten” atau kuburannya negeri timur.

Pabrik Kina (Bandoengsche Kinine Fabriek)
Parmaali /*PR*
Lokasi: Jalan Pajajaran No. 29-30, Kota Bandung
Bediri: 1896
Arsitek: Gneling Mijling AW dengan gaya arsitektur art deco
Bangunan: Pabrik kina terdiri atas beberapa kompleks pabrik. Pabrik di Jalan Cicendo berfungsi sebagai gudang kulit kina, sementara kompleks bangunan di sudut Jalan Pajajaran-Cihampelas berfungsi sebagai tempat sarana kebutuhan pabrik.
Kedua kompleks pabrik dihubungkan dengan sebuah lorong kecil berbentuk terowongan yang melintas dibawah Jalan Pajajaran dan berada sekitar 2,5 meter di bawahnya.
Lebar terowongan sekitar satu meter dengan panjang yang sama dengan lebar Jalan Pajajaran, sekitar sepuluh meter. Hingga saat ini terowongan masih aktif digunakan untuk lalu lintas para pegawai untuk menuju kompleks utama pabrik.
Perkembangan sejarah: 1896: Didirikan Pemerintah Hindia Belanda dengan nama Bandoengsche Kinine Fabriek.
1942: Pada zaman pendudukan Jepang namanya berubah menjadi Rikugun Kinine Saisohjo.
1945: Belanda kembali masuk ke Indonesia dan kepemilikan diambil lagi oleh Bandoengsche Kinine Fabriek.
1958: Dinasionalisasi dan namanya berganti jadi PN Farmasi dan Alat Kesehatan Bhineka Kina.
1961: Berubah jadi Bhineka Kina Farma.
1971: Dengan Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 1971 berubah menjadi PT (Persero) Kimia Farma.
Melihat hal tersebut, Menteri Jajahan Seberang Lautan Belanda, Ch F Pahud, pada 1851 mengusulkan pada PW Junghuhn untuk melakukan pembudidayaan kina di tanah Jawa. Pada tahun yang sama, Prof de Vriese mendapatkan biji kina dari spesies yang paling baik yang telah disemaikan pada rumah kaca di Prancis. Melalui tangan dingin Dr Teijsmann, kurator Kebun Raya Bogor, bibit yang sempat layu itu lalu dicangkok dan dirawat sepenuh hati. Hasilnya cangkokan tersebut mengalami pertumbuhan yang sangat baik. Dari pohon kina yang satu itulah kemudian berpuluh batang kina dibiakkan.

Untuk mengolah kulit kina menjadi garam kina, Pemerintah Hindia Belanda kemudian mendirikan pabrik kina di Bandung pada 1896. Pada masa-masa itu perkebunan kina di Indonesia bisa menghasilkan hingga rata-rata 11.000 ton kulit kering/tahun, atau setara dengan 33.000 kulit basah/tahun. Dari jumlah tersebut, 4.000 ton diolah di dalam pabrik kina di Bandung dan 7.000 ton diekspor dalam bentuk kulit kina. Dengan jumlah tersebut, saat itu Indonesia bisa mengisi hampir 90 persen pangsa pasar kina dunia.

Berdiri di atas kebun karet sebelah utara, atau Jalan Pajajaran sekarang, pabrik kina telah menjadi simbol kota Bandung selama puluhan tahun. Pada tahun 1980an, masyarakat Bandung akrab dengan asap hitam yang membubung dari cerobong asap pabrik kina, hasil pembakaran mesin ketel uap manual Babcox & Wilcox. Begitu pula dengan suara sirine yang berbunyi sempat kali sehari, penanda waktu karyawan masuk kerja (7.00 WIB), beristirahat (11.30 WIB), kembali masuk kerja (12.00 WIB), dan saat karyawan pulang kerja (15.30 WIB).

Karyawan pabrik sering menyebut sirine tersebut dengan nama si heong. Sejak 1896 hingga saat ini, si heong belum pernah absen mengeluarkan suaranya. Bahkan, peluit yang menjadi sumber suara belum pernah diganti sejak awal pabrik kina berdiri hingga sekarang. Namun, tidak demikian dengan mesin uapnya. Sejak 1995, mesin uap Babcox & Wilcox sudah dipensiunkan dan diganti dengan ketel uap otomatis buatan Surabaya. Pasalnya, asap hitam yang jadi simbol pabrik kina tersebut dianggap telah mencemari udara. Ketelnya perlu diganti dengan yang lebih ramah lingkungan.

Selain mengurangi pencemaran, penggantian ketel uap juga mampu meringankan pekerjaan di pabrik dan mengurangi pemakaian bahan bakar. Mesin Babcox & Wilcox menghabiskan bahan bakar residu antara 3.000-4.000 liter perhari atau sama dengan 120.000 liter residu perbulan, sementara mesin yang baru hanya membutuhkan 33-36 ton solar per bulannya.

