Website Iklan Tayang Selamanya
Promo spesial hari ini posting iklan di situs web Iklan Jawa Barat murah sekali
setidaknya satu iklan Anda harus ada di Iklan Jawa Barat unikbaca.com ini, agar pengunjung
atau pengakses dapat mencari dan tahu usaha Anda, posting iklan di Iklan Jawa Barat murah
🎁 Hari ini sebar iklan massal murah ke 1.050 web! DISKON!

Tampilkan postingan dengan label ws rendra. Tampilkan semua postingan
thumbnail

Kelelawar :: WS RENDRA

Silau oleh sinar lampu lalulintas
aku menunduk memandang sepatuku
aku gentayangan bagai kelelawar
tidak gembira, tidak sedih
terapung dalam waktu
Ma, aku melihatmu di setiap ujung jalan
sungguh tidak menyangka
begitu penuh kamu mengisi buku
alamat batinku
sekarang aku kembali berjalan

Apakah aku akan menelefon teman?
apakah aku akan makan udang gapit
di restoran?
aku sebel terhadap cendikiawan
yang menolak menjadi saksi
masalah sosial dipoles gincu menjadi
metafisika

Sikap jiwa dianggap maya dibanding
mobil berlapis baja
hanya kamu yang enak diajak bicara

Kakiku melangkah melewati sampah-sampah

Aku akan menulis sajak-sajak lagi
rasa berdaya tidak bisa mati begitu saja
kesini, Ma, masuklah ke dalam saku bajuku
Daya hidup menjadi kamu, menjadi harapan

--Rendra
Tomang Tinggi, 1981


Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)
thumbnail

Sajak Seorang Tua untuk Istrinya :: WS RENDRA

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita
yang gemilang
Dan juga masa depan kita
yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan

Kita tidaklah sendiri
dan terasing dengan nasib kita
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan
suka duka kita bukanlah istimewa
kerna setiap orang mengalaminya

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samodra
serta mencipta dan mengukir dunia
kita menyandang tugas

Kerna tugas adalah tugas.
bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia
kerna sesungguhnyalah kita bukan debu
meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu

Kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita
tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorangpun
kuasa menghapuskannya

Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna
sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita
sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda
dan kenangkanlah pula
bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita

Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara
bukan kerna senyuman adalah satu kedok
Tetapi kerna senyuman adalah satu sikap
sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama
nasib, dan kehidupan

Lihatlah! sembilan puluh tahun penuh warna
kenangkanlah bahwa kita telah selalu
menolak menjadi koma
kita menjadi goyah dan bongkok
kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita
tapi bukan kerna kita telah terkalahkan

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenang encokmu
kenangkanlah pula
bahwa kita ditantang seratus dewa

--Rendra

Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)
thumbnail

Sajak Burung-burung Kondor :: WS RENDRA

Angin gunung turun merembes ke hutan
lalu bertiup di atas permukaan kali yang luas
dan akhirnya berumah di daun-daun tembakau

Kemudian hatinya pilu
melihat jejak-jejak sedih para tani buruh
yang terpacak di atas tanah gembur
namun tidak memberi kemakmuran bagi penduduknya

Para petani buruh bekerja,
berumah di gubug-gubug tanpa jendela
menanam bibit di tanah yang subur
memanen hasil yang berlimpah dan makmur
namun hidup mereka sendiri sengsara.
Mereka memanen untuk tuan tanah
yang mempunyai istana indah
Keringat mereka menjelma menjadi emas
yang diambil oleh cukong-cukong pabrik cerutu di Eropa
Dan bila mereka menuntut perataan pendapatan
para ahli ekonomi membetulkan letak dasi
dan menjawab dengan mengirim kondom

Penderitaan mengalir
dari parit-parit wajah rakyatku.
Dari pagi sampai sore
rakyat negeriku bergerak dengan lunglai
menggapai-gapai
menoleh ke kiri, menoleh ke kanan
di dalam usaha tak menentu
Di hari senja mereka menjadi onggokan sampah
dan di malam hari mereka terpelanting ke lantai
dan sukmanya berubah menjadi burung kondor

