Website Iklan Tayang Selamanya
Promo spesial hari ini posting iklan di situs web Iklan Jawa Barat murah sekali
setidaknya satu iklan Anda harus ada di Iklan Jawa Barat unikbaca.com ini, agar pengunjung
atau pengakses dapat mencari dan tahu usaha Anda, posting iklan di Iklan Jawa Barat murah
🎁 Hari ini sebar iklan massal murah ke 1.050 web! DISKON!

Tampilkan postingan dengan label seni. Tampilkan semua postingan
thumbnail

Sejarah/Riwayat Seni Tradisional Jangkar Alam “Ajeng” Desa Cipelang Kec. Ujungjaya - Sumedang

Diketemukan alat tradisional ajeng awal mulanya adalah seorang sultan yang bernama Sultan Jaya Ningrat dari daerah Ranji yang mempunyai anak sebanyak 4 orang, yaitu Ranggawati, Waragati, Puragati, dan Jaga Kerti. Sewaktu itu Sultan Jaya Ningrat mengutus ke 4 anaknya untuk membuat saluran air di Tegal Burangrang Gunung Garunggang yang terletak di wilayah daerah Ranji Kabupaten Majalengka.

Seni Tradisional Jangkar Alam Ajeng Desa Cipelang Kec. Ujungjaya
Foto: Doc. Jangkar Alam "Ajeng"
Dari ke empat anaknya tersebut hanya Jagakerti yang menyanggupinya. Jagakerti berangkat melaksanakan tugasnya dikawal oleh Embah Kadar serta dibantu oleh masyarakat setempat.

Pada saat penggalian dilakukan hampir satu bulan, diketemukan sebuah benda yang bernama Kempul atau gong kecil, kemudian beberapa saat juga diketemukan 28 buah benda yang bernama Keromong. Sedangkan yang terakhir diketemukan benda yang bernama Gong besar pada saat mengakhiri penggalian terowongan.

Hanya itulah alat yang diketemukan pada saat penggalian dalam membuat saluran air, oleh Jagakerti yang dikawal oleh Embah Kadar dan dibantu oleh masyarakat.

Setelah alat tersebut dibawa, kemudian pelan-pelan dipukul-pukul dan lama-kelamaan dimainkan yang akhirnya menjadi seni tradisional, dan kemudian diberi nama “Jangkar Alam”, karena diperoleh dari dalam tanah yang penuh dengan jangkar saat penggalian.

Setelah dari Ranji Jagakerti pindah tempat ke daerah Belendung (sekarang desa Cipelang) serta menempatkan dirinya di dekat pohon belendung sebagai tempat peristirahatannya (sebagai bukti ada pohon belendung di pinggir lebak belendung dan sawah belendung) sementara masyarakat hanya sebagian kecil yang tinggal, dan alat tradisional pun dibawa dengan perantaraan Embah Kadar. Kemudian alat tersebut dimainkan bersama masyarakat di daerah Belendung sampai dengan sekarang oleh generasi penerus dengan berubahnya nama Belendung menjadi Desa Cipelang.

Meskipun Jagakerti dan Embah Kadar telah meninggal dunia, tetapi ia mewariskan sebuah benda pusaka yang tak ternilai harganya kepada pewaris-pewaris sebagai keturunannya. Jagakerti dimakamkan di Makam Cipelang dan sekarang bernama Makam Embah Buyut Jagakerti. Embah Kadar juga dimakamkan di Makam Cipelang dengan sebutan Embah Buyut Kadar.

Setelah itu terjadi kira-kira pertengahan abad, oleh pewaris nama Jangkar Alam dirubah menjadi “Ajeng”. Nama ajeng diambil dari “Pangajeng-ngajeng” bagi pengantin, karena seni tradisional tersebut pada waktu itu sering ditampilkan pada acara-acara pengantinan, dengan menggunakan panggung yang tinggi sebagai pintu masuk para tamu di acara tersebut.

Karena seni ajeng merupakan benda pusaka leluhur, maka saat sekarang dimainkan sering kali di tempat-tempat keramat dalam acara ritualan, guar bumi, dan acara-acara peresmian lainnya, sebagai salah satu penghargaan kepada para pewaris sebelumnya (Karuhun) dan juga sebagai suatu slogan dalam mengayomi perkembangan seni tradisional warisan para leluhur.

Sesuai dengan sejarah tersebut di atas, maka Desa Cipelang merupakan desa pewaris Makam keramat Embah Buyut Jaga Kerti, dengan benda pusakanya seperangkat alat seni tradisional ajeng sebagai peninggalannya.

Dan benda ini menurut disbudpar marupakan situs, karena merupakan benda purbakala yang telah ratusan tahun keberadaannya. (Dikutip dari pembicaraan pewaris --Amirtarejake 21:85-- dan dari nara sumber lainnya sebagai dasar dari sejarah ini)

Sumber: Doc. Jangkar Alam “Ajeng”


thumbnail

Saung Angklung Udjo

UDJO Ngalagena adalah seorang seniman asal Jawa Barat yang mendirikan Saung Angklung Udjo. Sejak kecil, almarhum Udjo sudah memperlihatkan bakatnya dalam dunia seni budaya, terutama dalam alat musik tradisional angklung. Ia juga mewariskan bakatnya ini kepada anak-anaknya.

Saung Angklung Udjo
Illistrasi: Fian/*PR*
Lokasi : Jalan Padasuka 118, Kota Bandung
Berdiri: 1966
Waktu pertunjukan reguler: Setiap hari pukul 15.30-17.00
Paket kunjungan Saung Angklung Udjo: 1. Pertunjukan Bambu dan Kesenian Sunda
2. Program Setengah Hari di Saung Angklung Udjo
3. Workshop Angklung
Setiap sore, Udjo mengajarkan kesepuluh anaknya bermain angklung di halaman rumahnya di jalan Padasuka, Bandung. Di luar dugaan, permainan angklung yang kerap dilakukan Udjo bersama anak-anaknya ini ternyata menarik perhatian banyak orang yang melihatnya. Permainan angklung mereka pun bahkan tersiar hingga ke luar negeri. Wisatawan asing pertama yang datang ke kediaman Udjo untuk melihat permainannya secara langsung itu berasal dari Prancis.

