Website Iklan Tayang Selamanya
Promo spesial hari ini posting iklan di situs web Iklan Jawa Barat murah sekali
setidaknya satu iklan Anda harus ada di Iklan Jawa Barat unikbaca.com ini, agar pengunjung
atau pengakses dapat mencari dan tahu usaha Anda, posting iklan di Iklan Jawa Barat murah
🎁 Hari ini sebar iklan massal murah ke 1.050 web! DISKON!

Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
thumbnail

Tradisi Jamasan: Warga Berebut Banyu Klemuk di Keraton

Sejumlah masyarakat Jawa ramai-ramai berebut air bekas mencuci sejumlah barang yang mereka anggap sebagai jimat, seperti keris dan kereta keraton, pada acara rutin yang yang disebut Jamasan tanggal Kliwon di Keraton Yogyakarta, Selasa (28/10/2014). Seperti Jamasan 23 kereta kuno milik di Museum Kereta Keraton Yogyakarta, yang dirutinkan setiap tahun, bertepatan Selasa Kliwon ataun Jumat Kliwon minggu pertama bulan Syuro.

 Tradisi Jamasan: Warga Berebut Banyu Klemuk di Keraton
MUKHIJAB /*PR*
ABDI Dalem Museum Kereta Keraton Yogyakarta menyiapkan kereta kuno yang akan dicuci “Jamasan” dengan air khusus, Selasa (28/10/2014). Upacara Jamasan benda berharga (jimat) Keraton dilaksanakan setiap Selasa Kliwon atau jumat Kliwon peertama pada bulan Syuro (muharam).*
Tradisi Jamasan tersebut masih mendapatkan perhatian warga, yang masih memercayai air bekas cucian memiliki tuah atau khasiat, terutama efek psikologis. Mereka yakin, misalnya jika dipakai membasuh muka atau mandi akan membuat seseorang awet muda dan sehat, untuk menyiram tanaman menjadi subur dan panennya bertambah banyak.

Kepercayaan atas mitos tersebut, menjadi magnet warga untuk mengerumuni prosesi Jamasan dan berebut air bekas cucian kereta yang disebut dalam masyarakat Jawa dengan istilah banyu klemuk.

Orang-orang tersebut berdatangan dari sejumlah daerah, ke Museum Kereta Keraton Yogyakarta Jalan Rotowijayan, Kecamatan Kraton Yogyakarta beberapa jam sebelum pemandian kereta. Mereka membawa botol plastik atau wadah lain untuk menampung air bekas cucian kereta.

Sebagian air yang diperoleh pengunjung untuk membasuh muka, badan, atau disiram ke tanaman atau barang lainnya di rumah atau di sawah mereka. “Air Jamasan yang saya bawa ke rumah untuk menyiram tanaman di sawah”, kata pengunjung Jamasan asal Bantul.

Pembasuhan kereta kraton dipimpin abdi dalem Keraton yang bergelar Penawu Joyo Wasito beserta prajurit lain yang ditunjuk. Tidak semua prajurit kraton boleh memandikan kereta, pejabat yang ditunjuk harus bersesuaian dengan tugas dan keahlian serta keilmuannya yang berkaitan dengan perawatan benda keramat.

Satu persatu kereta dikeluarkan sampai kereta ke 23, sesuai aturan internal Keraton Yogyakarta, kereta tertua usianya yang paling awal dimandikan, yaitu Kanjeng Kiai Jimat (1750), kereta yang dipakai oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Penawu Joyo Wasito menyatakan Jamasan harus dilakukan rutin setiap tahun terhadap semua benda keramat milik kraton dan waktunya dijadwalkan secara khusus. “Jamasan kereta kencana di Museum Kereta Kraton jdawalnya jelas. Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon pertama pada bulan Syuro. Semua benda pusaka keraton harus dicuci, tidak boleha da yang tertinggal atau terlupakan tidak dicuci,” katanya.

Sumber: Mukhijab/*Pikiran Rakyat** Rabu, 29 Oktober 2014
thumbnail

Lembur Salawe Isinya Hanya 25 Rumah

DARI sekian banyak tempat di Tatar Galuh Ciamis, ada satu wilayah yang sejak zaman dulu hingga saat ini masih kental dengan tradisinya, yakni Lembur Salawe. Lokasinya di Dusun Tungggarahayu, Desa/Kecamatan Cimaragas, Kabupaten Ciamis.

 Lembur Salawe Isinya Hanya 25 Rumah
NURHANDOKO WIYOSO/*PR*
JURU pelihara situs cagar budaya Sang Hyang Maharaja Cipta Permana Prabu Galuh Salawe Iswanto Tirtawijaya dan Jagabaya Tanto Herdianto berdiri di pintu gerbang masuk Lembur Salawe, di Dusun Tunggarahayu, Desa/Kecamatan Cimaragas, Kabupaten Ciamis. Sejak dulu, di tempat tersebut hanya dihuni 25 tugu atau kepala keluarga.*
Sesuai namanya yaitu Salawe yang berarti 25. Di wilayah hanya di huni 25 tugu atau kepala keluarga.

Lokasi tersebut berada di sisi jalur alternatif Ciamis-Kota Bandar, lewat Kecamatan Cimaragas. Berjarak sekitar 400 meter dari Situs Sang Hyang Maharaja Cipta Permana Prabudigaluh Salawe. Situs yang juga menyimpan sebanyak 25 petilasan itu cukup asri karena banyak terdapat pohon besar.

“Sejak zaman nenek moyang sampai sekarang di lembur Salawe hanya dihuni 25 tugu atau kepala keluarga. Jumlah rumah juga hanya 25,” tutur Juru Pelihara Situs Sang Hyang Maharaja Cipta Permana Prabudigaluh Salawe, Iswanto Tirtawijaya (25), Rabu (5/10/2014).

Didampingi Jagabaya Tanto Herdianto (34), dia mengungkapkan, apabila ada keturunan tugu hendak membangun rumah baru, dia harus di luar lembur Salawe.

“Pada intinya jumlah tugu tidak pernah kurang atau bertambah, tetap 25,” katanya.

Seiring dengan perkembangan zaman, rumah tradisional yang sebelumnya berupa rumah panggung, saat ini sudah banyak yang diganti dengan rumah semipermanen. Meskipun demikian, menurut Iswanto, banyak warga yang kembali menginginkan membangun rumah tradisional.

“Tidak hanya bentuk rumah panggung, beberapa bagian ruangan dalam rumah juga ada bagian-bagiannya. Misalnya kamar, dapur, tempat menyimpan hasil panen dan lainnya,” jelasnya.

Perkembangan zaman tidak mengurangi atau melunturkan warga Salawe mempertahankan tradisi. Misalnya misalin atau ngikis yang digelar menjelang bulan Puasa.

Sebelum panen, warga juga melakukan ritus berdoa agar hasil mendatang melimpah serta bebas dari serangan hama.

“Sampai sekarang tradisi Misalnya misalin dan ritus menjelang panen masih kami pertahankan. Banyak nilai yang terkandung dalam kegiatan tersebut, tidak hanya yang tersurat atau yang tampak saja, tetapi juga makna yang tersirat,” katanya.

Tanto menungkapkan, salah satu makna salawe yang juga menjadi ciri khas daerah ini, pada masa lalu erat kaitannya dengan kegiatan warga. Dalam sehari warga harus melakukan 25 pekerjaan untuk menghidupi keluarganya. Kegiatan tersebut diawali dari bangun tidur sampai tengah malam.

“Sehari harus melakukan 25 pacabakan, pagawean. Misalnya mencangkul kemudian menanam pohon pisang, menanam sayuran. Istirahat, makan, dan tidur tidak masuk hitungan,” tuturnya.

Dengan 25 pekerjaan itu, seorang kepala rumah tangga atau tugu dapat menghidupi keluarganya. “Jadi tidak perlu keluar dari Salawe. Banyak pekerjaan di daerah sendiri yang bisa untuk menghidupi keluarga,” ujar Tanto.

Sumber: Nurhandoko Wiyoso/*Pikiran Rakyat** Kamis, 16 Oktober 2014
thumbnail

Mengungkap Syukur Lewat Tarawangsa

JENIS Kesenian rakyat itu masih bertahan. Dimainkan dengan cara digesek, tetapi yang digesek hanya satu dawai yang paling dekat kepada pemain. Sementara dawai yang satunya lagi dimainkan dengan cara dipetik dengan jari telunjuk tangan kiri.

Itulah kesenian tarawangsa yang masih bertahan di Desa/Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang. Tarawangsa ditampilkan, Selasa (26/8/2014), dalam Upacara Adat Ngalaksa Nusantara di daerah wisata Rancakalong.

Mengungkap Syukur Lewat Tarawangsa
ADANG JUKARDI/*PR*
BUPATI Sumedang Ade Irawan (tengah) menari tarawangsa bersama warga saat menghadiri rangkaian Upacara Adat Ngalaksa Nusantara di Desa/Kecamatan Rancakalong, Selasa (26/8/2014). Upacara ini sebagai rasa syukur atas hasil panen.
Selain menampilkan tarawangsa, ditampilkan juga seni rengkong, rampak kendang, angklung, dan reak. Acara adat ini disaksikan ribuan warga. Bupati Sumedang Ade Irawan secara simbolis memukul gong tanda helaran budaya dibuka.

Acara dimulai dengan tampilan rengkong. Tarian rengkong merupakan pikulan yang terbuat dari bambu. Pikulan ini kemudian diberi beban kurang lebih sebesar 25 kilogram padi yang diikat dengan tali ijuk. Jika dibawa, pikulan ini akan menimbulkan suara akibat gesekan antarbatang pikulan dan tali ijuk. Bunyi yang dihasilkan menyerupai rengkong (sejenis angsa).