Beribu-ribu burung kondor,
berjuta-juta burung kondor,
bergerak menuju ke gunung tinggi,
dan disana mendapat hiburan dari sepi.
Karena hanya sepi
mampu menghisap dendam dan sakit hati

Burung-burung kondor menjerit.
Di dalam marah menjerit
tersingkir ke tempat-tempat yang sepi
Burung-burung kondor menjerit
di batu-batu gunung menjerit
bergema di tempat-tempat yang sepi

Berjuta-juta burung kondor
mencakar batu-batu,
mematuki batu-batu
mematuki udara,
dan di kota orang-orang bersiap menembaknya.

--Rendra

Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)
thumbnail

Wanitaku - wanitaku :: WS RENDRA

Wanitaku-wanitaku
gerimis menampar mukaku
dan aku berseru padamu dimanakah kamu wanitaku?
kamu menghilang di belakang hotel
di dalam kabut kuburu kamu
kamu lari ke dalam bis kota
dan lenyaplah kamu untuk selama-lamanya
Aku bernyanyi dikamar mandi
dan tiba-tiba tubuhmu yang telanjang
terbayang lagi
apakah kamu mengerti kesepianku?
Sukmamu mengembara kedalam rumah
diantara buku buku poster-poster butut
meja makan yang berantakan
ranjang yang berbau mimipi
aku terseduh-seduh
hubungan kita sia-sia
sukmaku menjelma
menjadi seekor kucing tua yang lalu mengembara
luput ke dalam perkampungan
sudah sekian lama
sudah bertahun tahun
sudah berabad abad
melewati kepulan debu
melewati angin panas
melewati serdadu dan algojo
melewati anjing anjing
aku memburu-memburu
berburu-berburu diatas harley davidson
mencari sukmamu dan sukmaku
yang telah lenyap bersama

--Rendra

Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)
thumbnail

Kembali :: WS RENDRA

Delapan ratus kilo aku berlari
dan aku tetap melihat wajahmu
wajahmu adalah wajah terhina
yang diingkari keadilan

Aku berlari ke timur
ke kota yang antik
delapan ratus kilo dari kamu
karena bimbang menempuh bimbang

Sebagai anjing aku termangu
di samping piano
mencari masa lalu
karena gamang akan masa yang datang

Wahai wajah yang terhina
wajah tanpa alamat surat
aku akan kembali kepadamu
karena kamu adalah masa kini
yang harus aku hadapi
dan masa depan
adalah masa kini yang dihayati

Delapan ratus kilo akan ku tempuh
untuk berendeng bersamamu
delapan ratus kilo akan ku tempuh
untuk membaca kemarau bersamamu

--Rendra

Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)
thumbnail

Nyai Dasimah :: WS RENDRA

Nyai Dasimah, yang lebat rambutnya
sudah lama tidak berjumpa
kini kulihat
tetap saja kamu jelita

Menggeleng-gelengkan kepala
dibawah lampu jalan,
kamu mengadu kepadaku
ya ya ya keadaan sudah berubah
tentu saja
pabrik-pabrik didirikan di desa
orang desa menjual tanahnya
pergi ke kota menjadi jadi gelandangan
ya ya ya keadaan sudah berubah
bendungan yang didirikan
ditumbuhi enceng gondok
pengairan malah berkurang
dan tenaga listriknya
hanya mampu dibeli oleh modal asing

Nyai Dasimah yang lentik bulu matanya
sudah lama tidak berjumpa
kini ku lihat
lesung pipitnya tetap sempurna

Dunia berubah ia terbata-bata
tetapi cuma sementara
ketika pabrik batik gulung tikar
dan wanita-wanita pembatik berkeluyuran di jalan
di waktu malam
dengan cepat ia membuka kedai makan
ia judes terhadap langganan yang berhutang
ia bekerja siang dan malam