Sumber: Vetriciawizach/Periset *Pikiran Rakyat* Minggu, 14 Oktober 2012
thumbnail

Gua Belanda

BANDUNG adalah salah satu kota saksi sejarah yang mewarnai perjuangan bangsa Indonesia. Banyak peninggalan-peninggalan Belanda yang masih diabadiakan dan dirawat oleh pemerintah Kota Bandung, salah satunya bangunan tua yang berada di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ir H. Djuanda, Bandung. Semula kawasan Tahura adalah bentangan pegunungan dari barat sampai ke timur yang merupakan tangki air raksasa alamiah untuk cadangan musim kemarau. Pada masa pendudukan Belanda tahun 1918, dibangun Pembangkit Listrik Tenaga air (PLTA) Bengkok di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikapundung yang berada di Tahura. PLTA sepanjang 114 meter dengan lebar 1,8 meter itu merupakan PLTA pertama di Indonesia, dimana terdapat satu terowongan yang melewati perbukitan batu pasir.

Gua Belanda
Illistrasi: Jony/*PR*
Lokasi : Kompleks Tahura Ir H. Djuanda No. 99 Dago Pakar, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung
Pengelola : Balai Pengelolaan Taman Hutan Raya Ir H Djuanda, Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat
Luas gua: 547 meter
Tahun berdiri: 1918 sebagai PLTA Bengkok
1941 sebagai Gua Belanda
Menjelang Perang Dunia kedua awal 1941, kegiatan militer Belanda makin meningkat. Dalam terowongan itu kemudian dibangun jaringan gua sebanyak 15 lorong dan 2 pintu masuk setinggi 3,2 meter. Peralatan yang dipakai gua seluas 0,6 hektare dan luas seluruh gua berikut lorongnya adalah 547 meter persegi. Saluran atau terowongan berupa jaringan gua di dalam perbukitan itu kini dinamakan Gua Belanda.

Selain 15 lorong yang ada di dalam gua, ada pula beberapa ruangan lainnya seperti ruang kamar yang dahulunya digunakan untuk tempat istirahat atau tidur para tentara Belanda. Lalu, ada ruang tahanan atau penajra, ruang interogasi untuk para tahanan, serta lorong ventilasi sepanjang 126 meter dan lebar 2 meter. Jika melihat atap gua ini, terlihat seperti ada bekas penerangan lampu. Akan tetapi, penerangan lampu itu kini tidak bisa dipakai karena sering kali mati.

Ada pula memandangan menarik lainnya, yakni bekas rel troli semacam untuk pengangkutan barang atau sejenisnya yang memanjang di sepanjang lorong Gua Belanda serta ruangan bekas stasiun radio telekomunikasi militer Hindia-Belanda. Pada saat Perang Dunia kedua. Bangunan Gua Belanda ini memang pernah digunakan menjadi pusat stasiun radio telekomunikasi Hindia-Belanda meski belum sempat terpakai secara optimal.

Pada masa kemerdekaan, Gua Belanda ini pernah dipakai atau dimanfaatkan sebagai gudang penyimpanan senjata dan mesiu oleh tentara Indonesia. Namun sayang, beberapa dinding gua yang telah mengalami renovasi ini sekarang tak terpelihara dengan baik, coretan tangan-tangan jahil mengotori dinding-dinding bersejarah itu. Kini, banyak wisatawan domestik dan asing yang datang ke Gua Belanda untuk melihat langsung isi gua tersebut sekaligus mendengarkan sejarahnya dari pemandu wisata yang siap mengantar ke dalam gua.

Sumber: Mayang Ayu Lestari/Periset *Pikiran Rakyat* Minggu, 13 Januari 2013
thumbnail

Taman Maluku Bandung

Taman Maluku Bandung
Ilustrasi: Fachri/”PR”
Lokasi : Terletak di antara Jalan Ambon, Aceh, Saparua, Sulawesi, dan Seram
Tahun Pembuatan : 1919
Luas : 6.000 meter persegi
Ciri khas taman : kolam air mancur berdiamater 20 meter dan patung HC Verbraak
PATUNG di sudut Taman Maluku berwarna hitam legam, memegang buku yang sedikit terbuka, memakai jubah, lengkap dengan empat lencana yang tersemat di dada kirinya. Patung setinggi empat meter itu merupakan sesosok Belanda bernama Henricus Christianus Verbraak, Sj. Ia merupakan rohaniawan yang bertugas saat perang Aceh pada 1873. Ia dikenal sebagai partor militer yang murah hati terhadap tentara Belanda maupun pejuang Indonesia.

Patung pastor HC Verbraak dibuat pemahat Belanda, Gerhaeda Johanna Wilhelmina. Ia rela tak dibayar untuk membuat patung tersebut karena terkesan dengan reputasi baik sang pastor. Tidak lama setelah pentasbihan Gereja Katerdal Bandung, patung pastor HC Verbraak kemudian di pasang. Patung yang beberapa kali dicat ulang ini merupakan satu-satunya patung peninggalan Belanda yang ada di Kota Bandung. Patung ini selamat dari usaha tentara Jepang untuk menghancurkan semua patung buatan Belanda.