Melihat antusiasme orang-orang yang menonton serta kecintaan Udjo pada seni dan budaya, akhirnya Udjo bersama istrinya, Uum Sumiati, mendirikan sanggar kesenian yang kini dikenal dengan Saung Angklung Udjo. Sejak sanggar ini didirikan pada 1966, jumlah pengunjung, baik lokal maupun mancanegara yang datang ke Saung Angklung Udjo terus mengalami peningkatan. Permainan yang ditampilkan semakin beragam. Wisatawan pun mulai banyak yang tertarik belajar angklung di Saung Angklung Udjo. Tak jarang, Saung Angklung Udjo juga dipanggil ke luar negeri untuk menunjukkan kebolehannya di sana.

Pada 3 Mei 2001, Udjo menghembuskan napas terakhirnya. Langkah Udjo dalam melestarikan dan mengembangkan budaya Sunda lewat Saung Angklung Udjo pun dilanjutkan oleh anak-anaknya hingga sekarang. Berkat kekompakan anak-anaknya, Saung Angklung Udjo semakin berkembang. Awalnya, saung seukuran 100 meter persegi yang dulu dibuat Udjo untuk pertunjukan di rumahnya, berubah menjadi Bale Karesmen yang kini bisa menampung hingga 2.000 penonton sekaligus.

Dihalaman samping kanan terdapat panggung terbuka untuk para penonton dalam jumlah terbatas. Di halaman belakang terdapat bengkel kerja pembuatan angklung. Bengkel kerja ini melibatkan sampai 400 pembuat angklung setiap harinya. Pada bagian pintu masuk pun terdapat berbagai macam cendera mata yang dapat dibeli oleh pengunjung. Sementara itu, pada halaman depannya terdapat tempat makan juga tempat menginap untuk para tamu atau orang-orang yang sedang belajar angklung di sini.

Sejak dulu hingga sekarang, daya tarik Saung Angklung Udjo tak pernah padam. Bahkan, setiap harinya Saung Angklung Udjo menyediakan paket pertunjukan bambu dan kesenian Sunda dalam empat sesi pementasan. Kini, Saung Angklung Udjo menjadi salah satu objek wisata budaya di Bandung yang menghadirkan pertunjukan kesenian sekaligus sebagai pusat kerajinan bambu dan workshop alat musik bambu.

Sumber: Mayang Ayu Lestari/Periset *Pikiran Rakyat** Minggu, 13 April 2014
thumbnail

“SISINGAAN” Bentuk Perlawanan Rakyat Subang

SISINGAAN merupakan salah satu kesenian tradisional yang berasal dari Kabupaten Subang. Kesenian ini ternyata memiliki sejarah cukup panjang, terkait dengan perlawanan warga Subang, ketika daerah mereka masih dijajah.

Subang pada waktu itu, sebagaimana digambarkan oleh Broersma dalam bukunya De Pamanoekan and Thiasem Landen tahun 1912. sebagian besar lahan pertaniannya dikuasai oleh perkebunan orang-orang Belanda dan Inggris. Perusahaan yang besar di daerah Pamanukan yaitu P&T Land.

Perkebunan tersebut telah menguasai hajat masyarakat Subang. Mereka mengalami tekanan cukup berat. Makanya saat ini mulai muncul perlawanan dari masyarakat Subang.

Perlawanan yang dilakukan warga Subang saat itu dalam beberapa bentuk. Ada juga dalam bentuk perlawanan fisik. Tetapi bentuk lain, yaitu lewat kesenian.

SISINGAAN Bentuk Perlawanan Rakyat Subang
foto: diah-nurfatimah.blogspot.com
“Kesenian sisingaan, sebagai salah satu bentuk perlawanan warga Subang dalam bentuk lain. Makanya, kesenian sisingaan memiliki sejarah yang tak bisa lepas dengan masyarakat Subang,” kata Nina Lubis, sejarawan asal Universitas Padjadjaran, kepada ”PR”.

Perlawanan lewat sisingaan merupakan perlawanan secara simbolis. Warga Subang berusaha mengekspresikan kekecewaan mereka terhadap penjajah waktu itu dengan sisingaan.

Simbol yang ditampilkan berupa sepasang singa menunjukkan bahwa itu adalah lambang dua kekuatan yang menjajah secara politis yaitu Belanda dan secara ekonomis Inggris. Dua kekuatan itu berada di atas, sementara rakyat Subang di bawah yang tertekan.

Tetapi, ada semangat untuk bangkit dengan disimbolkan musik yang mengiringi kesenian itu. musik dimainkan nayaga untuk memberikan semangat bangkit atau semangat ke generasi muda untuk mengusir penjajah.

Anak muda disimbolkan yaitu anak yang naik sisingaan. Kelak anak tersebut harus bebas, harus mandiri menentukan nasibnya. Tanpa ditindas oleh kaum penjajah.

“Kesenian ini memiliki nilai-nilai yang cukup kuat untuk warga Subang pada waktu itu. makanya, sisingaan sampai sekarang tertanam dan berkembang di Subang,” kata Nina Lubis.

Catatan “PR”, secara garis besar sisingaan memang terdiri dari 4 pengusung sisingaan. Sepasang patung sisingaan, penunggang sisingaan, waditra nayaga, dan sinden atau juru kawih. Secara filosofi 4 pengusung sisingaan melambangkan masyarakat pribumi/terjajah/tertindas, sepasang patung sisingan melambangkan kedua penjajah.

Sementara penunggang sisingaan simbol generasi muda yang harus bangkit. Nayaga melambangkan masyarakat yang bergembira atau masyarakat yang berjuang dan memberi motivasi kepada anak-anak muda harus bisa mengusir penjajah dari Subang.

Dalam perkembangannya, sisingaan juga tak statis. Bentuk patung, busana, dan lainnya ada perubahan.

Para seniman sisingaan tanggal 5 Januari 1988, menyelenggarakan seminar kesenian sisingaan. Hasil seminar tersebut memutuskan untuk pembakuan dan penyeragaman dalam penyebutan sisingaan. Juga adanya keputusan bahwa sepasang sisingaan adalah melambangkan dua penjajah, dan melambangkan kekuatan, kekuasaan, kebodohan, serta kemiskinan.

