Website Iklan Tayang Selamanya
Selamat datang di situs web periklanan jaringan unikbaca.com "Semoga Hari Anda Selalu Menyenangkan!"
Setidaknya satu iklan Anda posting juga di situs web iklan ini!
Agar pengunjung atau pengakses dapat mencari dan tahu usaha Anda
📝 POSTING Hari ini DISKON 50%

Tampilkan postingan dengan label istilah sunda. Tampilkan semua postingan
thumbnail

“Derenten” Kebun Binatang Bandung

Derenten Kebun Binatang Bandung
R. Ema Bratakoesoema (Foto: Pikiran Rakyat)
DERENTEN adalah sebutan bahasa Sunda untuk Kebun Binatang Bandung. Kata dalam bahasa Sunda itu sesungguhnya diserap dari bahasa Belanda.

“DIERENTUIN” (taman hewan) yang dibangun pada 1930 oleh orang Belanda bernama Hoogland bersama orang asli Sunda bernama R. Ema Bratakoesoema (kelahiran Baregbeg, Kab. Ciamis tahun 1901) dengan modal patungan, dibawah suatu perkumpulan bernama Bandoengsch Park (BZP). Mendapat mengesahan Gubernur Hindia Belanda No.32 pada 12 April 1933, yang luasnya kurang lebih 14 ha dan hingga kini belum berubah.

Sebelum kemerdekaan, ketika Jepang datang ke Indonesia pada tahun 1942, Hoogland kembali ke Belanda. Sejak itu pengelolaan dilakukan oleh R. Ema Bratakoesoema dkk., sampai Indonesia merdeka pada 1945. Sekitar 1957 Hoogland datang kembali ke Indonesia, tetapi sudah tidak berminat mengelola. Dia berpesan kepada R. Ema Bratakoesoema agar meneruskan pengelolaannya dan meminta kembali uang bekas kongsi pendirian Taman Hewan. Permintaan itu harus diperjuangkan oleh R. Ema Bratakoesoema dengan menjual sejumlah kekayaannya baik di Baregbeg Ciamis maupun yang ada di Bandung dan dalam tenggang waktu tertentu permintaan tersebut dapat dipenuhi.

Sejak saat itu BZP oleh para pengelola dan anggotanya sejumlah orang Belanda dan Indonesia dibubarkan. Derenten menjadi murni milik R. Ema Bratakoesoema. Kemudian R. Ema Bratakoesoema mendirikan Yayasan Margasatwa Tamansari (Bandung Zoological Garden) pada 20 Februari 1957 berdasarkan akta pendirian No. 44 sebagai badan hukum dari Notaris Tan Eng Kiam yang kemudain disahkan dalam Lembaran Negara No. 96/9 November 1963 yang dikenal sebagai Kebun Binatang Tamansari Bandung. Yayasan tersebut telah diperbaharui sesuai dengan Undang-undang No. 25 tahun 2005 tentang Yayasan dengan pengesahan Menteri Hukum dan HAM no.32 Tahun 2012 Lembaran Negara No. 10 tanggal 2 Februari 2010.

Tahun 1984, R. Ema Bratakoesoema meninggal dunia. Beliau berpesan kepada keluarganya, supaya seni ketuk tilu harus terus tampil setiap minggu di kebun binatang. Selain bermaksud untuk melestarikan budaya Sunda, hal itu juga untuk menghibur para mengunjung kebun binatang.
--o0o--

Artikel diatas yang disimpan di arsip kula ini, merupakan sebagian dari hasil tulisan Sudaryo wartawan senior, Humas Kebun Binatang Bandung, dimuat di media cetak Pikiran Rakyat Edisi Sabtu 11 Agustus 2012.

Apabila sobat ingin lebih tahu tentang gambaran berwisata ke Kebun Binatang Bandung. Sobat bisa mengunjungi situs tipswisatamurah.com.
thumbnail

”Labuh” musim peralihan Pranata Mangsa Sunda

Labuh, begitu istilah dalam pranata mangsa Sunda untuk menyebut keadaan alam (musim peralihan) antara di akhir musim kemarau awal musim hujan. Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) disebut pancaroba. Musim peralihan dikarenakan pergantian musim kemarau ke musim hujan.

Dalam kalender Masehi usum (musim) labuh minggu akhir bulan September sampai minggu akhir Desember. Kalau dalam kalender Sunda, mulai budan Kadasa, Hapitlemah sampai bulan Hapitkayu. Berdasarkan hitungan putaran Bumi mengelilingi Matahari atau Suryakala.