Dibelakangnya , diikuti angklung dan reak. Masyarakat sangat terhibur dengan gelaran kesenian khas masyarakat adat tersebut. Tarian ini ungkapan rasa syukur atas panen dihasilkan di daerah tersebut.

Acara dilanjutkan pada acara puncak, Upacara Adat Ngalaksa Nusantara. Selain diisi pembacaan sambutan, juga diwarnai acara seren sumeren (penyerahan) seikat padi sebagai simbol kemakmuran dan seikat daun hanjuang lambang kehidupan.

Seren sumeren itu dari Rurukan Rancakalong kepada Rurukan Nagarawangi yang tahun ini menjadi panitia penyelenggara. Hal ini sehubungan dengan Adat Ngalaksa setiap tahunnya dilaksanakan secara bergiliran di lingkungan masyarakat adat yang meliputi lima rurukan tersebut, antara lain Rurukan Rancakalong, Nagarawangi, Cibunar, Pasirbiru, dan Pamekar.

Acara Adat Ngalaksa Nusantara tahun ini yang digelar tujuh hari tujuh malam.

Bupati Ade Irawan, Kepala Dinas Pendidikan Eem Hendrawan, dan Camat Rancakalong, Edi Sumpena didaulat oleh sesepuh adat untuk menari tarawangsa.

Pakaiannya pun khas. Seperti halnya bupati. Sebelum menari, bupati dikenakan samping dan dibalutkan sejumlah selendang dilengkapi keris.

Konon menurut cerita, ketika seseorang sudah menari tarawangsa, ketika mendengar alunan musik tarawangsa dimana pun ia berada, ia akan langsung menari.

Menurut Ketua Rurukan Nagarawangi Oma Sutisna, arti dari Ngalaksa, melaksanakan keuntungan dari hasil panen, baik padi maupun tanaman lainnya. “Upacara Adat ngalaksa ini, sebagai wujud syukur kepada Yang Maha Kuasa, Allah swt, yang telah memberikan berbagai kenikmatan hasil panen yang melimpah,” ujarnya.

Sumber: Adang Jukardi/*Pikiran Rakyat** Rabu, 27 Agustus 2014
thumbnail

Rumah Adat Cikondang itu Masih Bertahan

EMBUSAN angin membuat api kian besar. Dalam sekejap 39 rumah panggung di Kampung Cikondang, Desa Lamajang, Kabupaten Bandung, terbakar.

Api cepat membesar karena 39 rumah itu terbuat dari bambu dan kayu dengan atap ijuk. Titik api berawal dari suatu rumah. Saat itu, penghuninya sedang membuat tape pisang di halaman. Api dari lubang pembuatan tape menjalar ke rumah.

Rumah Adat Cikondang itu Masih Bertahan
Situs Rumah Adat Cikondang (foto: Pikiran Rakyat)
Kebakaran itu terjadi pada 1942, tetapi warga masih mengingatnya. Tidak ada korban jiwa karena warga saling memperingatkan. Setelah api padam, warga bergotong royong membangun kembali rumah. Diperlukan waktu 39 hari untuk membangun 39 rumah panggung itu. sebenarnya, rumah di Kampung Cikondang berjumlah 40. Satu rumah tetap berdiri kokoh, walaupun sama-sama terkena percikan api dari ijuk yang berterbangan.

“Entah kenapa api malah padam saat merambat ke rumah ini. Itu salah satu bukti kekuasaan Allah swt,” tutur juru kunci Situs Rumah Adat Cikondang, Anom Juhana (67), saat dijumpai di lokasi rumah adat, Sabtu (22/2/2014).

Keberadaan Rumah Adat Cikondang merupakan saksi bisu kearifan lokal dan kebudayaan warga ketika itu. rumah panggung bermaterialkan bambu dan kayu menjadi simbol bahwa warga bisa hidup berdampingan dengan alam.

Model rumah panggung membuat keseimbangan alam karena lahan yang terpakai bangunan hanya sedikit. Warga pun yakin, rumah panggung membaut warga terhindar dari penyakit karena tidak lembab.

Dari segi kearifan lokal dan kebudayaan, Juhana menuturkan, warga sangat menjaga kesucian rumah. Tanpa terkecuali, bagi istri atau anak perempuan dewasa penghuni rumah.

Saat haid, penghuni perempuan tidak boleh memasuki ruangan utama rumah. Perempuan yang sedang haid, melakukan segala pekerjaan rumah dan tidur di sekitar bale.

Pada ruangan utama rumah, Juhana menuturkan, hanya ada ruang tengah, kamar, dan goah (ruang penyimpanan). Untuk menerima tamu, dilakukan di bangunan yang terletak beberapa meter dengan rumah utama dan disebut bale paseban.

Rumah Adat Cikondang telah mendapat pengakuan dari Pemkab Bandung sebagai situs cagar budaya. Lantaran bernilai sejarah dan budaya.

Rumah adat sering juga didatangi peziarah untuk bertawasul, mendoakan para leluhur agar diberikan keselamatan akherat oleh Allah swt. Peziarah dan peneliti tidak boleh hadir pada Senin, Selasa dam Jumat. Bagi peziarah perempuan tidak boleh masuk ke lingkungan rumah adat saat haid.

Setiap 15 Muharam, ada ritus tasyakur di Rumah Adat Cikondang. Pada ritus itu, warga bergotong royong membuat tumpeng lulugu dan tumpeng untuk dimakan bersama.

“Tumpeng lulugu, memiliki tiga congcot, ada yang terbuat dari beras biasa, beras ketan, dan beras huma. Filosofi setiap congcot, yakni mengingatkan manusia supaya membersihkan hati, berinisiatif berbuat kebaikan, dan menjauhi sifat serakah,”tutur Juhana.

Sumber: Satira Yudatama/*Pikiran Rayat* Senin, 24 Februari 2014
thumbnail

Kebersahajaan di Kampung Religius (Kampung Adat Mahmud)

MEMASUKI Kampung Adat Mahmud, napas religius tampak terasa. Meski sejumlah bangunan telah tersentuh arsitektur modern, selebihnya rumah-rumah masih bersahaja. Nuansa keislaman terasa dari jajaran penjual busana dan aksesori di dekat masjid. Tampak jongko kopiah, baju koko, dan gamis, mukena, hingga tasbih. Ada juga yang menjajakan Alquran dan buku-buku agama Islam lainnya.

Kebersahajaan di Kampung Religius (Kampung Adat Mahmud)
USEP USMAN NASRULLOH/*PR*
MAKOM Eyang Mahmud di Kampung Adat Mahmud, Desa Mekarrahayu, Kecamatan Margaasih, Kabuapten Bandung. Kampung Mahmud dibangun sekitar abad ke 15 masehi. Merka menempati daerah seluas 4 hektar yang dihuni oleh sekitar 200 keluarga oleh Eyang Abdul Manaf.
Secara administratif. Kampung Adat Mahmud berada di wilayah Desa Mekarrahayu, Kecamatan Margaasih, kabuapten badnung. Lokasi Kampung Mahmud berada di RW 04. Di sana hanya ada dua RT, yaitu RT 01 dan RT 02. Akses menuju Kampung Adat Mahmud dari Kota Bandung juga kian mudah dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.

Kampung Mahmud dibangun sekitar abad ke-15 masehi. Mereka menempati daerah seluas 4 hektar yang dihuni oleh sekitar 200 keluarga. Sementara mayoritas mata pencaharian penduduknya bekerja sebagai petani.

Pendiri Kampung Mahmud adalah Eyang Abdul Manaf. Berdasarkan beberapa sumber, Eyang Abdul Manaf adalah salah seorang leluhur yang merupakan keturunan dari Sultan Mataram. Salah seorang putra Sultan Mataram adalah Syahid Abdurrahman yang memiliki putra yang bernama Pangeran Atasangin. Pangeran ini kemudian memiliki putra, yaitu Dipatiukur Agung yang kemudian berputrakan Pangeran Wangsanata.

Dalem Nayasari yang menyebarkan Islam di Tarogong Garut, merupajan putra Pangeran Wangsanata. Dalem Nayasari kemudian memiliki putra bernama Pangeran Nagadirdja dan kemudian berputrakan Eyang H Abdul Manaf.

Eyang Abdul Manaf meninggalkan kampung halamannya menuju ke tanah Suci Mekah. Pada suatu waktu, ia memutuskan untuk kembali ke tanah air. Sebelum kepulangannya ke tanah air, di dekat Masjidil Haram ia memanjatkan doa kepada yang mahakuasa. Dalam doanya, ia meminta suatu kampung yang bebas dari penjajah. Sekembalinya ke tanah air, tepatnya di tatar Sunda, ia mencari lahan untuk tempat perkampungan. Pencarian berakhir setelah ditemukan lahan rwa yang terdapat di pinggiran Sungai Citarum. Satu demi satu rumah penduduk bermunculan di sana, hingga akhirnya membentuk suatu kampung. Kampung itu kemudian diberi nama Mahmud.

Hingga kini, Eyang Abdul Manaf mempunyai tujuh generasi penerus. Keberadaan meraka masih eksis hingga kini. Sebagai masyarakat yang masih menajga tradisi leluhurnya, warga Kampung mahmud sangat mencintai dan menghormati leluhurnya. Sebagai bukti kecintaan, penghargaan, dan penghormatan terhadap para leluhur, mereka memelihara makamnya dengan baik.

Terus berkembang
Awalnya keberadaan Kampung mahmud seperti terpencil. Namun, sejak dibangunnya sebuah jembatan besar hingga dapat menembus kampung tersebut, jembatan inilah seolah memutus keterasingan waraga Mahmud dengan dunia luar.

Rumah asli penduduk Kampung Adat Mahmud adalah rumah bersahaja, sederhana dengan dinding bilik bambu, tidak bertembok, tidak berkaca, serta berbentuk panggung. Selain merupakan aturan adat, warga sangat menjunjung kesederhanaan dan tak saling menonjolkan diri.