Menurut pemerhati kesenian Dedi Mulyadi, sisingaan tak hanya memiliki nilai sejarah. Tetapi, lebih dari itu sisingaan simbol kebersamaan rakyat Subang. “Cermin gotong royong, cermin dai sisi kehidupan warga Subang yang bersatu padu dalam menyelesaikan masalah atau dalam tatanan keseharian mereka,” ujar Bupati Purwakarta yang asal kelahirannya dari Subang.

Sudah lama budaya tersebut tertanam di tengah warga Subang. “Nilai hidup manusia yang disimbolkan oleh 4 orang yang sedang menggotong sisingaan. Sebenarnya keempat orang ini adalah 4 pilar kebudayaan, yakni persenyawaan manusia dengan airnya, udara, tanah dan matahari. Sehingga menghidupkan sisingaan di atasnya, yaitu roh manusia yang harus seimbang antara keempat persenyawaan itu,” katanya mengartikan simbol lain dari sisingaan.

Sumber: Udang Sudrajat/*Pikiran Rakyat*, Senin 27 Januari 2014
thumbnail

Karinding Pendobrak Tradisi “Pingit”

Karinding Pendobrak Tradisi Pingit
Karinding
ALAT musik karinding awalnya dikenal sebagai alat musik pergaulan di kalangan remaja. Alat musik sebesar jari tengah ini bahkan dianggap sebagai pendobrak tradisi “pingit” yang diberlakukan para orang tua terhadap anak gadis mereka.

Kimung, musisi karinding mengakui, dari sejumlah naskah Sunda diketahui bahwa alat musik karinding cukup erat kaitannya dengan Dewi Padi dan budaya agraris di tanah Pasundan. Bahkan, ia mengungkapkan, banyak yang percaya nama karinding tersebut berasal dari nama seekor binatang penanda air jernih di sawah, yakni kakarindingan.

“Karinding yang dikenal sebagai jenis alat musik lamelafon itu serupa dengan genggong dari Bali, rinding dari Yogyakarta, serupa bahkan seperti jewsharp di Eropa, danmoai/patta di Vietnam, dan murcunga di Nepal”, kata Kimung, Sabtu (30/11/2013) di base camp Common Room, Jalan Muararajeun, Kota Bandung.

Namun, Kimung juga mengatakan, banyak yang percaya alat itu lahir pertama kali di tanah Pasundan. Keberadaan alat musik serupa di berbagai daerah di tanah air dipercaya merupakan serapan atau mengembangan dari karinding yang dimiliki suku Sunda.

“Semua alat musik tersebut dimainkan dengan cara yang sama, tetapi ada juga yang “menyintir” tali ujungnya, seperti genggong dari Bali”, kata Kimung.

Sumber : Hilmi Abdul Halim/*Pikiran Rakyat** Senin, 2 Desember 2013
thumbnail

Celempungan Jadi Simbol Perdamaian

BERAWAL dari kaulinan budak (permainan anak), terciptalah alat musik Sunda buhun bernama celempung. Kata celempung berasal dari bunyi air yang kejatuhan benda. Dahulu, anak-anak kecil suku Sunda di perkampungan senang bermain air. Mereka pun membuat lubang di tanah, lalu mengisinya dengan air. Ketika sebuah benda dijatuhkan ke dalam lubang itu, terdengar bunyi “celempung”. Suara itulah yang menginspirasi alat musik celempung.

Seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat Sunda sengaja mengembangkan kaulinan budak tersebut dengan menciptakan alat musik pukul dari bambu yang bunyinya mirip suara air “celempung”. Dari sanalah, alat musik itu dinamakan celempung.

Sampai sekarang, alat musik Sunda buhun tersebut sudah memasyarakat di beberapa daerah Jawa Barat, termasuk Sumedang. Suaranya akrab di telinga para seniman dan budayawan Sunda. Celempung tersebut dari sepotong bambu ukuran sedang dengan panjang sekitar setengah meter.

Celempungan Jadi Simbol Perdamaian
ADANG JUKARDI/*PR*
BUDAYAWAN Sumedang dari Perkumpulan Insun dan Paguyuban Seni Budaya Conggeang, Edah Zubaedah, mengajak anaknya memainkan alat musik Sunda “buhun” celempung pada pameran “Festival Geusan Ulun di halaman Gedung Negara, Jalan Prabu Geusan Ulun, Sumedang
“Awalnya, celempung itu dibuat hanya satu, seperti halnya kentungan bambu. Nah, saya menciptakan tiga buah celempung yang disatukan. Cara memainkannya dipukul seperti gamelan. Ternyata lebih simpel memainkannya. Bahkan, suaranya pun bervariasi sehingga menimbulkan nada dan irama,” kata budayawan Sumedang dari “Perkumpulan Insun dan Paguyuban Seni Budaya Conggeang”, Edah Zubaedah, saat mengikuti pameran “Festival Prabu Geusan Ulun” di Halaman Gedung Negara Jalan Prabu Geusan Ulun.

Menurut dia, alat musik celempung biasa dimainkan orang Sunda dulu saat beristirahat dan melepas lelah setelah kerja keras di sawah, ladang atau kebun. Mereka memainkannya di saung rangon (gubuk bambu).

Oleh karena itu, celempung menjadi bagian dari kehidupan orang Sunda di perkampungan sejak lama. Celempung, biasa dimainkan berbarengan dengan alat musik Sunda buhun lainnya, seperti karinding, kendang suuk, dan goong buyung. Semua alat itu juga terbuat dari bambu. Selain itu, celempung juga bisa dikolaborasikan dengan alat-alat musik modern.

“Musik celempung yang dikolaborasikan dengan alat musik modern sempat ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta di acara ‘Indonesia Sejuta Bunyi”,” tutur Edah.

Celempung, menurut dia, tidak sebatas alat musik. Lebih dari itu, celempung mengandung simbol perdamaian dan media kekerabatan orang Sunda di wilayah Priangan, Jawa Barat.

Disebut simbol perdamaian karena suara celempung lembut dan nyaman di telinga. Namun, karena suara yang dihasilkan dari alat musik bambu sangat terbatas sehingga celempung harus dibantu sound system ketika dimainkan di atas panggung.