Nyai Dasimah bibirnya merah kesumba
sudah lama tidak berjumpa
kini ku lihat
ia tetap cantik dan perkasa
ia tak pernah ragu-ragu
kadang-kadang menangis juga
tetapi cuma sedikit
air matanya
anaknya yang tamat SMA
tak dapat kerja
cepat-cepat ia seret ke pasar
ia suruh berdagang saja
dunia berubah
ya .....senantiasa akan berubah
tentu saja
tapi Dasimah tetap Dasimah
Ia melenggang satu dua
dan dunia
terkesima oleh pantatnya

Dasimah wahai Dasimah
uangmu kamu hitung, uangmu kamu simpan
semangatmu memandang ke depan
uang itu gaib katamu
mungkin
sebab nyatanya
diburu bagai bayangan
dihayati ia menjadi kenyataan

Nyai Dasimah menggeliatkan tubuhnya
sudah lama tak berjumpa
kini ketemu ia minta pijitan

Ayolah Nyai mari ke mari
kebayamu yang rapih
bersih berkanji
yet iyet tebu
yet iyet pisang
meski kamu sudah ibu
kamu toh tetap girang

--Rendra
Jakarta, 23 Oktober 1976


Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)
thumbnail

Nyanyian Fatimah untuk Suto :: WS RENDRA

Kelambu ranjangku tersingkap
dibantal berenda tergolek nasibku
apabila firmanmu terucap
masuklah kalbumu ke dalam kalbuku
sedu sedan mengetuk tingkapku
dari bumi dibawah rumpun mawar
waktu lahir kau telanjang dan tak tahu
tapi hidup bukanlah tawar menawar

--Rendra

Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)
thumbnail

Nyanyian Suto untuk Fatimah :: WS RENDRA

Dua puluh tiga matahari bangkit dari pundakmu
tubuhmu menguapkan bau tanah
dan menyelalah sukmaku.
langit bagai kain tetoron yang biru
terbentang berkilat dan berkilau
menantang jendela kalbu yang berduka cita
rohku dan rohmu bagai proton dan elektron
bergolak bergolak bergolak bergolak
dibawah dua puluh tiga matahari
dua puluh tiga matahari membakar duka cita

--Rendra

Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)
thumbnail

Hutan Bogor :: WS RENDRA

Badai turun
didalam hutan
badai turun
didalam sajak sajakku
selalu sayang
aku terkenang kepadamu

Sudah jam empat sore
hujan jatuh di hutan kenari
semula nampak manis
kemudian mendahsyatkan
di dalam hujan, mendung dan petir
bumi pun nampak fana
Tak ada yang abadi

Buruk dan basah
jenggot pohonan
lumut lumut didahan, benalu dan
paku paku
aku berpikir
betulkah aku tidak menipumu

Didalam hujan
bumi dan sajak
terasa fana
berhadapan dengan maut
dengan malu
telanjanglah kita

Menggapailah tangan tangan kita
bagai dahan dahan pohonan
dan beriaklah suara suara
dalam perkelahian yang fana
tapi dengan dahsyat
dahan dahan tetap menggapai
yang penting
bukanlah kekalahan ataupun kemenangan
tapi bahwa tangan tangan telah di kepalkan
biarpun kecapaian

Badai turun
di dalam hutan
badai turun
di dalam sajak sajak

--Rendra

Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)
thumbnail

Sajak Seorang Tua Tentang Bandung Lautan Api :: WS RENDRA

Bagaimana mungkin kita bernegara
Bila tidak mampu mempertahankan wilayahnya?
Bagaimana mungkin kita berbangsa
Bila tidak mampu mempertahankan
kepastian hidup bersama?
Itulah sebabnya
Kami tidak ikhlas
menyerahkan Bandung kepada tentara Inggris
dan akhirnya kami bumi hanguskan kota tercinta itu
sehingga menjadi lautan api

Kini batinku kembali mengenang
udara panas yang bergetar dan menggelombang
bau asap, bau keringat
suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan
kaki langit berwarna kesumba

Kami berlaga
memperjuangkan kelayakan hidup umat manusia.
Kedaulatan hidup bersama adalah sumber keadilan merata
yang bisa dialami dengan nyata
Mana mungkin itu bisa terjadi
di dalam penindasan dan penjajahan
Manusia mana
Akan membiarkan keturunannya hidup
tanpa jaminan kepastian?