Pilihan membangun rumah panggung sebenarnya didasarkan atas fakta bahwa tanah di perkampungan Mahmud sangatlah labil karena berdiri di atas tanah bekas rawa di pinggiran Sungai Citarum.

Sayangnya, pemandangan dulu lain dengan sekarang sebagai bentuk gerusan zaman. Kini, di sssssana sini kini mulai terlihat rumah-rumah beton bertembok dan menggunakan kaca. Setiap sudut rumah yang berjajar, terparkir motor.

Pada awal terbentuknya Kampung Mahmud ini, Eyang Abdul Manaf melarang penduduk membuat lubang sumur, tembok, dan kaca. Eyang Abdul manaf juga melarang penduduknya untuk memeliahra angsa dan kambing sebagai ternak, serta dilarang memiliki beduk dan gong untuk menghindarkan masyarakat dari ancaman penjajah. Wajar saja, akrena kampung itu dulunya merupakan tempat persembunyian para pejuang.

Selain terdapat makam Eyang Abdul manaf, di Kampung Mahmud terdapat sejumlah makam lainnya. Makam-makam ini sering didtangi para peziarah. Tak sedikit pula para peziarah yang sengaja menginap di sana hingga berhari-hari. Kebanyakan peziarah datang pada bulan Mulud.

Jika ingin menuju ke Kampung Mahmud, ada sejulmah alternatif rute yang dapat ditempuh menuju Kampung Mahmud. Terdapat angkutan kota (angkot) yang langsung menuju ke sana, yaitu jurusan Tegallega-Mahmud. Angkot lainnya yang melintas adalah jurusan Cipatik. Sayang, kini jalan-jalan menuju ke Kampung Adat Mahmud rusak berat. Padahal, kampung itu merupakan salah satu aset wisata religi di Kabupaten Bandung.

Sumber: Ahmad Yusuf/*Pikiran Rakyat*, Senin 8 Juli 2013
thumbnail

Pusaka-pusaka di Bumi Alit Kabuyutan Disucikan

Tepat pada 12 Rabiul Awal yang kerap disebut Maulid atau Sura menjadi momentum bagi sebagian masyarakat di Jawa Tengah maupun Jawa Barat untuk melaksanakan tradisi mencuci benda-benda pusaka. Tak terkecuali di Situs Bumi Alit Kabuyutan, Desa Lebakwangi, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, yang mengadakan acara serupa, Selasa (14/1/2014).

Cagar budaya yang luasnya sekitar 600 meter persegi penuh sesak oleh manusia. Apalagi, saat digelar upacara pencucian benda-benda pusaka peninggalan zaman perunggu.

Acara diawali dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. Menurut sesepuh Bumi Alit Kabuyutan, Tatang Tarmana, acara yang digelar setiap 12 Rabiul Awal (Maulid) tersebut juga dipergunakan ajang silaturahmi keluarga besar Kabuyutan maupun masyarakat Kecamatan Arjasari. “Anggota keluarga yang terikat tali silsilah Kabuyutan pasti akan datang meskipun mereka tinggal di luar Kabupaten Bandung, bahkan yang berada di luar Pulau Jawa,” kata Tatang.

Silaturahmi antarwarga, kata Tatang, juga ditandai dengan makan bersama (botram) dengan warga. Mereka membuka bekal makanan masing-masing.

“Rasa kekeluargaan maupun persaudaraan terus kami jaga. Bentuknya bisa sederhana seperti makan bersama di areal Situs Bumi Alit Kabuyutan,” kata Tatang

**

Pusaka-pusaka di Bumi Alit Kabuyutan Disucikan
Foto: bumialitkabuyutan.blogspot.com
Puncak acara yang dinanti-nanti ratusan warga yang hadir adalah dengan pencucian (ngarumat) benda-benda pusaka milik Bumi Alit Kabuyutan. Ratusan warga berebut air sisa pencucian benda-benda pusaka yang dianggapnya bisa mendatangkan manfaat dan berkah untuk kehidupannya.

Pusaka yang dicuci diantaranya seperangkat gamelan goong renteng Embah Bandong, kujang, buli-buli (tempat menyimpan wewangian), tombak, dan sumbul.

“Khusus sumbul ditutup kain putih dan tidak boleh dibuka sama sekali oleh siapa pun. Lapisan penutup luar boleh dibuka ketika sudah rusak dan diganti dengan yang baru. Namun, tetap saja tidak boleh melihat wujud asli sumbul,” tuturnya.

Menurut Tatang, keturunan Kabuyutan Lebakwangi boleh membuka sumbul asalkan sudah bisa membuka rahasia yang ada pada dirinya. “Makna ini sebagai upaya pembelajaran agar kita melakukan introspeksi diri sebelum mengoreksi orang lain,” tutur Tatang.

Sementara itu, Rucita yang kerap dipanggil Deden Sego mengatakan tradisi pencucian barang-barang pusaka milik Bumi Alit Kabuyutan sudah terjadi sejak lama. “Air dari cucian ditampung lalu diperebutkan ratusan warga yang hadir. Hanya, air itu disarankan sebatas mencuci muka dan tidak boleh diminum karena ada unsur karat dari besi benda pusaka,” katanya.

Apalagi, mutu air untuk mencuci benda pusaka juga saat ini juga kurang baik karena sebagian tercemar limbah rumah. “Kalau dulu air di Desa Lebakwangi masih bagus karena lingkungan alamnya masih terjaga,” kata Rucita.

Sumber: Sarnapi/*Pikiran Rakyat** Rabu, 15 Januari 2014
thumbnail

Upacara Hajat Sasih untuk Kaum Lelaki

MENJELANG Ramadan, berziarah ke makam leluhur atau orang tua menjadi tradisi bagi kebanyakan umat Islam di Indonesia. Demikian juga bagi Muslim di Kampung Naga, kampung adat yang terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya.

Bedanya, sebagai sebuah entitas komunitas adat yang khas, Kampung Naga tak sekadar berziarah dalam menyambut bulan penuh berkah setiap tahunnya. Ziarah terangkai dengan ngariungan atau berdoa bersama dalam tradisi yang disebut upacara hajat sasih.

Upacara tersebut merupakan upacara yang hanya digelar saat hari-hari besar agama Islam. Dalam setahun, ada enam kali upacara hajat sasih, yaitu saat Tahun Baru 1 Muharam, Maulid Nabi, Jumadil Akhir, Nisfu Sya’ban, Idulfitri, dan Iduladha.

Lantas, kapan hajat sasih menjelang Ramadan digelar? Kepala Adat Kampung Naga, Ade Suherlin mengatakan, tradisi hajat sasih menjelang Ramadan digelar sekaligus dengan Nisfu Syaban yang pada tahun ini jatuh pada akhir bulan Juni.

Nisfu Syaban menjadi momen yang dinilai penting bagi sebagian kalangan umat Islam karena sang Khalik berjanji akan mengampuni dosa dan mengabulkan permintaan bagi mereka yang mendekatkan diri dan memperbanyak doa pada malam tersebut. Nisfu Syaban juga menjadi bulan terdekat dengan Ramadan (diapit oleh Rajab dan Ramadan) sehingga tradisi upcara adat dilangsungkan bersama.

Uniknya, hajat sasih yang melibatkan warga Kampung Naga, baik yang berdomisili di dalam maupun luar kampung tersebut, hanya diikuti kaum lelaki. Pada saat itu, kaum lelaki diwajibkan mengenakan jubah putih dalam menjalankan tradisi saklar tersebut.

Sementara itu, kaum perempuan yang tidak turut berziarah maupun ngariungan, terkonsentrasi di dapur. Mereka berkewajiban menyediakan aneka makanan khususnya tumpeng. Makanan itu nantinya disajikan seusai ngariungan yang dipimpin kuncen.

Tradisi hajat sasih memang tergolong sederhana. Rangkaiannya lebih banyak bermuatan doa sebagai upaya mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Bagi pengunjung yang bertandang ke Kampung Naga, diperbolehkan menyaksikan dan mengabadikan upacara hajat sasih.

Namun, menurut Ade, pada momen tertentu ada semacam larangan. Itu semata-mata untuk menyempurnakan kekhusukan interaksi warga Kampung Naga dengan Tuhan yang diimaninya, Allah SWT.

Sumber: Amaliya/”Pikiran Rakyat” Senin, 8 Juli 2013

Marhaban Ya Ramadhan
thumbnail

MAPAG SRI, Cara Petani Syukuri Hasil Bumi

MAPAG SRI Cara Petani Syukuri Hasil Bumi
SAAT yang paling ditunggu petani adalah panen. Ketika itu, jerih payah mereka berbulan-bulan, sejak menanam hingga merawat, bisa terbayar. Maka tak heran jika berbagai bentuk perayaan digelar sebagai bentuk rasa syukur. Berkaitan dengan panen, di beberapa daerah di Indramayu, dikenal tradisi dengan istilah “Mapag Sri”.

Dalam bahasa Jawa, “mapag” berarti “menjemput”, sedang “sri” bermakna padi. Secara sederhana, “mapag sri” bisa diartikan sebagai tradisi menjemput padi, atau menjemput panen. Waktu pelaksaannya beberapa saat sebelum “panenraya” di desa tertentu, seperti yang digelar di Desa Juntinyuat Kecamatan Juntinyuat Kabupaten Indramayu, Minggu (31/3). Tradisi setahun sekali ini, digelar saat panen diperkirakan akan berlangsung baik.

Sejak pagi, sejumlah petani memulai aktivitas dengan menghias arak-arakan berupa sepasang “pengantin”, semacam boneka laki-laki dan perempuan. “Pengantin” tersebut kemudian di masukkan ke dalam kotak penuh hiasan dengan bentuk dasar berupa burung garuda. Di dalam kotak tersebut, digantungkan pula sejumlah ornamen berupa beragam hasil bumi.

