Website Iklan Tayang Selamanya
Promo spesial hari ini posting iklan di situs web Iklan Jawa Barat murah sekali
setidaknya satu iklan Anda harus ada di Iklan Jawa Barat unikbaca.com ini, agar pengunjung
atau pengakses dapat mencari dan tahu usaha Anda, posting iklan di Iklan Jawa Barat murah
🎁 Hari ini sebar iklan massal murah ke 1.050 web! DISKON!

Tampilkan postingan dengan label wayang. Tampilkan semua postingan
thumbnail

Wayang Cepak, Kesenian Warisan Sunan Gunung Djati

Wayang Cepak Kesenian Warisan Sunan Gunung Djati
RETNO HY / PR
Ki Dalang Atik Rasta Prawira (62) memainkan wayang pada pergelaran kesenian tradisional wayang cepak, di lapangan parkir RT 01 RW 01 Kel. Sukaraja, Kec Cicendo, Kota Badnung, Selasa (18/9) malam.*
Setelah sebelumnya arsip kula menyimpan artikel seni wayang tradisi Sunda; Wayang Golek dan Wayang Purwa, serta seni wayang tradisi Jawa; Wayang Purwa Jawa

Pada kesempatan kali ini, akan diarsipkan sebagian artikelnya Retno HY yang mengulas tentang wayang cepak, dimuat di media cetak Pikiran Rakyat (Rabu, 26 September 2012).
--oOo—

Kesenian wayang cepak merupakan warisan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati. Sekitar tahun 1500-an wayang cepak dijadikan sarana untuk menyebarkan ajaran agama Islam oleh Sunan Gunung Djati.

Perbedaan wayang cepak dengan wayang golek ataupun lainnya ada pada ornamen hiasan pada kepalanya (topi), cepak (rata) sejajar dengan bagian atas kepalanya. Berlainan dengan wayang golek purwa yang berkembang di Priangan. Ornamen pada kepalanya mengenakan makuta (mahkota, crown) yang berbentuk nyungcung (piramida), dan berbentuk telekung (melengkung).

Ornamen yang dikenakan sebagai penutup kepala (topi) pada wayang cepak, ada yang mengenakan destar (penutup kepala dari kain yang umumnya dikenakan ulama Islam), dan ada pula yang mengenakan bendo (penutup kepala dari kain batik yang umumnya dikenakan oleh ningrat Sunda). Karena mengenakan bendo itulah, wayang cepak dari Cirebon disebut juga wayang bendo.

Sementara itu, cerita yang dibawakan dalam pertunjukannya mengadaptasi dari hikayat sastra Arab, diantaranya cerita Amir Hamzam dan Rangganis. Itulah yang menyebabkan wayang cepak sering diebut wayang Arab. (Retno HY/PR)
--oOo—


thumbnail

Lalajo Wayang Golek. uyyy (Bodor lah)

Okeh, Akang dan Nden yang sempet mampir ke tampat ini (arsip kula). Kali ini saya punya sesuatu dari temen salembur. Penggalan (hanya bobodoran) dari pagelaran wayang golek dalang Asep Sunandar Sunarya, dalam lakon Babad Alas Amer.

Wilujeng menikmati ajah


Tambahan dikit, Akang + Nden. Yang boga hajatan pagelaran wayang golek ini, STMIK Sumedang, UNSAP (2011).
thumbnail

Wayang Purwa Jawa

Wayang Purwa Jawa
(ilustrasi: id.wikipedia.org)
Wayang Purwa merupakan bentuk pementasan Wayang Kulit yang sangat populer di tanah air dan mancanegara terutama di Jawa. Walau sudah ada sejak lama tetapi jenis seni budaya yang adiluhung ini masih bertahan hingga sekarang.

Wayang disini dapat berarti bayangan atau gambar atau citraan atau anggita. Dalam pagelaran wayang kulit ini dipimpin juga diceritakan dan disutradarai oleh Dalang, yaitu orang yang mempunyai keahlian menggerakkan dan melakonkan wayang. Demikian juga haruslah ahli dalam olah batin, cendikiawan, ahli dalam pustaka serta paham tentang gending-gending. Tidak kalah penting juga adanya inprovisasi, yaitu kebebasan dalang untuk mengisi jalan cerita asal tidak keluar dari jalur pakem atau disebut sanggit, sebab dalam pementasan wayang tidak ada naskah baku atau Balungan Lakon. Lah dulunya wayang sebagai alat pemujaan seperti ruwatan, sadran dan bersih desa (tolak bala). Kemudian berkembang menjadi sebagai alat pengajaran agama, pendidikan, penerangan dan sebagainya, tapi yang jelas sebagai alat hiburan.

Unsur yang menarik dari pagelaran wayang ini adalah pesan yang terselubung dari dalam setting ceritanya, hal ini biasanya barkait dengan masalah kemasyarakatan, kritik sosial, politik, pesan moral-etika, informasi, sikap hidup dan sebagainya. Bagian ini sering muncul pada tengah-tengah acara yaitu waktu Goro-goro, keluarga para Punakawan: Gareng, Petruk, Bagong, dan bapaknya yaitu Semar Badranaya yang isinya guyonan sambil lelagon (nyanyi).

Wayang kulit ini terbuat dari kulit kerbau yang diukir dengan rincian sangat rumit serta diwarnai dengan cat, kemudian diberi penyangga berupa tangkai dan penggerak pada tangannya biasanya terbuat dari tanduk kerbau.

Penggambaran wayang pada umumnya adalah para dewa, manusia, raksasa atau jin-setan, satwa dan lambang alam lainnya. Satu perangkat (satu kotak) terdiri 150-300 jenis wayang.

Untuk memainkan wayang yaitu berada di depan kelir yaitu layar putih yang berarti jagad atau dunianya wayang, kemudian tangkainya ditancapkan di atas gedebong (batang pisang) yang berarti buminya atau sebagai pijakannya.

Untuk penerangannya disorot dengan lampu yang disebut blencong yaitu berarti matahari atau bulan, bermaksud pula adalah pandangan yang Maha Kuasa.

Kemudian simpingan yaitu wayang yang tidak dimainkan sisanya ditata di samping-samping dalang, yang akan adalah simbol kebaikan dan yang kiri adalah simbol kejelekan.

Kemudian pengiring cerita oleh dalang adalah gending-gending dari gamelan jawa yang ditambah dengan wiraswara serta sinden.

Pementasan wayang kulit ini biasanya sampai pagi, maka dibagi menjadi 3 bagian yaitu, pathet nem, pathet sanga, dan pathet mayura, dayang bermaka kelahiran, pertumbungan atau kehiduapan dan kematian.

Kisah cerita dibangun sekitar kelahiran, pernikahan, sayembara, wahyu, pengangkatan, kepahlawanan dan perang. Bersumber dari cerita Arjunasasra, Ramayana, dan mahabarata ditambah dengan mitologi adat Jawa juga kisah ciptaan dalang itu sendiri.

Sebetulnya di dalam cerita-cerita wayang kulit ini banyak sekali ajaran tentang pandangan hidup, ketauladan yang perlu kita ambil contoh, tentunya sambil berhibur. Caba cermati kalau nonton wayang lagi,… tapi sampai selesai.
--o0o—

Tulisan Wayang Purwa Jawa yang disimpan di archive69/arsip kula ini. Sumbernya berasal dari sablonan pakaian (kaos) anak-anak yang dijual di salah satu tempat wisata Ibu Kota.

salam