Hidup yang disyukuri adalah hidup yang diolah
Hidup yang diperkembangkan
dan hidup yang dipertahankan
Itulah sebabnya kami melawan penindasan
Kota Bandung berkobar menyala-nyala tapi kedaulatan
bangsa tetap terjaga

Kini aku sudah tua
Aku terjaga dari tidurku
di tengah malam di pegunungan
Bau apakah yang tercium olehku?
Apakah ini bau asam medan laga tempo dulu
yang dibawa oleh mimpi kepadaku?
Ataukah ini bau limbah pencemaran?
Gemuruh apakah yang aku dengar ini?
Apakah ini deru perjuangan masa silam
di tanah priangan?
Ataukah gaduh hidup yang rusuh
karena dikhianati dewa keadilan.
Aku terkesiap. Sukmaku gagap. Apakah aku
dibangunkan oleh mimpi?
Apakah aku tersentak
Oleh satu isyarat kehidupan?
Di dalam kesunyian malam
Aku menyeru-nyeru kamu, putera-puteriku!
Apakah yang terjadi?

Darah teman-temanku
Telah tumpah di Sukakarsa
Di Dayeuh Kolot
Di Kiara Condong
Di setiap jejak medan laga.
Kini
Kami tersentak,Terbangun bersama.
Putera-puteriku, apakah yang terjadi?
Apakah kamu bisa menjawab pertanyaan kami?
Wahai teman-teman seperjuanganku yang dulu
Apakah kita masih sama-sama setia
Membela keadilan hidup bersama

Manusia dari setiap angkatan bangsa
Akan mengalami saat tiba-tiba terjaga
Tersentak dalam kesendirian malam yang sunyi
Dan menghadapi pertanyaan zaman
Apakah yang terjadi?
Apakah yang telah kamu lakukan?
Apakah yang sedang kamu lakukan?
Dan, ya, hidup kita yang fana akan mempunyai makna
Dari jawaban yang kita berikan

--Rendra

Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)
thumbnail

Sajak Rajawali :: WS RENDRA

Sebuah sangkar besi
tidak bisa merubah seekor rajawali
menjadi seekor burung nuri

Rajawali adalah pacar langit
dan di dalam sangkar besi
rajawali merasa pasti
bahwa langit akan selalu menanti

Langit tanpa rajawali
adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma
tujuh langit, tujuh rajawali
tujuh cakrawala, tujuh pengembara

Rajawali terbang tinggi memasuki sepi
memandang dunia
rajawali di sangkar besi
duduk bertapa
mengolah hidupnya

Hidup adalah merjan-merjan kemungkinan
yang terjadi dari keringat matahari
tanpa kemantapan hati rajawali
mata kita hanya melihat fatamorgana

Rajawali terbang tinggi
membela langit dengan setia
dan ia akan mematuk kedua matamu
wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka

--Rendra

Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)
thumbnail

Paman Doblang :: WS RENDRA

Paman Doblang! Paman Doblang!
Mereka masukkan kamu ke dalam sel yang gelap
Tanpa lampu tanpa lubang cahaya pengap
Ada hawa tak ada angkasa
Terkucil temanmu beratus-ratus nyamuk semata
Terkunci tak tahu kapan pintu akan terbuka
Kamu tak tahu di mana berada

Paman Doblang! Paman Doblang!
Apa katamu?