Kemudian sekitar pukul 9.00 WIB, arak-arakan tersebut dibawa ke balai desa dengan diiringi nayaga lengkap beserta sindennya. Sementara di balai desa, petani lain dan sejumlah tokoh masyarakat menyiapkan arena untuk pertunjukan wayang kulit (berisi cerita seputar kehidupan agraris nenek moyang masyarakat setempat). Setibanya di balai desa “pengantin” dikeluarkan dari dalam garuda dan duduk di kursi layaknya mempelai pada resepsi pernikahan. Tak lama berselang pertunjukan wayang kulit dimulai.

Tepat tengah hari, selepas salat duhur, pertunjukan wayang kulit kembali dilanjutkan. Namun sebagian besar petani kembali membawa arak-arakan berkeliling di Desa Juntinyuat. Kali ini jumlah rombongan bertambah. Selain “pengantin”, garuda, dan nayaga, puluhan becak pun ikut ambil bagian. Rombongan ini kemudian berkeliling desa. Di bagian depan, ada anggota rombongan yang membawa kotak untuk diisi “saweran” dari warga yang sudah menunggu di pinggir jalan. Sementara di bagian tengah, ada juga anggota rombongan yang membawa ember, diantaranya berisi beras dan sejumlah jenis bunga. Dia bertugas menaburkan isi ember tersebut di setiap persimpangan jalan yang dilintasi.

Sekembalinya ke balai desa “pengantin” kembali disimpan pada tempatnya.

Sementara gelaran wayang terus berlanjut hinga tengah malam. Dalam beberapa hari ke depan, para petani Desa Juntinyuat siap menuai hasil jerih payah mereka di sawah. Hari Senin (1/4) mereka menuntaskan Mapag Sri, cara petani mensyukuri hasil bumi.

Sumber: Teks dan Foto J Pambudi / Pikiran Rakyat, Senin 1 April 2013
thumbnail

Makna Filosofis Dalam “Iket” Sunda

Makna Filosofis Dalam Iket SundaMakna Filosofis Dalam Iket Sunda
TIRTA GUNTARA
Generasi muda saat ini banyak yang gandrung dengan pemakaian “iket“. Mereka memiliki cara pandang yang berbeda dalam membentuk “iket”, tetapi tetap memiliki acuan terhadap satu garis penciptaan karya “buhun” (kuno)

"…saceundeung kaen" (Bujangga Manik, isi naskah baris 36)

PENGGALAN kalimat tertulis di atas terdapat dalam naskah kuno Bujangga Manik yang menceritakan perjalanan Prabu Jaya Pakuan, seorang Raja Pakuan Pajajaran yang memilih hidupnya sebagai resi. Naskah diperkirakan ditulis sekitar abad ke-14. Isi naskah terdiri atas 29 lembar daun nipah yang masing-masing berisi 56 baris kalimat, terdiri atas 8 suku kata.

Kalimat “…saceundeung kaen” mengandung arti selembar kain yang sering digunakan sebagai penutup kepala. Di tatar Sunda disebut totopong, iket, ataupun udeng. Pemakaian iket berkaitan dengan kegiatan sehari-hari ataupun ketika ada perhelaan resmi seperti upacara adat dan musyawarah adat. Untuk beberapa waktu, umumnya kain penutup kepala hanya disebut totopong, iket, atau udengtotopong, iket, atau udeng. Tidak ada bukti tertulis mengenai sumber sejarah tentang penamaan iket atau yang sekarang disebut rupa iket. Akan tetapi, dalam perkembangan zaman, penamaan untuk rupa iket menjadi bagian dari kebudayaan yang mengandung nilai dan makna tersendiri.

Penamaan atau rupa iket dikategorikan sesuai zamannya, yaitu iket buhun (kuno) dan iket kiwari (sekarang). Untuk iket buhun sendiri ada yang berupa bentuk iket yang telah menjadi warisan secara turun-temurun dari para leluhur, ada pula rupa iket yang lahir dari kampung adat. Sementara itu, untuk iket kiwari, iket tersebut merupakan rekaan dari beberapa orang yang memiliki rasa kebanggaan terhadap budaya iket buhun dan kreativitas dari nilai kearifan lokal.

Bakhan, beberapa rupa iket kiwari itu sendiri masih memiliki ciri yang mengacu pada pola rupa iket buhun. Beberapa nama rupa iket buhun yang dikenal oleh sebagian besar umumnya adalah Barangbang Semplak, Parekos Jengkol, Parekos Nangka, dan Julang Ngapak. Parekos atau paros memiliki arti “menutup”. Yang berarti tipe rupa iket yang menutup bagian atas kepala atau hampir membungkus.

Dalam perupaan iket, di dalamnya lerkandung filosofi. Hal inilah yang membuat iket itu sendiri menjadi salah satu warisan leluhur yang mengandung nilai yang begitu tinggi adanya. Seperti filosofi yang terkandung dalam rupa iket Julang Ngapak yang konon dahulunya dipakai khusus oleh para pandita kerajaan atau disebut purahita.

Filosofi yang terkandung berdasar kepada laku hidup seekor burung Julang (Sundanese wrinkled hornbill). Tipe burung ini sebelum mereka mendapatkan sumber air tersebut, mereka tidak akan berhenti mencari. Karakter inilah yang diadopsikan menjadi simbol Julang Ngapak, yaitu bahwa kita jangan pernah lelah mencari sumber kehidupan (ilmu, darma, dan jatidiri) sebelum mencapai hasil yang diinginkan.

Di luar rupa atau penamaannya, iket Sunda sendiri mengandung nilai makna filosofi yang dikenal dengan sebutan Dulur Opat Kalima Pancer. Dulur Opat merupakan empat inti kehidupan yaitu api, air, tanah, dan angin. Dan Kalima Pancer mengandung makna yaitu berpusat pada diri kita sendiri. secara garis besar, Dulur Opat Kalima Pancer memiliki arti bahwa empat elemen inti tersebut terdapat pada diri kita dan berpusat menyatu sebagai perwujudan diri.

Mengenai iket kiwari yang telah berkembang saat ini, penamaan dan bentuk tetap berdasar kepada pola rupa iket buhun. Tanpa mengurangi nilai luhur dari warisan leluhur, begitu pun iket kiwari memiliki nilai-nilai filosofi di dalamnya. Hal inilah yang menjadi bagian dari pelestarian budaya yang bersifat kreatif, tetapi tetap memegang teguh nilai kearifan lokalnya. Terutama di kalangan generasi muda. Mereka memiliki cara pandang yang berbeda dalam membentuk iket tetapi tetap memiliki acuan terhadap satu garis penciptaan karya buhun (kuno).

Komunitas Iket Sunda (KIS) sendiri merupakan bentuk kreativitas sebagai wadah dalam melestarikan dan memperkenalkan budaya iket terhadap kalangan muda.

Keberkaitan
Didalam konteks keberagaman, sesungguhnya ada keberkaitan erat antara nilai-nilai filosofi iket dengan fungsi penutup kepala dalam kaitan nilai Islam. Fungsi dari iket menurut Islam umumnya adalah bisa digunakan sebagai sajadah, pengganti tutup kepala. Hal itulah yang membentuk hubungan antara manusia dan Allah Yang Pencipta yang disebut hablumminallah. Fungsi sebagai hablumminanas adalah iket sebagai penyambung silaturahmi berdasarkan warisan budaya dan iket sebagai bagian dari cara saling memberi ilmu pengetahuan.

Dalam dunia Islam, dikenal serban atau sorban sebagai penutup kepala, sebagai bagian dari kelengkapan dalam salat atau beribadah. Memakai serban bagi umat Muslim adalah sunnah Nabi. Dalam beberapa hadis riwayat para sahabat Nabi Muhammad saw, mereka menceritakaan bahwa Nabi selalu menganjurkan agar memakai penutup kepala sebagai bagian dari kelengkapan pakaian salat dan bahkan di luar salat.

Di tatar nusantara sendiri, kita mengenal Wali Songo. Dari beberapa sumber sejarah, kesemuanya memakai penutup kepala. Menurut Oom Somara de Uci, sejarawan dari Rahagaluh, dahulu model rupa iket para wali diadopsi dari rupa iketCakraningrat yang merupakan warisan Prabu Cakraningrat yang memiliki kekuasaan kerajaan sekitar Rajagaluh majalengka. Iket yang dikemudian hari disebut iket Cakraningrat Rajagaluh ini mengandung nilai filosofi yaitu iket yang melindungi mustika; mastaka (kepala).

Ini bisa bermakna, mustika ini adalah kepala kita yang memiliki sumber dari sifat dan sikap kita di dunia dari sudut pandang manusia yang memiliki otak sebagai akal pikiran yang bisa memilih mana yang baik dan buruk. Bahkan, dalam perkembangan waktu, model iket Cakraningratini disebut pula iket para wali.

Perbedaan iket Cakraningkat ini dengan iket Sunda lazimnya yaitu terlihat dari model kainnya. Iket Sunda pada umumnya berupa kain segi empat, sedangkan iket Cakraningrat ini memakai kain persegi panjang sejenis karembong (selendang). Cara pemakaiannya rata-rata hanya diselipkan, tidak diiket atau ditali. Cara yang sama seperti pemakaian serban di kepala. Memang tidak ada sejarah tertulis sebagai bukti yang mendukung tentang iket Cakranignrat ini, tetapi kebedaannya menjadi bagian dari kekayaan budaya Sunda. Wallahu’alam bishawab

Sumber: Gugum Gumelar, pencinta budaya dan aktif di Komunitas Iket Sunda /*Pikiran Rakyat Edisi Sabtu, 23 Maret 2013
thumbnail

MUNJUNGAN, Ritual Desa di Indramayu

MUNJUNGAN, Ritual Desa di Indramayu
ilustrasi: Galura
Kebiasaan setahun sekali dalam menyambut datangnya musim hujan dan untuk memulai menggarap sawah, masyarakat Indramayu melaksanakan ritual munjungan, hajat lembur, atau sedekah bumi. Jararoh ke makam-makam luluhur (leluhur). Mendoakan para leluhur (karuhun), dan meminta ke Yang Maha Kuasa supaya hasil panen yang berlimpah (nyugemakeun).