Kalender Sunda mengenal dua sistem penanggalan Suryakala dan Candrakala. Candrakala berdasar pada putaran bulan mengelilingi Bumi. Kedua sistem ini memiliki fungsi masing-masing, Suryakala sifatnya bertalian dengan alam.

Bulan Kadasa memasuki usum labuh, angin datangnya dari arah barat laut. Pepohonan yang berbuah setahun sekali, seperti rambutan, mangga mulai berkembang. Burung pipit dan manyar mulai menyiapkan sarang buat bertelur. Masa kawinnya binatang berkaki empat (domba, sapi, kerbau, dsb), ikan-ikan mulai keluar dari persembunyiannya.

Petani membuka ladang (huma) untuk ditanami padi dan palawija. Bulan Hapitlemah, angin datang dari arah selatan, pepohon banyak yang tumbang dikarenakan angin yang cukup kencang berhembus. Curah hujan lebat.

Bulan hapitkayu, angin datang dari arah barat. Frekwensi hujan mulai sering dibarengi kilat dan petir. Buah-buahan mulai matang. Petani mulai sibut mengolah sawah, kebun, lading (huma). Habis Hapitlemah mulai masuk musim hujan: bulan kasa, Karo, sampai bulan Katiga. Musim mamaréng (curah hujan mulai berkurang) atau dangdarat.

Dahulu siklus alam, usum-usuman (musim): usum halodo (kemarau), labuh (pancaroba), hujan, dan mamaréng, tetap tidak berubah. Setiap musim memiliki karakter sendiri-sendiri yang sangat bermanfaat untuk kelangsungan kehidupan di bumi; manusia, tumbuhan dan binatang. Tapi sekarang …..? (sumber: NS – Galura)
thumbnail

Istilah di Sunda yang Berhubungan dengan Kehamilan

hamil
Artikel ini, archive69/arsip kula peroleh dari su.wikipedia.org. Artikel berbahasa Sunda yang berjudul “Adat Ngariksa nu Kakandungan” itu membahas tentang tradisi yang berhubungan dengan kehamilan. Dalam artikel tersebut diantaranya ada istilah dari tiap bulannya bagi yang sedang hamil/mengandung.

Jujur, saya juga baru tahu tentang istilah-istilah ini. Untuk menyimpannya di archive69/arsip kula, saya coba alihkan bahasanya. Mudah-mudahan tidak terlalu banyak kesalahan penempatan kata-katanya. (harap maklum, saya bukan ahlinya)

Biasanya umur kandungan sembilan bulan disebut bulan alaeun (alaeun adalah kata sifat dari kata “ngala/ala = ambil). Tapi ada juga yang umur kandungan lebih dari sembilan bulan biasanya disebut reuneuh mundingeun (reuneuh = hamil, mundingeun kata sifat dari munding = kerbau)

Berikut dibawah ini istilah-istilah khusus untuk yang mengandung/hamil dan prosesnya:
  • Hamil (reuneuh) sebulan disebut ngaherang, artinya kandungan masih terlihat bening (herang), maka wujudnya disebut alkah.
  • Hamil (reuneuh) dua bulan disebut lumenggah, artinya sudah mulai menggumpal (kentel) sekalipun masih transparan (ngalangkang), maka wujudnya disebut kasapah
  • Hamil (reuneuh) tiga bulan disebut kumambang, artinya sudah mengkel dan bulat, wujudnya disebut nutpah.
  • Hamil (reuneuh) empat bulan disebut gumulung, artinya sudah padat dan bulat (buleud), wujudnya disebut amarulah.
  • Hamil (reuneuh) lima bulan disebut mangrupa yang artinya sudah terlihat bentuknya (buleungkeukanna), wujudnya disebut ahmad.
  • Hamil (reuneuh) enam bulan disebut usik, artinya sudah terasa bergerak (usik), wujudnya masih disebut ahmad.
  • Hamil (reuneuh) tujuh bulan disebut malik, artinya posisinya sudah bisa bergerak/berbalik (malik), wujudnya disebut muhamad
  • Hamil (reuneuh) delapan bulan disebut kumentar-kumentir, artinya mencari jalan keluar, wujudnya masih disebut muhamad.
  • Hamil (reuneuh) sembilan bulan disebut ngaruang-ruang, artinya sudah berada di jalan keluar, wujudnya masih disebut muhamad.
  • Memasuki bulan kesepuluh bayi dilahirkan (orok dibabarkeun), mempunyai gelar Rosulluloh.
Tah begitulah kajembaran basa Sunda. Bagaimana, apa di tempat sobat ada juga istilah/sebutan yang bertalian dengan proses kehamilan?

Sekian dulu. Maaf-maaf kalau ada kesalahan penjelasannya. Mohon koreksinya!!
salam