Terlepas dari kesan mistis yang timbul dari Taman Maluku, taman seluas 6.000 meter persegi ini dijadikan taman percontohan oleh Pemerintah Kota Bandung sebagai ruang terbuka hijau yang baik dalam konsep penataan taman. Taman Maluku dipilih karena luasnya yang tidak terlalu besar serta dianggap memiliki nilai historis yang kental. Taman Maluku yang semula bernama Molukken Park yang dibangun tahun 1919 dengan mengedepankan suasana hutan tropis. Taman yang terletak antara Jalan Ambon, Aceh, Saparua, Sulawesi, dan Seram ini ditata sedemikian rupa oleh Pemerintah Hindia Belanda supaya warga Bandung terutama tuan dan noni Belanda betah berlama-lama menghabiskan waktu di sana.

Terdapat sebuah kolam besar berhiaskan air mancur. Ada pula berbagai jenis tanaman hias yang mempercantik rupa taman. Tak ketinggalan bunga teratai dan pohonan rimbun yang membuat udara di sekitar taman menjadi segar. Pohon yang tumbuh di sana antara lain pohon ki angsret (Spathodea campanulata) dan bungur (Lagerstroemia speciosa). Selain itu, disediakan juga beberapa bangku taman. Kesan artistik taman juga dapat terlihat dari tiang-tiang lampu dengan desain yang elegan.

Sayangnya akses masyarakat Bandung untuk mengunjungi dan menikmati keindahan Taman Maluku agak terhambat setelah pemerintah kota membangun pagar setinggi 2,5 meter yang mengelilingi taman. Terdapat tiga pintu masuknya, namun sering kali terkunci untuk umum.

Sumber: Fitrah/Periset "Pikiran Rakyat"
thumbnail

Villa Isola, sebuah mahkota dunia

 Villa Isola, sebuah mahkota dunia
Ilustrasi JONY/”PR”
Lokasi : Jalan Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung 40154
Pengelola : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
“M’ ISOLO E VIVO”. Ungkapan berbahasa Belanda tersebut mengandung arti: saya mengasingkan diri dan bertahan hidup dalam kesendirian. Falsafah ini yang diamani Dominic Willem Berretty saat ia membangun sebuah vila pribadi di sebuah kawasan di dataran tinggi Bandung. Bangunan milik pria keturunan Indonesia-Eropa ini pun akhirnya dikenal dengan nana Villa Isola. Kendati berada di lokasi terpencil. Villa Isola merupakan bangunan paling canggih pada zamannya dan menuai banyak pujian. Bahkan salah seorang arsitektur dunia pada masa itu. JP Coen, menyebut Villa Isola sebagai sebuah mahkota dunia.

Villa Isola didirikan pada 1933 di atas lahan seluas 120.000 m2. pembangunannya memakan waktu delapan bulan, dimulai pada Oktober 1932 dan selesai pada Maret 1933. Pada awal berdirinya, bangunan megah ini dilengkapi halaman seluas 7,5 hektare yang berisi taman, air mancur, dan air terjun mini yang mengalir ke danau. Konon, Villa Isola merupakan salah satu masterplace maestro arsitektur tropis modern, Charles Prosper Wolff Schoemaker. Rancangan bangunan vila menggabungkan gaya modern art deco dengan unsur tradisional kosmik Jawa yakni penggunaan sumbu pintu selatan dan utara. Bagian kiri dan kanan vila dibuat simetris dan memiliki bentuk atap mendatar. Penambahan ruang di dalam vila dibangun vertikal sebanyak empat lantai dengan bentuk tangga melingkar di kiri dan kanan pintu masuk.

Berretty hanya setahun menempati vila ini karena ini meninggal dalam sebuah kecelakan pesawat. Beberapa tahun setelah kematiannya, Villa Isola dibeli oleh Hotel Savoy Homann dan menjadi bagian dari hotel tersebut. Pada masa pendudukan Jepang, vila ini sempat dijadikan tempat tinggal sementara Jendral Hitoshi Imamura menjelang diselenggarakannya Perjanjian Linggarjati di Subang. Pascakemerdekaan, tentara Indonesai berhasil merebut kembali Villa Isola dan mengubah namanya menjadi Bumi Siliwangi yang berati rumah pribumi.

Pada 1954, Villa Isola dijadikan gedung Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) oleh pemerintah Indonesia. PTPG merupakan cikal bakal Institut Keguruan dan Ilmu pendidikan (IKIP) atau Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Banduing. Saat itu, bangunan vila dijadikan kantor rektorat sekaligus ruang kelas. Kini, rektor, pembantu rektor, dan sekretariat UPI masih menempati gedung Villa Isola. Untuk mempertahankan eksistensi Villa Isola sebagai salah satu warisan cagar budaya. UPI akan membangun kawasan Isola Heritage. Diharapkan kawasan ini dapat dinikmati oleh seluruh kalangan sebagai bagian daei wisata pendidikan

Sumber: Hanif Hafsari Chaeza/Periset “Pikiran Rakyat”)***