Dalam pelaksanaan Munjungan biasanya dimeriahkan beragam hiburan dan parade (arak-arakan) warga desa. Tua muda melibatkan diri berduyun-duyun ke makam leluhur desa yang biasa disebut Mbah Buyut. Para perempuan (ibu-ibu) membawa baskom yang berisi tumpeng, telur dan bakakak ayam, teri, petek, lalab dan buah-buahan.

Di makam Mbah Buyut, tumpeng dan pernak-pernik hiasannya diserahkan ke Ki Kuncen, untuk diberi doa (parancahan). Selanjutnya tumpeng disimpan ditempat yang telah disediakan. Diluar lingkungan makam, berlangsung hiburan, seperti wayang kulit, sandiwara, wayang golek cepak, tarling, band, organ tunggal atau orkes dangdut. Hiburan ini terkadang berlangsung lebih dari dua hari dua malam.

Sebelum acara memberikan tumpeng, dari pagi sampai siang diadakan pawai (arak-arakan) yang menampilkan beragam hasil kreativitas warga. Untuk menarik minat warga, panitia menyediakan hadiah.

Dalam menggelar ritual munjungan tiap-tiap desa memiliki keunikan tersediri. Misalnya, di Desa Plumbon Kecamatan Indramayu, ada kebiasan lelang tumpeng. Tumpeng dengan ukuran besar dihiasi uang Rp 50 ribuan sampai Rp 100 ribuan. Lelang tumpeng ini harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah, dan pemenangnya akan diarak.

Di Desa Lajer Kecamatan Tukdana dalam ritual Munjungan banyak yang membawa hewan peliharaan: domba, kambing, sapi, kerbau. Hewan peliharan ini akan disembelih dan langsung diolah di area makam Mbah Buyut. Daging yang sudah diolah/dimasak, dihidangkan bagi warga yang datang ke tempat munjungan.

Warga Desa Gadingan dan warga Desa Mekargading di Kecamtan Sliyeg, dalam acara pawai (arak-arakan), tiap RT menampilkan hasil kreativitas warga bisa menghabiskan uang puluhan juta rupiah. Jumlah uang sebesar itu merupakan sumbangan dari warga untuk keperluan; membuat patung binatang, hiburan dangdut juga konsumsi.

Di Desa Larangan Kecamatan Lohbener terdapat enam makam Mbah Buyut. Dalam ritual Munjungan, pemerintah setempat (desa) mengadakan lomba buat warga di seputar makam leluhur (karuhun). Yang menjadi kriteria menilaian antara lain, ketertiban dalam pelaksanaan munjungan, kemeriahannya, keamanan, dan juga bisa tidaknya saling membahagiakan warga yang lain.

sumber: Undang Sunaryo/Galura**
thumbnail

Akhirnya, Dapat Juga Foto/Gambar Rupa Iket Sunda

Saat itu di akhir postingan tanggal 24 Juli 2011. Saya berharap mendapat gambar model-model/rupa iket Sunda.

Setelah lebih dari setahun setengah mencari. Akhirnya saya mendapat beberapa gambar model/rupa iket untuk d simpan di arsip kula. Gambar-gambar/foto para anggota Komunitas Iket Sunda (KIS) ini, bersumber dari koran Pikiran Rakyat Edisi Minggu 20 Januari 2013 (Iket Mengikat Loyalitas Budaya).


Barangbang Semplak
Barangbang Semplak


Candra Sumirat
Candra Sumirat


Kampung_adat_Dukuh
Kampung adat Dukuh


Parekos_Nangka
Parekos Nangka



Julang_Ngapak
Julang Ngapak


Koncer
Koncer


Parekos_Jengkol
Parekos Jengkol


Kebo_Modol
Kebo Modol



Mahkota_Wangsa
Mahkota Wangsa


Kole_Nyangsang
Kole Nyangsang


Parekos_Gedang
Parekos Gedang


Buaya Ngangsar
Buaya Ngangsar
thumbnail

Iket Mengikat Loyalitas Budaya

Iket Mengikat Loyalitas Budaya
Agus Roche (kiri) bersama anggota Komunitas Iket Sunda (KIS) memakai beragam iket Sunda. Munculnya pemakaian iket Sunda itu karena kecintaan anak muda terhadap budaya Sunda. Komunitas itu juga menanam benih kreasi variasi iket. (foto: Pikiran Rakyat)

Masih berbicara tentang iket Sunda. arsip kula sebelumnya telah menyimpan Mengenal Iket Sunda dan Lagih Ngulik Rupa Iket, nih . Untuk melengkapi catatan tentang iket Sunda. Saya akan menyimpan juga artikel “Iket Mengikat Loyalitas Budaya” milik Dewiyatini yang dimuat di media cetak Pikiran Rakyat Edisi Minggu 20 Januari 2013.



Iket Mengikat Loyalitas Budaya

Nu lima diopatkeun. Nu opat ditilukeun. Nu tilu, diduakeun. Nu dua, dihijikeun. Nu hiji jadi kasep (Yang lima dijadikan empat. Yang empat dijadikan tiga. Yang tiga dijadikan dua. Yang dua dijadikan satu. Yang satu menjadi tampan)”.

KALIMAT itu diucapkan pengajar Filsafat Seni Prof Yakob Sumardjo saat mengajar mahasiswa pascasarjana di Sekolah tinggi Seni Indonesia (STSI), Kota Banding. Menurut dia, filsafat sunda yang merujuk alam.

Apakah kalimat tadi dikenal di kalangan orang Sunda masa kini? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Mari melihat ke fenomena yang muncul kini, saat iket menjadi tren di kalangan anak muda. Iket semula digunakan oleh masyarakat adat, namun sekarang tak lagi demikian. Anak-anak muda dengan berbagai macam motif dan gaya memakai iket tampak di setiap sudut Kota Bandung. Ada apakah ini?

Terlalu banyak pertanyaan yang muncul. Tokoh masyarakat Sunda, Eka Santosa mengurai sejumlah jawaban yang memungkinkan hal itu terjadi. Menururt Eka, fenomena ini terjadi secara alami. Ini menunjukan adanya kerinduan akan tata nilai-nilai lokal. “Penyebabnya pada kejenuhan akan modernisasi yang tidak menyelesaikan masalah. Yang ada malah merumitkan tradisi, sehingga ada keingian kembali pada tata nilai tradisional,” katanya.

Iket yang dipakai oleh generasi sekarang adalah sebagai sebuah identitas. Mereka sengaja menciptakan kekhasan iket yang mereka pakai untuk menunjukan siapa mereka. “Padahal, pemakaian iket itu penuh dnegan pemaknaan diri,” ujar Eka.

Dia memberi contoh di tengah masyarakat Baduy yang menjadi iket sebagai identitas diri sejak lampau. Orang bisa membedakan dengan mudah dari Baduy manakah seseorang dilihat dari iket yang dipakainya. Selain itu, iket juga merupakan komitmen pada diri yang harus terus terjaga.

Budayawan Sunda Nana Munajat menerjemahkan iket sebagai batasan diri yang memakainya. Iket yang dipasang di kepala orang Sunda, agar pemakainya tidak ingkah (lepas) dan ngencar (lepas) dari kasundaan. “Iket itu sabagai ikatan bagi pemakainya.” Ucapanya.

Kebanggaan memakai iket sekaraang tinggal diarahkan pertanggungjawabannya melestarikan budaya lokal. Namun, tidak bisa dipungkiri berbagai macam kreativitas gaya memakainya. Dulu, menurut Nana, dikenal tujuh gaya memakai iket, diantaranya, parekos nangka, lohen, tutup liwet atau julang ngapak, barangbang semplak, balukar peunggas, sampai, dan kole nyangsang. “Munculnya banyak gaya memakai iket untuk kreativitas itu sah-sah saja. Karena iket juga tidak bisa diklaim begitu saja sebagai milik masyarakat Sunda. Daerah lain juga memiliki. Yang membedakan cara berpikir yang mesti selaras dengan pakaian yang digunakan,” kata Nana.

Nana juga mengapresiasi keinginan pemerintah mewajibkan memakai iket. Namun tidak hanya memakai, diisi pula makna dari iket itu. “Untuk apa kepala dipakaikan iket kalau isinya tetap ngencarngencar. Fungsi iket kan, agar kita tidak ingkah dari budaya dan agama,’ tutur Nana.

Kalimat yang diucapkan Prof. Yacob Sumardjo tadi sudah dikenal oleh orang Sunda sejak di masa lampau. Kalimat itu pula yang mudah diingat ketika melipat kain iket Sinda untuk dipasangkan di kepala. Yacob mengatakan filsafat alam itu pula yang ada dalam iket. Ia menggambarkan iket sebagai mandala (mata angin) yang memiliki pusat di bumi. Itu pula digambarkan dalam warna-warna dasar iket yang selalau dekat dengan alam. “ketika dari lima jadi satu, maka ia berusaha mendekatkan driri dengan Tuhan yang satu. Setelah dekat dengan Tuhan, maka pemakainya akan tampan luar dalam,” ujar Yacob.

Hal senada juga diungkapkan salah seorang pendiri Paguyuban Sundawani Robby Maulana Dzulkarnaen. Menurut dia, fenomena maraknya pemakaian iket, khususnya di kalangan muda bisa diartikan sebagai tanda bangkitnya budaya Sunda. Meski ini baru menjadi ciri, tapi diharapkan bisa mendongkrak kesadaran dalam bertingkah laku. “Malu dengan iket jika ternyata masih berbuat di luar Kasundaan,” katanya.