“Alat musik celempung ini tidak berisik, tidak memekakkan telinga, serta tidak menimbulkan suasana ingar-bingar, seperti alat musik modern lainnya. Oleh karena itu, permainan celempung tidak akan memancing keributan dan pertengkaran ketika dimainkan di atas panggung. Dengan demikian, celempung disebut alat musik simbol perdamaian.

Celempung dikenal sebagai media kekerabatan sesama orang Sunda lantaran beberapa masyarakat adat di Jawa Barat dan Banten sama-sama menggunakan celempung. Contohnya, masyarakat adat Ciptagelar di Kabupaten Sukabumi, warga Kampung Naga di Tasikmalaya, dan suku Baduy di Banten.

Kelestarian alam
Lebih jauh Edah menjelaskan, celempung merupakan warisan seni dan budaya para leluhur Sunda yang sudah memiliki sifat mencintai kelestarian alam dan lingkungan. Itu karena, celempung terbuat dari bambu sehingga warga pun menanam bambu. Tanaman bambu selain dimanfaatkan untuik alat musik berguna pula untuk menyerap air dan mencegah longsor. Oleh karena itu, celempung mengandung filosofi cinta lingkungan.

Tak ayal, kelompok yang dibentuk Edah mengusung prinsip Sunda, “Leuweung Kaian, Gawir Awian, Lebak Caian”. “Bambu menjadi bagian dari budaya Sunda”, ucapnya.

Guna mengembangkan alat musik Sunda buhun, khususnya celempung, Edah sangat berharap Pemerintah Sumedang membuat Peraturan Daerah Sumedang Puseur Budaya Sunda (SPBS). Melalui perda tersebut, ada upaya menginventarisasi sekaligus mengambangkan berbagai kesenian dan budaya Sunda, salah satunya alat musik Sunda buhun.

“Sangat disayangkan, dari 80 alat musik Sunda buhun, yang baru tercatat di lembaga dunia Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikan Bangsa Bangsa (UNESCO), baru angklung. Melalui Perda SPBS, kita juga berharap alat musik Sunda lain harus dipatenkan untuk menjaga Hak atas Kekayaan Intelektual urang Sunda,” tutur Edah.

Sumber : Adang Jukardi/*Pikiran Rakyat** Senin, 2 Desember 2013
thumbnail

Pesona Tari Angklung Bungko

“WARI layut… horseh!”. Teriakan di penghujung syair shalawat atau pantun diteriakan nayaga secara bersama-sama menandai perubahan gerak tari. Sebenarnya tidak ada arti khusus untuk teriakan yang juga dilakukan dalam beberapa kesenian tradisional pantai utara (pantura) Cirebon maupun Indramayu. Namun penonton yang sebagian besar mahasiswa dan mahasiswi sejumlah perguruan tinggi jurusan seni tari maupun karawitan (musik), berupaya mencari tahu, apa arti dan makna dari teriakan tersebut.

Bahkan hingga pergelaran kesenian tradisional Angklung Bungko di Teater Terbuka Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat (Dago Tea House), Sabtu (5/10/2013) berakhir. Beberapa diantaranya langsung menghampiri para nayaga untuk bertanya semua hal tentang kesenian tradisional Angkulng Bungko yang diperkirakan sudah berusia 100 tahun lebih.

Rasa penasaran ratusan penonton yang memadati sebagian tempat duduk Teater Terbuka Dago Tea House akan kesenian Angklung Bungko, sebenarnya bukan terletak pada, shalawat nabi atau syair yang dikumandangkan. Tetapi lebih kepada gerak tarian yang dibawakan enam pria bertelanjang dada mengenakan kacamata hitam, yang memiliki daya magis penuh pesona.

Adapun magis, bila dilihat sepintas dari gerakan tarian yang dibawakan terasa sangat monoton dan mengundang kebosanan. Keenam pria hanya melakukan gerakan salah satu tangan di lipat di dada atau di punggung dan satunya lagi direntangkan. Sesekali gerakan yang dilakukan berulang-ulang dengan posisi badan turun, juga diikuti dengan kaki yang dijungkit-jungkit atau digeser.

Pesona Tari Angklung Bungko
RETNO HY/*PR*
“Ini memang terlihat sangat membosankan, tapi coba perhatikan dengan seksama, gerakan-gerakan tersebut dilakukan secara bergantian dengan menahan dan ngatur napas hingga perut para penari terlihat kencang dan keringat deras bercucuran,” ujar Ki Sukarminto Hongkong, salah seorang sesepuh dan seniman Dusun Bungko, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, menerangkan.

Tarian Bungko yang terdiri atas enam tarian dipentaskan sekaligus tanpa jeda, diiringi musik angklung bungko sebagai alat musik inti ditambah kendang, gong, kitir, tutukan, dan kecrek. Gerakan tarian seperti gerakan jurus ilmu bela diri yang dilakukan secara perlahan, bahkan cenderung banyak diam menggambarkan pasukan Senopati Sarwajala (panglima angkatan laut) Kerajaan Cirebon, Ki Gede Bungko saat mengislamkan Ki Gede Petak Perlaya.

“Ada banyak generasi muda yang ingin menekuni kesenian Bungko ini, tapi baru tahap awal melaksanakan latihan di atas pasir atau lumpur saja sudah tidak kuat. Apalagi memasuki tahap selanjutnya mengatur atau menahan napas dan konsentrasi menenangkan pikiran, tidak banyak yang berhasil bahkan banyak yang gagal dan tubuh sulit digerakan,” terang Ki Hongkong.

Dari waktu ke waktu kesenian tradisional Angklung Bungko yang selalu ditampilkan dalam setiap upacara tradisional, semisal Hajat lembur, Bersih lembur dan lainnya, semakin sulit mencari penari pengganti. Karenanya melalui Program Revitalisasi Seni Tradisional Balai Pengelolaan Taman Budya Jawa Barat memasukkannya kesenian Angklung Bungko untuk direvitalisasi, dan Sabtu (5/10/2013) malam dipergelarkan dengan berbagai pertanyaan yang masih belum terjawab serta semakin mengundang rasa penasaran.