Ketika haus aku minum air dari kaleng karatan
Sambil bersila aku mengharungi waktu
lepas dari jam, hari dan bulan
Aku dipeluk oleh wibawa tidak berbentuk
tidak berupa, tidak bernama
Aku istirah di sini
Tenaga ghaib memupuk jiwaku

Paman Doblang! Paman Doblang!
Di setiap jalan mengadang mastodon dan serigala
Kamu terkurung dalam lingkaran
Para pengeran meludahi kamu dari kereta kencana
Kaki kamu dirantai ke batang karang
Kamu dikutuk dan disalahkan
Tanpa pengadilan

Paman Doblang! Paman Doblang!
Bubur di piring timah
didorong dengan kaki ke depanmu
Paman Doblang, apa katamu?

Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Dan perjuangan
adalah perlaksanaan kata-kata

--Rendra
Depok, 22 April 1981


Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)
thumbnail

Doa di Jakarta :: WS RENDRA

Tuhan yang Maha Esa
alangkah tegangnya
melihat hidup yang tergadai
fikiran yang dipabrikkan
dan masyarakat yang diternakkan

Malam rebah dalam udara yang kotor
Di manakah harapan akan dikaitkan
bila tipu daya telah menjadi seni kehidupan?
Dendam diasah di kolong yang basah
siap untuk terseret dalam gelombang edan
Perkelahian dalam hidup sehari-hari
telah menjadi kewajaran
Pepatah dan petitih
tak akan menyelesaikan masalah
bagi hidup yang bosan
terpenjara, tanpa jendela

Tuhan yang Maha Faham
alangkah tak masuk akal
jarak selangkah
yang berarti empat puluh tahun gaji seorang buruh
yang memisahkan
sebuah halaman bertaman tanaman hias
dengan rumah-rumah tanpa sumur dan W.C
Hati manusia telah menjadi baja
Bagai dash board yang tak acuh
panser yang angkuh
traktor yang dendam

Tuhan yang Maha Rahman
ketika air mata menjadi gombal
dan kata-kata menjadi lumpur becek
aku menoleh ke utara dan ke selatan
di manakah Kamu?
Di manakah tabungan keramik untuk uang logam?
Di manakah catatan belanja harian?
Di manakah peradaban?

Ya, Tuhan yang Maha Hakim
harapan kosong, optimisme hampa
Hanya akal sihat dan daya hidup
menjadi peganganku yang nyata

--Rendra
Jakarta 29 Mei 1983


Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)
thumbnail

Sajak Widuri untuk Joki Tobing :: WS RENDRA

Debu mengepul mengolah wajah tukang-tukang parkir
Kemarahan mengendon di dalam kalbu purba
Orang-orang miskin menentang kemelaratan
Wahai, Joki Tobing, kuseru kamu
kerna wajahmu muncul dalam mimpiku
Wahai, Joki Tobing, kuseru kamu
karena terlibat aku di dalam napasmu
Dari bis kota ke bis kota
kamu memburuku
Kita duduk bersandingan
menyaksikan hidup yang kumal
Dan perlahan tersirap darah kita
melihat sekuntum bunga telah mekar
dari puingan masa yang putus asa

--Rendra
9 Mei 1977
Nusantara Film
Jakarta


Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)
thumbnail

Sajak Joki Tobing untuk Widuri :: WS RENDRA

Dengan latar belakang gubug-gubug karton
aku terkenang akan wajahmu
Di atas debu kemiskinan
aku berdiri menghadapmu
Usaplah wajahku, Widuri
Mimpi remajaku gugur
di atas padang pengangguran
Ciliwung keruh
wajah-wajah nelayan keruh
lalu muncullah rambutmu yang berkibaran

Kemiskinan dan kelaparan
membangkitkan keangkuhanku
Wajah indah dan rambutmu
menjadi pelangi di cakrawalaku

-- Rendra
9 Mei 1977
Nusantara Film
Jakarta


Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)