Robby melihat fenomena ini menjalari kaum muda. Dengan begitu, antara kaum muda dan kaum sepuh sama-sama menyadarkan diri. (Dewiyatini/”PR”)
thumbnail

Bubur Suro, Tradisi Bulan Muharram di Rancakalong

Bubur Suro, Tradisi Bulan Muharram di Rancakalong
Ritual Bubur Suro di Kecamatan Rancakalong Kabupaten Sumedang memperlihatkan perpaduan budaya agraris pengaruh India, Sunda, Jawa, dan Islam.

Setiap bulan Muharram, dalam bahasa Jawa bulan Suro, tanggal 9 dan 10, warga di Kecamatan Rancakalong membuat bubur Suro. Bubur yang dibuat dari berbagai macam umbi-umbian dan buah-buahan, semua dijadikan satu. Menurut Aki Anang Gunawan (75 tahun) sesepuh lembur Cijéré, Desa Garawangi, Kecamatan Rancakalong, dahulu bahan untuk membuat bubur Suro harus seribu macam/jenis. Tetapi sekarang sangat sulit untuk memenuhi syarat tersebut (seribu bahan). Supaya memenuhi syarat seribu macam bahan, bubur dicampur dengan pisang/cau Sewu.

Bubur Suro diperuntukan mengingat/memperingati Kanjeng Nabi Nuh. Nabi Nuh dalam peristiwa banjir besar, di kapalnya membawa berbagai macam umbi-umbian dan buah-bahan. Selama di atas kapal Nabi Nuh beserta para pengikutnya tak sampai merasakan kelaparan.

Dinamai bubur Suro karena dibuatnya pada bulan Suro, bulan pertama dalam penanggalan Jawa. Oleh leluhur Rancakalong dahulu, bubur Suro dipadukan dengan tradisi agraris. Itu sebabnya sekarang dalam ritual bubur Suro, terdapat ritual-ritual yang bertalian dengan tradisi agraris.

Sehari sebelum bubur Suro, malamya berlangsung ritual yang terasa sakral dan penuh mistik, di dalamnya ada juga pengaruh Islam. Disediakan sesajen berupa bubur beureum/merah, bubur bodas/putih, puncak manik, kupat dupi tangtang angin, bakakak hayam/ayam. Tujuh macam rujak, tujuh macam kembang/bunga, tak tertinggal parupuyan terus menyala membakar kemenyan.

Sesajen juga dilengkapi dengan kepala boneka kayu berbentuk wanita memakai karémbong/kain penutup kepala. Disamping boneka ada balutan iket yang berisi uang. Boneka wanita melambangkan Sri Pohaci yang memelihara padi, kalau di Jawa disebut Dewi Sri. Iket yang membungkus uang melambangkan laki-laki.

Dengan demikian, walau bubur Suro untuk memperingati Nabi Nuh dalam peristiwa banjir besar. Tetapi oleh leluhur Rancakalong dikaitkan dengan ritual budaya agraris. Umbi-umbian dan buah-buahan semuanya hasil pertanian, tanah menjadi media tanamnya. Itu sebabnya dalam sesajen disertakan boneka Sri Pohaci sebagai lambang kesuburan. (sumber: Nanang S./Galura; gambar: Addor Smd/Facebook)
thumbnail

Akhir Zaman dari Kaca Mata Budaya

Akhir Zaman dari Kaca Mata Budaya
RETNO HY/PR
PERMUKIMAN Kampung adat Dukuh, Desa Cijambe, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut. Masyarakat setempat mengenal kiamat seperti mengingatkan untuk selalu memegang teguh warisan dari leluhurnya.*
MENDENGAR kata “Kiamat” pasti membuat kita bertanya-tanya kapankah itu. apalagi, berbagai macam ramalan yang memprediksi kedatangan hari akhir zaman itu terus diungkap. Berbagai upaya juga yang membuat teorinya, baik untuk mengiakan maupun membantah ramalan itu.

Mengupas ramalan kiamat bukanlah hal yang baru dikalangan masyarakat adat. Kiamat seakan mengingatkan mereka untuk terus berlaku sesuai ajaran adat dan keyakinannya. Seperti yang dilakukan masyarakat adat di Kampung Dukuh, Desa Cijambe, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, yang memegang teguh warisan dari leluhurnya.

Juru bicara masyarakat Kampung Dukuh Yayan Hermawan, menyebutkan ada sebuah upacara di masyarakat adat Kampung Dukuh terkait kiamat. Namun, dalam upacara itu tidak disebutkan waktu kiamat itu datang. Tidak seperti ramalan suku maya yang menyebut dengan pasti waktu kiamat itu. Upacara yang disebut ngaguar uga (mengupas ramalan) membahas pertanda mendekati akhir zaman. “Hal itu sebagai pangeling bagi masyarakat agar berlaku sesuai tata yang sudah dibuat,” kata Yayan.

Dalam ngaguar uga, dipaparkan seperti apakah tanda-tanda mendekati akhir zamana. Pertama, banyak terjadi musibah seperti bencana alam dimana-mana dalam waktu yang bersamaan atau berdekatan. Kedua, sudah tidak ada lagi kepatuhan dan kepatutan dalam hubungan orang tua dan anak. Yayan merincinya dengan mencontohkan seringnya terjadi perbuatan keji terhadap orang tua demikian juga sebaliknya yang dilakukan orang tua terhadap anaknya. “Seperti anak yang membunuh orang tuanya ataupun orang tua yang bersetubuh dengan anaknya,” uacap Yayan.

Yang Ketiga, keleluasaan melanggar aturan yang dibuat terutama yang sudah digariskan oleh Tuhan Yang Masa Esa. Dalam hal ini, kata Yayan, yang benar sering dikatakan salah, tapi yang salah dianggap benar. Keempat, pergaulan lain jenis yang bisa disamakan dengan pergaulan ala binatang. “Wanita kerap memurahkan auratnya dan sepertinya sudah hilang rasa malunya,” ujar Yayan.

Tanda Kelima, orang tua akan sangat kesulitan mendidik anaknya karena terbawa arus zaman. Dan yang terakhir, sering ditemukan anak yang lahir tanpa ayah atau perkara anak yang dibuang. “Tanda-tanda ini selalu disampaikan dalam ‘ngaguar uga’ setiap muludan sebagai bentuk peringatan agar manusia berhati-hati dalam bertingkah laku,” kata Yayan.

Pengingatan tentang akhir zaman juga disampaikan dalam relief-relief yang terukir di Candi Borobudur. Di kaki candi, terdapat 160 pigura relief yang dinamakan Karmawibhangga. Secara keseluruhan relief ini merupakan gambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir-hidup-mati (samsara) yang tidak pernah berakhir.

Sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang menghiasi dinding batu yang terselubung itu menggambarkan hukum karma. Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita seri (serial), tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai korelasi sebab-akibat. Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang diperolehnya, tetapi juga tentang perbuatan baik manusia dan pahalanya.

Menururt antropolog lulusan Unpad, Fuad Abdulgani, munculnya ramalan-ramalan tentang akhir zaman sekarang ini merupakan hal yang wajar. Itu adalah bentuk kesadaran kolektif masyarakat terhadap kondisi riill yang dihadapinya saat ini. “Sekalipun itu diprediksi oleh individu tertentu malah menjadi pandangan yang kontekstual, “ kata Fuad.

Dalam masyarakat yang mengenal peradaban, ramalan tentang akhir zaman terus mengemuka. Fuad mencontohkan munculnya ramalan “zaman edan” (kaliyuga) pada masyarakat Jawa yang disebut oleh Ronggo Warsito. Hal ini mengemuka sepanjang abad 19 dalam situasi ketika keraton ditundukan oleh penjajah yang menyengsarakan rakyat.

Namun, kondisi itu malah memunculkan harapan baru yang menunggu munculnya “ratu adil”, yang bisa memberikan tatanan baru yang lebih baik. Jadi sebenarnya, akhir zaman itu bisa diartikan mengakhiri masa kelam untuk membuka tatanan kehidupan baru yang lebih baik,” ujar Fuad.

Sumber: Dewiyatini/Pikiran Rakyat
thumbnail

Spiritualitas Masyarakat Sunda

Ketika berkunjung ke Bandung pada 1921, George Celemenceau, Perdana Menteri Prancis kala itu, menyatakan bahwa Bandung adalah The Garden of Allah. George celemenceau terpesona akan lingkungan alam Jawa Barat yang asri dikelilingi gunung menjulang, berhutan rimbun dan hijau, kaya mata air panas ataupun dingin.

Bagi orang Sunda, lingkungan alam yang harmonis membentuk diri dan pandangan hidupnya. Kecenderungan spiritualitas yang kental tercermin dari nilai-nilai moralitas positif. Ini dapat ditelusuri dari naskah-naskah Sunda kuno, misalnya Amanat dari Galunggung. Naskah ini berisi pedoman bagi para pemegang kekuasaan. Dinyatakan bahwa apabila ingin menang perang, jangan suka bentrok, berselisih maksud, saling berkeras hanya pada keinginan sendiri.

Diajarkan pula agar orang Sunda berjiwa seperti padi, semakin berisi semakin merunduk; dan seperti sungai (patanjala), yang airnya terus mengalir dari hulu ke hilir sampai tujuan, yakni di muara.

Dengan pandangan hidup demikian, hidup dan kehidupan orang Sunda cenderung rendah gejolak, tipis friksi, jauh sengketa, familiar, dan kolegial.