Sumber: Retno HY/*Pikiran Rakyat**, Senin 7 Oktober 2013
thumbnail

Bangkitnya Topeng Losari “Nur Anani Pentasnya Sangat Maksimal”

Mata terpejam, tangan gemulai mengikuti irama, badan sesekali didorongkan ke kiri ke kanan, kadang melenggak ke belakang (galeyong). Kaki diangkat setengah badan dan kaki satunya lagi berjinjit di lantai (gantung sikil). Begitulan kalau Nur Anani membawakan “Klana Bandopati”. Salah satu tarian dalam khazanah tari topeng losari.

Pentas keliling “Tari Topeng Babakan Losari” digelar di Gedung Sunan Ambu, STSI, Jln. Buahbatu, Sabtu (17/11/2012). Pentas keliling ini merupakan pentas terakhir setelah tampil di Yogyakarta dan Jakarta.

Sebagai penari generasi penerus Mak Dewi (maestro tari topeng losari) dan Sawitri (maestro tari topeng cirebon), Nur Anani bersama Sanggar Purwa Kencana ingin membuktikan bahwa tari topeng losari bisa bangkit kembali setelah terpuruk bahkan sempat menjual gamelannya demi menyambung hidup.

Topeng losari berbeda dengan topeng lain yang selama ini dikenal masyarakat Jawa Barat. Jika dibandingkan dengan tari topeng dari wilayah barat Cirebon, tari topeng losari yang mewakili Cirebon bagian timur, memiliki kekhasan yang unik.

Bangkitnya Topeng Losari Nur Anani Pentasnya Sangat Maksimal
ANDRI GURNITA/PR
Tari pamindo yang menceritakan tetang tokoh kesatria mengawali pentas Keliling Tari Topeng Babakan Losari Sanggar Purwa kencana di Gedung Sunan Ambu STSI, Jln Buahbatu, Sabtu (17/11/2012)
Menurut maestro tari topeng Irawati Durban Ardjo, lokasi Losari yang berbatasan dengan Brebes, Jawa Tengah, membuat topeng losari banyak dipengaruhi gaya Jawa Tengah. Gaya itu tampak pada gerakan-gerakannya yang tidak dijumpai dalam tari topeng wilayah barat, misalnya topeng palimanan, topeng slangit, topeng gegesik, topeng susukan, atau topeng tambi di wilayah Indramayu. Namun, antara mereka tetap berhubungan satu sama lain.

Gerakan topeng losari lebih pada gerakan geometrik dan luwes, sedangkan pada tari topeng wilayah Cirebon barat hanya geometrik. “Ini yang menarik, malah dalam topeng losari ada gerakan gantung sikil (gantung kaki) yang dilakukan cukup lama, tetapi tidak ditemui dalam gerakan tari topeng yang lain”, demikian Irawati.

Hal senada disampaikan Pembantu Ketua I Bidang Penddidikan STSI Bandung yang juga penari Dr Een Herdiani. Banyak perbedaan yang menjadi ciri khas topeng losari. Perbedaan itu tampak pada musik (gamelan) pengiring, gerakan tari, ataupun pakaian tari.

“Contohnya pada baju lokcan. Pada topeng biasa, berupa baju kutung saja, tapi pada topeng losari lebih panjang samapai menutuipi tubuh”, katanya menerangkan.

Topeng losari dikembangkan oleh Ibu Dewi (Mak Dewi) dan Ibu Sawitri. Aktivitas seni ini sebenarnya sudah ada sejak buyut Dalang Topeng Bapak Sumitra melalui pentas dari panggung ke panggung ataupun dalam bentuk “bebarang”.

Tradisi topeng losari dilanjutkan oleh Ibu Dewi. Namun, karena Mak Dewi meninggal, pamornya tidak lama dan digantikan oleh Ibu Sawitri. Selesa Ibu Sawitri tiada, tradisi topeng losari dilanjutkan oleh Nur Anani cucu dari Ibu sawitri.

Berbeda dengan penari topeng lain yang lebih banyak ditempa oleh latihan dan alam, Nur Anani justru menyeimbangkannya dengan studi di Jurusan Tari STSI Bandung. Ia dengan tekad kuat akan mmempertahankan tradisi topeng losari walaupun harus tertatih-tatih. “Kami mohon maaf bila penampilan kami kurang memuaskan, maklum kami apa adanya. Ongkos untuk bisa tampil di sini juga sangat mahal,” tutur Nur Anani.

Sanggar Purwa Kencana yang menjadi tempat Nur Anani melanjutkan estafet budaya dari para tetuanya, memang mendapat fasilitas dari Yayasan Kelola. Sebuah yayasan finansial agar sebuah kesenian dapat dilestarikan.

“Walaupun bantuan itu tidak besar, kami sangat berbangga hati karena dengan begitu topeng losari bisa bangkit kembali,” ujarnya.

Tanpa terpengaruh keprihatinan itu, pentas malam itu menjadi bukti kerja keras dan keteguhan Nur Anani beserta sanggarnya dalam mempertahankan topeng losari.

Sebelumnya, panggung dibuka dengan suguhan tari pamindo yang lembut gemulai, disusul dua tarian dari Luh Saraswati dan dua anak didik Nur Anani. Dilanjutkan “Bodoran Topeng Losari” yang menjadi jeda di sela-sela babak. Bodoran ini berkaitan dengan beberapa babakan cerita dalam topeng losari. Ada sembilan pembabakan dalam topeng losari. Namun, karena terbatas waktu, pentas tidak menyuguhkan utuh babakan tersebut.

Walaupun demikian, suguhan Klana Bandopati yang menjadi penutup pertunjukan menjadi tarian paling tidak terlupakan. Nur Anani membawakan dengan sangat maksimal. Sebuah pentas yang mengundang penonton melemparan “saweran” tanpa henti.

Sumber: Eriyanti/*Pikiran Rakyat* Senin, 19 November 2012
thumbnail

Ngabuburit Nonton Angklung Sered

ALAM Priangan dengan keelokan dan kekayaan alamnya yang berlimpah telah menciptakan kultur masyarakat yang senantiasa arif dalam menjaga dan mengelola alam. Untuk menjaga dan mengolahnya, tidak serta merta menekankan pada pengetahuan (teknologi) dan budaya semata, tetapi juga harus ditunjang moral yang berlandaskan agama (Islam).

