Iklan Tayang Selamanya
📢 Promo hari ini pasang iklan di internet murah 🚀 Buruan sebar iklan massal murah ke 1.000 website, hanya 150 ribu! 👉 Posting iklan di website Iklan Jawa Barat ini hanya Rp10.000 rupiah iklan tampil selamanya, hubungi Kami! 🎯 Jangan sungkan untuk kerjasama lainnya, hubungi Kami! 💥 Posting iklan di 50 website! dikerjakan manual ada Diskon besar !!!
setidaknya satu iklan mu harus ada di jaringan iklan unikbaca.com ini, agar pengunjung
atau pengakses dapat mencari dan tahu usaha mu, posting iklan di sini murah biaya nya
🎁 Promo DISKON hari ini sebar iklan massal murah ke 1.050 web!

thumbnail

Bungah Mapag Munggah (Ramadan Urang Sunda)

TRADISI “mapag” Ramadan di tatar Pasundan menurut dosen UPI yang juga pengamat budaya, Elin Samsuri, disebut “munggah” atau “munggahan”. Secara etimologis, “munggah” atau “munggahan” berasal dari kata “unggah” yang memiliki arti “mancat” atau memasuki tempat yang agak tinggi.

Elin menuturkan, tradisi “munggahan” atau “mapag shaum” (menyambut puasa) dilakukan dengan berbagai cara. Antara lain “nadran”, “ngarewahkeun”, “kuramas”, “botram”, dan “nganteuran”.

“Nadran” dilakukan dua minggu sebelum Ramadan tiba. Dimulai dengan ritus Nisyfu Syaban berupa ngaos (membaca) Alquran semalam suntuk. Pada esok harinya dilanjutkan dengan kebiasaan ziarah.

Mereka juga berkunjung ke rumah orangtua atau yang dituakan, para sepuh, kiai, dan guru ngaji untuk meminta maaf dilakukan untuk saling ngalubarkeun dosa (membersihkan dosa) untuk menyambut puasa.

Kegiatan berikutnya ngarewahkeun atau sering disebut juga dengan sebutan mapag rewah. Berupa aktivitas saling berbagi rezeki. Tetangga yang mempunyai balong (kolam) akan ngabedahkeun (memanen) ikannya.

Di beberapa daerah seperti Sumedang, munggahan ditandai adanya kebiasan mayor, di Sukabumi botram, di Tasikmalaya bancakan, di Cianjur papajar, yaitu makan besar bersama keluarga dan sanak saudara sehari sebelum tibanya puasa. Di Sumedang terdapat istilah kental kentel, yaitu rereongan membeli kambing dengan cara anjuk ngahutang agar pada saat munggahan dapat membuat hidangan istimewa. “Yang penting semua bungah, gembira, bisa makan enak”, ujar Elin.

Sumber: Eriyanti/“Pikiran Rakyat” Senin 8 Juli 2013
Belum berminat? tak apa 😊 bantu kami dengan membagikan link ini ke teman, siapa tahu, justru mereka sedang mencari ini!
Posting Iklan 50 Situs