Dari penelusuran sejarah, religiositas orang Sunda berasal dari Hindu (abad ke-5 s.d. abad ke-7), lalu Budha, dan berakulurasi dengan budaya spiritual Sunda (nilai-nilai kepercayaan pada Tuhan) sehingga menghasilkan akulturasi tiga sistem religi, Hindu, Budha, dan kepercayaan asli Sunda.

Sunda dan Islam
Kemudian, Islam masuk mewarnai spriritualitas orang Sunda. Orang Sunda yang telah memilki kecenderungan sprirtual religius menerima dengan damai ajaran Islam. Sebagian orang Sunda masih menggenggam nilai-nilai ajaran buhun (lama). Mereka menyembah atau menghormati arwah leluhur dengan pelbagai praktik ritual yang bertahan dan melembaga secara turun-temurun. Misalnya, pada masyarakat Baduy di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Demak, Banten Selatan.

Dalam kehidupan sehari-harinya, masyarakat Baduy memiliki berbagai pantangan (tabu). Pantangan ini didasarkan pada aturan-aturan adat (pikukuh) yang diwariskan oleh keluhur. Mereka beranggapan bahwa mereka tinggal di daerah yang suci atau sakral, mereka harus memelihara adat yang telah diwariskan secara turun temurun oleh leluhur. Berdasarkan adat itu. Mereka harus hidup sederhana dan bekerja keras secara seksama yang disebut tapa. Melalui tapa, mereka menghindari hidup mewah dan tidak mau meramaikan Negara. Menurut ungkapan Baduy, mereka lebih menekankan hidup jujur (bener) daripada hidup pintar, tetapi pandai menipu (pinter henteu bener). Dalam perkembangannya, ajaran Islam mewarnai agama Sunda wiwitan yang dipeluk oleh masyarakat Baduy.

Bagi masyarakat Baduy, berladang (ngahuma) merupakan kegiatan utama yang diajarkan oleh agama Sunda Wiwitan. Berbagai upacara adat yang mereka selenggarakan seperti ngalaksa dan kawalu, teritegrasi dengan ngahuma. Upacara kawalu dianggap sebagai cara persembahan kepada nenek moyang (karuhun) setelah panen padi. Upacara kawalu di Baduy dipimpin oleh pemimpin agama yang disebut Puun. Sementara upacara ngalaksa dipimpin oleh staf Puun yang sebut Jaro Dangka.

Di dalam praktik berladang (ngahuma), mereka memercayai adanya Dewi Padi yang disebut Pohaci Sanghyang Asri atau Nyi Pohaci. Menurut kepercayaan masyarakat Baduy, Nyi Pohaci di Kahyangan yang dianggap tempat roh manusia. Mereka sangat menghormati Nyi Pohaci karena, menurut mereka, dengan cara demikian mereka akan mulia. Mereka juga berharap bahwa kelak jika meninggal, rohnya akan dikirim kembali ke Kahyangan dan ditempatkan bersama-sama dengan Nyi pohaci.

Menurut adat masyarakat Baduy, bertani sawah (nyawah) menggunakan tekn0logi, seperti cangkul, pupuk kimia, pestisida, serta meracuni satwa liar dan ikan merupakan pantangan (tabu)- teu wasa. Mereka menghindari hal-hal tersebut karena dianggap sebagai tradisi baru. Sebaliknya ngahuma dianggap sebagai kewajiban dalam agama mereka. Maka setiap tahun keluarga Baduy harus menggarap ladang.

Ngahuma, dengan demikian, selain memiliki fungsi identitas dan spiritualitas, juga memiliki fungsi ekonomi. Kendati secara ekonomi berladang tidak atau kurang menguntungkan, praktik ini harus tetap mereka lakukan sebagai kewajiban. Hal itu saja dinilai tidak lazim oleh pandangan ekonomi barat yang mendasarkan pemikirannya pada perilaku ekonomi modern (formalis). Perilaku berladang masyarakat Baduy bisa langsung karena mereka menerapkan pola ekonomi substantive dan sangat terikat dengan budaya setempat (embedded in culture).

Uga sebagai Ramalan
Dalam dinamika spiritualitasnya, orang Sunda percaya kepada uga, yaitu ketentuan takdir yang dilahirkan dalam bahasa perlambang yang harus ditafsirkan dengan tepat. Sampai sekarang, masih ada sekelompok orang Sunda (misalnya di Kabupaten Sukabumi) yang selalu berpindah-pindah tempat tinggal sesuai dengan petunjuk uga. Menurut uga, mereka baru akan menetap dan Negara akan makmur sentosa apabila mereka sudah menemukan Lebak Cawene (Lembah Perawan) sebagai tempat tinggal.

Ungkapan-ungkapan yang terdapat dalam uga biasa digunakan orang tua untuk memahami “tanda-tanda zaman”, meramalkan adanya suatu perubahan sosial politik pada masa yang akan datang, di lingkungan mereka tinggal. Kata-kata yang dipergunakan sederhana, dalam bahasa sedang atau kasar (menurut tingkatan bahasa dalam bahasa Sunda).

Selain aspek simbolis, dalam uga terkandung unsur waktu. Dalam tradisi Sunda ada ungkapan, ‘Geus nepi kana ugana, geus nepi kana waktu anu dituju ku karuhun” (sudah sampai pada uga-nya, sudah tiba saat yang diramaikan leluhur). Ini menunjukkan bahwa dalam ramalan berbentuk uga, faktor waktu merupakan sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan. Akan tetapi unsur waktu yang terkandung dalam uga bersifat tidak pasti; artinya, bisa terjadi kapan saja, besok atau lusa, tahun depan, atau mungkin tidak pernah terjadi.

Bandung heurin ku tangtung” (Bandung penuh sesak dengan bangunan) merupakan sebuah contoh uga yang ringkas dan popular. Sebuah kondisi yang diramalkan para karuhun Sunda zaman dahulu dan kurang lebih telah terbukti terjadi sekarang dengan berbagai konsekuensinya.

Sumber: Wildan Nugraha, Alumnus Faperta, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Universitas Padjadjaran. Bergiat di Komunitas titikluang dan Forum Lingkar Pena Bandung,/*Pikiran Rakyat**
thumbnail

“Adat Ngariksa nu Kakandungan” Ritual Masa Kehamilan di Sunda

Adat Ngariksa nu Kakandungan Ritual Masa Kehamilan di Sunda
Babarik (Foto: detikhot.com)
Dalam sumber aslinya (su.wikipedia.org berbahasa Sunda), artikel ini masih satu bagian dengan postingan arsip kula sebelumnya Istilah di Sunda yang Berhubungan dengan Kehamilan.

Berikut di bawah ini adat ngariksa nu kakandungan, yang telah dialih bahasakan:

--o0o--



Adat ngariksa (menjaga) yang sedang mengandung/hamil di Sunda sangat erat kaitannya dengan sistem kepercayaan orang Sunda, yang mempunyai sifat – menurut Muhtar Lubis dalam Manusia Indonesai – percaya akan tahayul. Maksud adanya adat ngaraksa yang hamil yaitu untuk menjaga yang hamil dari pengaruh mahluk halus serta mengaruh buruk dari kekuatan alam yang mempunyai sifat gaib. Tarekah/usaha untuk menjaganya dilakukan dengan cara, seperti; mengadakan salametan/syukuran atau sidekah mekelan/memberi yang hamil berupa barang-barang yang diyakini mempunyai kekuatan tolak bala atau sebagai ajimat yang bisa memperhatikan dan menjaga supaya yang hamil tidak melanggar larangan/pantrangan leluhur.

Usia kandungan sampai dua bulan biasanya disebut ngadeg atau nyiram. Usia kandungan tiga bulan diadakan salametan/syukuran tilu(tiga) bulanan. Pada umumnya salametan tilu bulanan cukup dengan ngabubur beureum/merah ngabubur bodas /putih yang merupakan inti atau syarat yang harus ada dalam salametan mengikuti adat kebiasaan leluhur/karuhun. Untuk orang berada selain ngabubur beureum ngabubur bodas biasanya membuat/menyediakan juga tumpeng.

Setelah salametan tilu bulanan diadakan kembali syukuran saat usia kandungan 5, 7, 9 bulan. Ada keharusan mengadakan syukuran tiap hitungan ganjil usia kandungan. Pada syukuran yang kedua mengadakan hajat bangsal. Bangsal yang ditempatkan di bokor serta bagian atasnya ditutup daun waluh/labu. Maksud kata bangsal secara metonomis mirip dengan kata bengsal (sial). Sedangkan kata waluh secara metonomis menyerupai/mendekati pada kata waluya. Jadi maksud utama mengadakan hajat bangsal yaitu menghilangkan segala kesialan dan diganti dengan kawaluyaan.

Syukuran ketiga dilaksanakan waktu kandungan tujuh bulan, merupakan syukuran paling besar diantara keempat syukuran. Syukuran ini biasa disebut tingkeban atau babarik (Ciamis), babarit (Majalengka). Setelah tingkeban urusan menjaga yang hamil jadi tanggung jawab paraji/dukun anak. Tingkeban merupakan syukuran kehamilan paling meriah (pangceuyahna) dari upacara-upacara lainnya, karena banyaknya proses upacara dan banyaknya syarat yang harus dipenuhi. Waktu usia kandungan sembilan bulan dilaksanakan lagi syukuran yang keempat. Syukuran ini disebut lolos dan sedekah lampu. Lolos (makanan yang terbuat dari tepung beras, gula dan santan yang dibungkus daun pisang) supaya waktu melahirkan, bayi keluarnya lancar dan selamat, sedangkan lampu memiliki maksud supaya bayi dilahirkan mempunyai hati yang terang. Biasanya menggunakan lampu cempor/damar atau lampu tempel.