Agama (Islam) yang berkembang di lingkungan masyarakat di Kampung Balandongan Ds. Sukaluyu, Kec. Mangunreja, Kab. Tasikmalaya, bukan hanya dijadikan sarana berhubungan antara manusia dengan penciptanya, Allah swt, tetapi juga menjadi penjaga perilaku dalam berhubungan dengan sesama serta mengelola alam dan lingkungan.

Kondisi seperti itu yang terus dipertahankan dan diwariskan masyarakat di Kampung Balandongan, diantaranya melalui kesenian angklung sered. Suatu kesenian yang sudah berkembang di masyarakat Mangunreja yang dikenal sangat taat menjalankan aturan dan akidah agama (Islam), seperti halnya daerah lain di Tasikmalaya, semisal Manonjaya, dan Cipasung.

Ngabuburit Nonton Angklung Sered
RETNO HY/PR

Kesenian angklung sered yang sudah ada dan berkembang sejak tahun 1908, menjadi bagian tidak terpisahkan dengan masyarakat di Punduh Sukaluyu, khususnya Kampung Balandongan. Kesenian angklung menjadi media hubungan antara masyarakat dengan alam (pertanian), juga dengan sesama manusia.

Kesenian angklung dimainkan di sela-sela bertani, bukan semata-mata untuk mengusir rasa penat. “Akan tetapi kesenian angklung saat ini menjadi media rasa syukur petani atas kesuburan dan berlimpahnya hasil pertanian yang sudah diberikan Sang Pencipta,” ungkap Ustadz Tatang Somantri, salah seorang tokoh Kamp. Balandongan, saat menyaksikan rutinitas seni angklung yang dilaksanakan masyarakat sekitar di sela-sela waktu menunggu berbuka puasa. Minggu (21/7/2013).

Memang sangat menarik menyaksikan kegiatan masyarakat Kamp. Balandongan, di saat menunggu azan Magrib berkumandang. Sebelum membersihkan diri, seusai rutinitas menggarap lahan pesawahan dan kebun, mereka menggelar seni angklung sered, yang biasa dilakukan setiap hari Sabtu atau Minggu.

Adegan Perkelahian
Permainan angklung sered diawali dengan seorang sesepuh warga yang membunyikan angklung indung dari rumah atau saung (dangau). Suara angklung tersebut dilayani warga lainnya hingga akhirnya semua warga berkumpul di lapangan.

Setelah terbagi dalam dua kelompok yang masing-masing berjumlah 10 orang, diiringi pukulan dog-dog, kendang dan goong dalam memainkan musik padung-dung, angklung sered pun dimulai. Awalnya di antara kedua kelompok tersebut menari memainkan angklung dengan cara meliuk-liuk seperti ular mengikuti pemain angklung yang memegang angklung indung.

Gerakan mengitari tanah lapang tersebut dimaksudkan untuk mengetahui kekuatan lawan. Setelah merasa saatnya melalukan penyerangan, pemain yang memegang angklung indung langsunbg ke tengah lapang dan mereka memperlihatkan jurus-jurus menyerupai perilaku hewan, semisal jurus belut, sered munding, bintih hayam, dan lainnya yang puncauknya saling bergumul (puket) dengan tetap memegang angklung hingga salah seorang di antaranya sama sekali tidak bisa bergerak karena terkunci.

Selain melakukan perkelahian dengan bergumul, pemegang angklung indung juga menunjukan kekuatan dengan saling mengadu kaki. “Gaya ini disebut ngadu bitis yang mencontoh gaya ayam sedang diadu,“ tutur Agus AW, yang untuk tesis pascasarjananya pernah melakukan penelitian tentang seni angklung sered ini selama dua tahun.

Kesenian yang mulai dikenal sejak tahun 1908 tersebut awalnya hanya berupa penanda bila ada bahaya, dan tahun 1917 hingga 1942 menjadi sarana adu jajaten (kekuatan ilmu bela diri) untuk memilih jago yang menjadi pasukan RAA Wiratanuningrat. Memasuki masa perjuangan dan mempertahankan kemerdekaan, seni angklung dijadikan sarna perjuangan, hingga tahun 1950 dan puncaknya 1987 menjadi sarana hiburan dan tradisi. Biasanya dalam sekali permainan angklung sered dilakukan sebanyak tiga babak dengan menampilkan tiga orang jago. Seperti pada Minggu (21/7/2013) itu, seusai tiga babak tanpa terasa hari mulai gelap dan azan magrib pun bergema.

Sumber: Retno HY/“Pikiran Rakyat” Selasa 23 Juli 2013
thumbnail

Seni Tradisional Wayang Orang Bekasi

Seni Tradisional Wayang Orang Bekasi
RETNO HY/PR
PERGELARAN seni tradisional wayang orang Bekasi dengan dalang Ki Sukarlan di Teater Terbuka Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, Bandung, Sabtu (6/10) malam.**
Wayang orang Bekasi, menurut KI Sukarlana, sudah ada sejak tahun 1920-an yang berkembang di daerah Cakung. Saat itu wayang orang Bekasi dikembangkan oleh dalang Marjuki dan diturunkan kepada putranya yaitu dalang Subur.

Perpaduan tiga budaya, berupa bahasa (Betawi, Sunda, Jawa) yang dipergunakan dalam dialog maupun tembang-tembang yang dilantunkan juru kawih. Demikian pula dengan perangkat alat musik yang dipergunakan, seperti terompet dan rebab (Sunda), gambang (Jawa), serta simbal (Betawi). Pergelaran wayang orang Bekasi menjadi nontonan yang sangat menarik.

Wayang orang Bekasi tidak sepopuler wayang orang Jawa (wayang Wong). Selama ini, wayang orang Bekasi hanya dimainkan di daerah pinggiran, lokasi asal tumbuhnya wayang orang Bekasi. Sepanjang perjalanan riwayatnya, wayang orang Bekasi tampil dengan penuh keserderhanaan.

