Website Iklan Tayang Selamanya
Promo spesial hari ini posting iklan di situs web Iklan Jawa Barat murah sekali
setidaknya satu iklan Anda harus ada di Iklan Jawa Barat unikbaca.com ini, agar pengunjung
atau pengakses dapat mencari dan tahu usaha Anda, posting iklan di Iklan Jawa Barat murah
🎁 Hari ini sebar iklan massal murah ke 1.050 web! DISKON!

Tampilkan postingan dengan label youtube. Tampilkan semua postingan
thumbnail

Sejarah/Riwayat Seni Tradisional Jangkar Alam “Ajeng” Desa Cipelang Kec. Ujungjaya - Sumedang

Diketemukan alat tradisional ajeng awal mulanya adalah seorang sultan yang bernama Sultan Jaya Ningrat dari daerah Ranji yang mempunyai anak sebanyak 4 orang, yaitu Ranggawati, Waragati, Puragati, dan Jaga Kerti. Sewaktu itu Sultan Jaya Ningrat mengutus ke 4 anaknya untuk membuat saluran air di Tegal Burangrang Gunung Garunggang yang terletak di wilayah daerah Ranji Kabupaten Majalengka.

Seni Tradisional Jangkar Alam Ajeng Desa Cipelang Kec. Ujungjaya
Foto: Doc. Jangkar Alam "Ajeng"
Dari ke empat anaknya tersebut hanya Jagakerti yang menyanggupinya. Jagakerti berangkat melaksanakan tugasnya dikawal oleh Embah Kadar serta dibantu oleh masyarakat setempat.

Pada saat penggalian dilakukan hampir satu bulan, diketemukan sebuah benda yang bernama Kempul atau gong kecil, kemudian beberapa saat juga diketemukan 28 buah benda yang bernama Keromong. Sedangkan yang terakhir diketemukan benda yang bernama Gong besar pada saat mengakhiri penggalian terowongan.

Hanya itulah alat yang diketemukan pada saat penggalian dalam membuat saluran air, oleh Jagakerti yang dikawal oleh Embah Kadar dan dibantu oleh masyarakat.

Setelah alat tersebut dibawa, kemudian pelan-pelan dipukul-pukul dan lama-kelamaan dimainkan yang akhirnya menjadi seni tradisional, dan kemudian diberi nama “Jangkar Alam”, karena diperoleh dari dalam tanah yang penuh dengan jangkar saat penggalian.

Setelah dari Ranji Jagakerti pindah tempat ke daerah Belendung (sekarang desa Cipelang) serta menempatkan dirinya di dekat pohon belendung sebagai tempat peristirahatannya (sebagai bukti ada pohon belendung di pinggir lebak belendung dan sawah belendung) sementara masyarakat hanya sebagian kecil yang tinggal, dan alat tradisional pun dibawa dengan perantaraan Embah Kadar. Kemudian alat tersebut dimainkan bersama masyarakat di daerah Belendung sampai dengan sekarang oleh generasi penerus dengan berubahnya nama Belendung menjadi Desa Cipelang.

Meskipun Jagakerti dan Embah Kadar telah meninggal dunia, tetapi ia mewariskan sebuah benda pusaka yang tak ternilai harganya kepada pewaris-pewaris sebagai keturunannya. Jagakerti dimakamkan di Makam Cipelang dan sekarang bernama Makam Embah Buyut Jagakerti. Embah Kadar juga dimakamkan di Makam Cipelang dengan sebutan Embah Buyut Kadar.

Setelah itu terjadi kira-kira pertengahan abad, oleh pewaris nama Jangkar Alam dirubah menjadi “Ajeng”. Nama ajeng diambil dari “Pangajeng-ngajeng” bagi pengantin, karena seni tradisional tersebut pada waktu itu sering ditampilkan pada acara-acara pengantinan, dengan menggunakan panggung yang tinggi sebagai pintu masuk para tamu di acara tersebut.

Karena seni ajeng merupakan benda pusaka leluhur, maka saat sekarang dimainkan sering kali di tempat-tempat keramat dalam acara ritualan, guar bumi, dan acara-acara peresmian lainnya, sebagai salah satu penghargaan kepada para pewaris sebelumnya (Karuhun) dan juga sebagai suatu slogan dalam mengayomi perkembangan seni tradisional warisan para leluhur.

Sesuai dengan sejarah tersebut di atas, maka Desa Cipelang merupakan desa pewaris Makam keramat Embah Buyut Jaga Kerti, dengan benda pusakanya seperangkat alat seni tradisional ajeng sebagai peninggalannya.

Dan benda ini menurut disbudpar marupakan situs, karena merupakan benda purbakala yang telah ratusan tahun keberadaannya. (Dikutip dari pembicaraan pewaris --Amirtarejake 21:85-- dan dari nara sumber lainnya sebagai dasar dari sejarah ini)

Sumber: Doc. Jangkar Alam “Ajeng”


thumbnail

Lagih Ngulik Rupa Iket, nih

Lagih Ngulik Rupa Iket nih
Foto : KASKUS
Beberapa bulan yang lalu, media cetak mingguan bahasa Sunda “Galura” memuat artikel “Iket Sunda Masih Nanjer”, mengulas tentang para nonoman (kawula muda) Sunda sedang gandrung pake iket.

Begitu juga sekarang di lembur saya (Conggeang, Sumedang) khususnya ditempat kami kumpul / nongkrong. Iket menjadi sesuatu yang menarik untuk dibicarakan. Saking gandrung-nya anak (lelaki) mereka yang masih kecil pun didangdanan pake iket. Iket (dengan konsep opat kalima pancer dan tritangtu) warisan karuhun saya pun dikeluarkan lagi.

Ternyata cukup banyak gambar dan video yang memperagakan cara pake iket. Baik itu rupa iket buhun maupun rupa iket reka-an. (kebetulan di tempat nongkrong jarnet-nya lancar). Kuring mah taun kolot, jadi ngulikna rupa iket buhun wae heula.

Berikut ini beberapa video rupa iket milik (pulasaraiket) yang direkomendasikan temen-teman untuk disimpan di archive69/arsip kula.

- Kolényangsang kampung Cikondang
- Rupa Iket Adat Paros - kampung Cikondang
- Paros Nangka - kampung Cikondang
- Parékos
- Barangbang Semplak
- Barangbang Semplak 2
- Rupa iket Parékos
- Julang Ngapak
- Candra Sumirat
- Rupa Iket - Maung Leumpang
- Hanjuang Nangtung


Tah begituh lah kahirupan kuring bersama temen nongkrong minggu-minggu inih, ngulik rupa iket.

Cag ……. salam
thumbnail

Lalajo Wayang Golek. uyyy (Bodor lah)

Okeh, Akang dan Nden yang sempet mampir ke tampat ini (arsip kula). Kali ini saya punya sesuatu dari temen salembur. Penggalan (hanya bobodoran) dari pagelaran wayang golek dalang Asep Sunandar Sunarya, dalam lakon Babad Alas Amer.

Wilujeng menikmati ajah


Tambahan dikit, Akang + Nden. Yang boga hajatan pagelaran wayang golek ini, STMIK Sumedang, UNSAP (2011).