Dalam kalender Masehi usum (musim) labuh minggu akhir bulan September sampai minggu akhir Desember. Kalau dalam kalender Sunda, mulai budan Kadasa, Hapitlemah sampai bulan Hapitkayu. Berdasarkan hitungan putaran Bumi mengelilingi Matahari atau Suryakala.
Kalender Sunda mengenal dua sistem penanggalan Suryakala dan Candrakala. Candrakala berdasar pada putaran bulan mengelilingi Bumi. Kedua sistem ini memiliki fungsi masing-masing, Suryakala sifatnya bertalian dengan alam.
Bulan Kadasa memasuki usum labuh, angin datangnya dari arah barat laut. Pepohonan yang berbuah setahun sekali, seperti rambutan, mangga mulai berkembang. Burung pipit dan manyar mulai menyiapkan sarang buat bertelur. Masa kawinnya binatang berkaki empat (domba, sapi, kerbau, dsb), ikan-ikan mulai keluar dari persembunyiannya.
Petani membuka ladang (huma) untuk ditanami padi dan palawija. Bulan Hapitlemah, angin datang dari arah selatan, pepohon banyak yang tumbang dikarenakan angin yang cukup kencang berhembus. Curah hujan lebat.
Bulan hapitkayu, angin datang dari arah barat. Frekwensi hujan mulai sering dibarengi kilat dan petir. Buah-buahan mulai matang. Petani mulai sibut mengolah sawah, kebun, lading (huma). Habis Hapitlemah mulai masuk musim hujan: bulan kasa, Karo, sampai bulan Katiga. Musim mamaréng (curah hujan mulai berkurang) atau dangdarat.
Dahulu siklus alam, usum-usuman (musim): usum halodo (kemarau), labuh (pancaroba), hujan, dan mamaréng, tetap tidak berubah. Setiap musim memiliki karakter sendiri-sendiri yang sangat bermanfaat untuk kelangsungan kehidupan di bumi; manusia, tumbuhan dan binatang. Tapi sekarang …..? (sumber: NS – Galura)