Sumber: Retno HY/*Pikiran Rakyat***
thumbnail

Kesenian Tradisi Rengkong Hatong

Kesenian Tradisi Rengkong Hatong
RETNO HY/PR
Kesenian tradisional rengkong hatong yang pernah hidup di masyarakat agraris Bogor, Cianjur, dan Sukabumi pada awal tahun 1900-an digelar di Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat (BPTB Jabar), Bnadung, Sabtu (29/9) malam.
Rengkong hatong merupakan kesenian tradisi masyarakat agraris yang pernah hidup di daerah Bogor, Cianjur, dan Sukabumi pada awal 1900-an. Seiring dengan terus bergulirnya waktu dan berubahnya zaman, rengkong hatong terus tinggalkan para pelakunya

Pergelaran kesenian rengkong hatong diawali dengan “kidung bubuka” yang dibawakan oleh sesepuh kampung atau orang yang dituakan. Seusai semua doa dan pujian dipanjatkan, kaum pria yang membawa geugeusan (ikatan) padi dengan menggunakan rengkong (bambu pemikul) berjalan perlahan.

Gesekan tambang dari ijuk dengan bambu pemikul menimbulkan suara sangat seperti katak sedang bercengkerama. Tidak lama bersama dengan semakin ramainya suara rengkong, beberapa pria lainnya yang mendampingi wanita membawa air dari wadah bambu (bumbung) padi dengan menggunakan hatong, hingga menimbulkan suara saling bersautan.

Bah Mahat (kelahiran 1923) yang sudah memainkan seni rengkong hatong sejak usia 15 tahun. Menuturkan bahwa rengkong hatong berasal dari dua kata yaitu, rengkong dan hatong. Rengkong adalah sejenis alat yang digunakan untuk mengangkut padi yang berbentuk tanggungan (pemikul) terbuat dari bambu guluntung (satu batang utuh) dengan panjang sekitar 2,8 m dan ukuran lingkaran 30 cm.

Sedangkan hatong adalah sejenis alat tiup yang terbuat dari bambu tamiang, terdiri atas beberapa ruas yang disusun menjadi sebuah alat tiup. Biasanya untuk kesenian rengkong hatong, dipergunakan dua hatong dengan tiga bambu tamiang berukuran 5 hingga 8 cm sebagai nginungan, tiga hatong dengan 12 bambu sebagia dalang, serta goong bumbung yang berfungsi sebagai gong.

Seperti kesenian rengkong pada umumnya, rengkong hatong juga berfungsi sebagai sarana upacara ritual mengarak padi dari sawah ke lumbung. Biasanya digunakan saat tradisi pesta panen, yaitu bentuk kegiatan untuk menghormati Dewi Sri.

Rengkong digunakan untuk mengantarkan padi dari sawah ke lumbung atau alat yang digunakan untuk mengangkut padi dari sawah ke lumbung (tempat penyimpan padi). Sedangkan hatong adalah alat tiup uang terbuat dari bahan bambu tamiang yang berfungsi sebagai musik mengiring dan juga sebagai pengusir hama.

Sebelum dilaksanakan upacara mengangkut biasanya suka diadakan dahulu upacara ritual mipit yaitu dengan cara menyajikan sesajen rurujakan.

Tradisi dilakukan berharap pada keridaan alam akan tanaman padi yang hendak dipanen memilki manfaat dan diberkahi oleh Mahakuasa melalui Dewi Sri (Dewi padi). Dengan demikian, berkah itu sampai kepada tanah, air, tumbuhan padi dan manusia.

Sumber: Retno HY/”Pikiran Rakyat”***
thumbnail

Wayang Cepak, Kesenian Warisan Sunan Gunung Djati

Wayang Cepak Kesenian Warisan Sunan Gunung Djati
RETNO HY / PR
Ki Dalang Atik Rasta Prawira (62) memainkan wayang pada pergelaran kesenian tradisional wayang cepak, di lapangan parkir RT 01 RW 01 Kel. Sukaraja, Kec Cicendo, Kota Badnung, Selasa (18/9) malam.*
Setelah sebelumnya arsip kula menyimpan artikel seni wayang tradisi Sunda; Wayang Golek dan Wayang Purwa, serta seni wayang tradisi Jawa; Wayang Purwa Jawa

Pada kesempatan kali ini, akan diarsipkan sebagian artikelnya Retno HY yang mengulas tentang wayang cepak, dimuat di media cetak Pikiran Rakyat (Rabu, 26 September 2012).
--oOo—

Kesenian wayang cepak merupakan warisan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati. Sekitar tahun 1500-an wayang cepak dijadikan sarana untuk menyebarkan ajaran agama Islam oleh Sunan Gunung Djati.

Perbedaan wayang cepak dengan wayang golek ataupun lainnya ada pada ornamen hiasan pada kepalanya (topi), cepak (rata) sejajar dengan bagian atas kepalanya. Berlainan dengan wayang golek purwa yang berkembang di Priangan. Ornamen pada kepalanya mengenakan makuta (mahkota, crown) yang berbentuk nyungcung (piramida), dan berbentuk telekung (melengkung).

Ornamen yang dikenakan sebagai penutup kepala (topi) pada wayang cepak, ada yang mengenakan destar (penutup kepala dari kain yang umumnya dikenakan ulama Islam), dan ada pula yang mengenakan bendo (penutup kepala dari kain batik yang umumnya dikenakan oleh ningrat Sunda). Karena mengenakan bendo itulah, wayang cepak dari Cirebon disebut juga wayang bendo.

Sementara itu, cerita yang dibawakan dalam pertunjukannya mengadaptasi dari hikayat sastra Arab, diantaranya cerita Amir Hamzam dan Rangganis. Itulah yang menyebabkan wayang cepak sering diebut wayang Arab. (Retno HY/PR)
--oOo—


thumbnail

“Cara Bali” dari Karawang

Cara Bali dari Karawang
KRISHNA AHADIYAT/PR
GAMELAN Ajeng
Crek,, crek,, crek,, gung,, gung,,. Suara kecrek bersahutan dengan kempul dan bende (gong kecil) terdengar sangat keras, menjadi penanda dimulainya pergelaran kesenian tradisional gamelan ajeng asal Kampung Bambu Duri, Ds. Karangpawitan, Kec. Karawang Barat, Kab Karawang.