Tak kurang dari 31 pantrangan/larangan untuk yang hamil, diantaranya; tidak boleh tidur tak berbantal sebab bisa jadi masalah waktu melahirkan; tidak boleh duduk di lawang panto/pintu sebab bisa-bisa sulit melahirkan (biasanya disebut ngalong); tidak boleh makan rebusan telur sebab nanti anaknya bisa-bisa bisulan di kepala; tidak boleh makan nanas sebab bisa-bisa anaknya korengan; tidak boleh mencicipi sop/sayur/angeun langsung di sendok sebab bisa-bisa anaknya jelek; dan sebagainya.

Selain pantrangan/larangan untuk yang hamil (pihak wanita), ada juga pantrangan/larangan buat suaminya, diantaranya; tidak boleh menyembelih binatang, tidak boleh menyiksa binatang; tidak boleh memancing; tidak boleh adu ayam, tidak boleh adu domba, dan sebagainya. Dan juga orang lain pun tidak boleh menyinggung perasaan yang sedang hamil. Kalau suami istri terpaksa harus mengerjakan sesuatu yang dilarang/pantrang, harus mengucapkan seperti ini “utun inji hayu urang motongan hayam, tapi kale ulah saptotongna lamun lain potonganana” (*utun inji ayo kita potong ayam, tapi hati-hati jangan asal potong)

--o0o--
* Biasanya bayi yang masih dalam kandungan disebut utun inji.

Seperti itulah ritual masa kehamilan yang ada di tatar Sunda. Hasil alih bahasanya mungkin jauh dari sempurna. Tapi kenapa saya keukeuh peuteukeuh penterjemahkannya, sekalipun bukan tukangnyah. Pertama, kalo masih pake bahasa Sunda, takutnya sobat yang sempat berkunjung tak paham maksudnya (siga cina dipangwayangkeun). Seperti postingan dongeng Sunda, tak sedikit yang kurang paham. Tapi biarkanlah itu hanya untuk para orang tua (bapa jeung ema) Sunda ngantar anaknya keperaduan. Kedua, maksudnya inih mah biar kelihatan lebih beragam sajah tentang artikel kasundaan. (begitulah kira-kira teori pembenarannya, jangan ada yang protes atuh yah! …sayah mah ngan saukur ngiring jabung tumalapung …hehehe..)
thumbnail

Keberagaman Busana Pengantin di daerah Jawa Barat

Keberagaman Busana Pengantin di daerah Jawa Barat
Foto: Pikiran Rakyat
Budayawan Elis Suryani menyebutkan bahwa kekhasan daerah itu tampak dari busana pengantin yang digunakan. Dari busana yang dikenakan itu terlihat adanya percampuran budaya yang tumbuh di wilayah tersebut.

Di dalam buku Pesona Busana Pengantin dan Batik di Jawa Barat yang diterbitkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat digambarkan perbedaan pernikahan adat di Jawa barat.

Pengaruh Betawi dan Melayu tampak dalam busana pengantin di Bogor dan Bekasi . Pengantin lelaki Bogor biasanya mengenakan kopiah putih, sedangkan pengantin perempuannya mengenakan gaun berwarna merah. Gaun ini menandakan adanya pengaruh Eropa terhadap budaya di wilayah Bogor. Tatanan rambutnya dihiasi deretan kembang goyang khas Betawi. Untaian bunga sedap malam yang selalu ada dalam pernikahan adat sunda pun turut terpasang. Uniknya kedua pasangan mengenakan kacamata hitam selama upacara dilangsungkan.

Di Karawang, meskipun busananya tampak dipengaruhi oleh adat Melayu dan Betawi, masyarakat setempat menyebutnya sebagai pakaian pernikahan khas pesisir. Menururt Kepala Dinas pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Karawang Acep Jamhuri, yang khas dari mempelai perempuan adalah hiasan di kepala yang sering disebut kembang gede. Hiasan di kepala itu terbuat dari perak dan disususn dalam tiga undakan. Seperti Bekasi dan Bogor, kedua mempelai juga mengenakan kacamata hitam selama upacara pernikahan.

Sementara itu, di wilayah Priangan, seperti Bandung, Garut, Ciamis, Tasikmalaya, dan Sumedang, pakaian pernikahan mengikuti gaya berbusana bangsawan. Contohnya Sumedang dengan busana pernikahan mengadopsi busana yang dikenakan oleh Prabu Sumedanglarang. Sementara busana pengantin Bandung dipenuhi oleh aksesori dibagian sanggul yang dikenakan mempelai wanita. Mempelai pria mengenakan beskap yang dihiasi tempelan dasi kupu-kupu serta bendo. Kedua mempelai juga menggunakan selop tertutup.

Wilayah yang bersisian dengan Jawa Tengah yaitu Cirebon dan Indramayu, busana pengantinya dipengaruhi oleh wilayah tetangganya tersebut. Busana pengantin Cirebon dikenal sebagai busana kepangeranan dan busana pengantin kebesaran. Busana kepangeran ditandai dengan pemakaian rompi tanpa tanpa lengat dan berkancing tiga. Pemakaian dipadukan dengan selop tertutup. Sementara untuk busana kebesaran, pengaruh dari Jawa tengah sangat terlihat yakni dengan mengenakan bawahan dodot kesatria.

Sumber: Lia Marlia – Weyatini/*Pikiran Rakyat***
thumbnail

Bentuk, Letak, dan Arah Rumah di Kampung Naga

Bentuk , Letak, dan Arah Rumah  di Kampung Naga
Foto: jabarprov.go.id
Kampung Naga di lembah Gunung Cikuray, Desa Neglasari, Kec. Salawu, Kab Tasikmalaya. Lokasinya yang tidak jauh dari pusat Kota Garut (26 kilometer) dan Kota Tasikmalaya (30 kilometer) juga berada disisi Jalan Raya Salawu (Garut-Singaparna)

Hal yang sangat menarik dari keberadaan Kampung Naga yang luasnya mencapai 1,5 hektar, adalah masyarakatnya hingga kini masih memegang teguh nilai-nilai tradisi nenek moyang. Masyarakat Kampung Naga hidup pada suatu tatanan yang dikondisikan dalam suasana kesahajaan dan keharmonisan antara adat istiadat tradisional bercampur dengan kekentalan ajaran agama Islam yang dianut.

Apapun yang hendak masyarakat lakukan, sang tetua desa akan memutuskannya berdasarkan adat istiadat dan ajaran agama Islam. Ini dilakukan untuk menghindari pamali yang dapat menimbulkan malapetaka menurut kepercayaan setempat.

Tabu, pantangan atau pamali. bagi masyarakat Kampung Naga masih dilaksanakan dengan patuh, khususnya dalam kehidupana sehari-hari, terutama yang berkenaan dengan aktivitas kehidupannnya. Pantangan atau pamali merupakan ketentuan hukum yang tidak tertulis yang mereka junjung tinggi. Misalnya tata cara membangun dan bentuk rumah, letak, arah.

Bentuk rumah masyarakat Kampung Naga harus empat persegi panjang dengan model panggung, bahan rumah dari bambu dan kayu. Atap rumah harus dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang, lantai rumah dari bambu atau papan kayu manglid. Rumah harus menghadap ke arah utara atau selatan dengan memanjang ke arah barat-timur. Dinding rumah dari bilik atau anyaman bambu dengan anyaman sasag. Rumah tidak boleh dicat, kecuali dikapur atau dimeni. Bahan rumah tidak boleh menggunakan tembok.

Rumah tidak boleh dilengkapi dengan perabotan, seperti kursi, meja, dan tempat tidur. Rumah tidak boleh memililki daun pintu di dua arah berlawanan. “Karena menurut anggapan masyarakat Kampung Naga, rezeki masuk ke dalam rumah melalui pintu depan tidak boleh keluar melalui pintu belakang. Untuk itu dalam memasang pintu, mereka selalu mengindari daun pintu yang sejajar dan satu garis lurus.

Jumlah bangunan mencapai 113 unit, sebanyak 110 merupakan rumah, namun yang dihuni hanya 108 rumah. Tempat lain nya diantaranya bale pertemuan, lumbung padi, dan mesjid yang letaknya sejajar menghadap ke arah timur-barat. Sedangkan bangunan rumah penduduk berdiri berjajar menghadap utara-selatan

Sumber: Pikiran Rakyat
thumbnail

Lagih Ngulik Rupa Iket, nih

Lagih Ngulik Rupa Iket nih
Foto : KASKUS
Beberapa bulan yang lalu, media cetak mingguan bahasa Sunda “Galura” memuat artikel “Iket Sunda Masih Nanjer”, mengulas tentang para nonoman (kawula muda) Sunda sedang gandrung pake iket.

Begitu juga sekarang di lembur saya (Conggeang, Sumedang) khususnya ditempat kami kumpul / nongkrong. Iket menjadi sesuatu yang menarik untuk dibicarakan. Saking gandrung-nya anak (lelaki) mereka yang masih kecil pun didangdanan pake iket. Iket (dengan konsep opat kalima pancer dan tritangtu) warisan karuhun saya pun dikeluarkan lagi.

Ternyata cukup banyak gambar dan video yang memperagakan cara pake iket. Baik itu rupa iket buhun maupun rupa iket reka-an. (kebetulan di tempat nongkrong jarnet-nya lancar). Kuring mah taun kolot, jadi ngulikna rupa iket buhun wae heula.

Berikut ini beberapa video rupa iket milik (pulasaraiket) yang direkomendasikan temen-teman untuk disimpan di archive69/arsip kula.

- Kolényangsang kampung Cikondang
- Rupa Iket Adat Paros - kampung Cikondang
- Paros Nangka - kampung Cikondang
- Parékos
- Barangbang Semplak
- Barangbang Semplak 2
- Rupa iket Parékos
- Julang Ngapak
- Candra Sumirat
- Rupa Iket - Maung Leumpang
- Hanjuang Nangtung


Tah begituh lah kahirupan kuring bersama temen nongkrong minggu-minggu inih, ngulik rupa iket.

Cag ……. salam