Tidak beberapa lama, Bah Iying (92) memainkan bonang diikuti tarompet yang dimainkan Mbah Bawon (74) dan kendang oleh Iyat (62). Di tangan ketiganya, komposisi “Cara Bali’ dimainkan dan menarik perhatian penonton di Teater Terbuka Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat, malam Minggu lalu.

Dominasi suara kecrek, kempul, bende, dan bonang sepanjang komposisi dimainkan menjadikan sejumlah meneer Belanda menamainya “Cara Bali” karena harmonisasi aksen dan tempo seperti gamelan bali. Namun, karena ingin membedakan antara gamelan ajeng dan gamelan bali, terkadang para tuan tanah dan pemilik perkebunan menambahkan tarompet pencak silat dan kendang. Hal tersebut dilakukan hingga kini oleh para pemain gamelan ajeng.

Komposisi “Cara Bali” sangat disukai karena pada komposisi ini terdapat banyak perpindahan lagu (melodi), hingga merupakan suatu rangkaian dari lagu-lagu (suite). Namun, komposisi gamelan ajeng lainnya juga memiliki nada serupa tetapi banyak bagian nada ataupun tempo yang relatif lamban, secara gradual menjadi cepat, hingga cepat sekali ketukannya, yang kemudian beralih lagi pada bagian lain dengan tempo lambat atau nonmetrik.

Selain memainkan komposisi “Cara Bali” permaian gamelan ajeng mengiringi lagu “Ranca”, “Gambangan”, dan “Ajeng”. Layaknya kesenian pelipur lara masyarakat di pedesaan, gamelan ajeng juga dipergunakan untuk mengiringi sejumlah tarian, diantaranya tarian ajeng dan tari soja.

“Dulu, pada masa kakek buyut kami, gamelan ajeng dipergunakan untuk kegiatan seusai panen ataupun hajatan lagunya juga mencapai 72 lagu. Akan tetapi, karena tidak diwariskan kepada anak cucu, lagu tersebut hilang bersama meninggalnya para pemain,” ujar Tarim Ican Putra, generasi keempat dari kesenian gamelan ajeng yang diperkirakan berkembang saat Islam yang dibawa Syeikh Hasanudin bin Yusuf Idofi,ulama besar dari Champa, yang terkenal dengan sebutan Syeikh Quro (abad 15) dan semakin berkembang saat bangsa Portugis berlabuh di Caravan (pelabuhan tepi sungai Citarum) pada 1512.

Di antara 72 komposisi lagu tersebut, hanya beberapa yang sering diminta untuk dimainkan para meneer Belanda, sehingga hanya beberapa komposisi yang terselamatkan. “Pernah diupayakan mencari Bah Jun asal Cileungsi (Bogor) yang punya catatan, tetapi begitu ditelusuri dan dicari ternyata sudah meninggal dan catatannya sudah hilang,: ujar Tarim yang mendapat warisan sejumlah gerakan tari dari (alm) Ican, ayahnya.

Selain komposisi “Cara Bali” yang terdengar seperti permainan gamelan bali, pada gamelan ajeng terdapat sejumlah hal menarik dan berbeda dengan gamelan sunda pada umumnya. Di antaranya bonang yang biasanya berjumlah 8 hingga 10, pada gamelan ajeng jumlahnya mencapai 14, demung yang biasanya hanya dua jumlahnya, di gamelan ajeng ada empat dan dimainkan tiga orang. Demikian pula hanya dengan kendang (gendang) yang dimainkan seorang pemain jumlahnya bisa mencapai lebih dari enam.

Fungsi kesenian ajeng dalam kehidupan masyarakat pendukungnya, pada masa lalu sampai akhir perkembangannya dipergunakan sebagai pelengkap upacara penyambutan tamu terhormat, baik di lingkungan pemerintahan, lembaga kemasyarakatan, orang kaya, maupun masyarakat biasa. Selain itu, kesenian ajeng berfungsi pula sebagai pelengkap upacara pernikahan yaitu dipergunakan untuk mengarak pengantin (soja) pada siang hari dan hiburan pada malam harinya.

Pertunjukan ajeng dalam suatu pesta perayaan ( di Karawang) biasanya mulai malam hari, berlangsung sepanjang malam hingga hari berikutnya siang dan malam. Ajeng dimainkan selama acara selamatan berlangsung, tetapi dengan banyak istirahat dari waktu ke waktu.

Berdasarkan beberapa keterangan, kesenian ajeng dikembangkan di daerah Karawang oleh Bapak Jaisan, diteruskan oleh anaknya Bapak Sawilin atau lebih dikenal Bapak Eyong (group Ajeng Eyong), setelah Bapak Eyong meninggal, diteruskan oleh anaknya yaitu Bapak Sarkian diturunkan kepada anaknya yaitu Bapak Sarwat dan kemudian diteruskan oleh Bapak Raisan dan kini diteruskan Tarim.

Sumber: Retno HY/”Pikiran Rakyat”
thumbnail

Lalajo Wayang Golek. uyyy (Bodor lah)

Okeh, Akang dan Nden yang sempet mampir ke tampat ini (arsip kula). Kali ini saya punya sesuatu dari temen salembur. Penggalan (hanya bobodoran) dari pagelaran wayang golek dalang Asep Sunandar Sunarya, dalam lakon Babad Alas Amer.

Wilujeng menikmati ajah


Tambahan dikit, Akang + Nden. Yang boga hajatan pagelaran wayang golek ini, STMIK Sumedang, UNSAP (2011).
thumbnail

Wayang Purwa Jawa

Wayang Purwa Jawa
(ilustrasi: id.wikipedia.org)
Wayang Purwa merupakan bentuk pementasan Wayang Kulit yang sangat populer di tanah air dan mancanegara terutama di Jawa. Walau sudah ada sejak lama tetapi jenis seni budaya yang adiluhung ini masih bertahan hingga sekarang.

Wayang disini dapat berarti bayangan atau gambar atau citraan atau anggita. Dalam pagelaran wayang kulit ini dipimpin juga diceritakan dan disutradarai oleh Dalang, yaitu orang yang mempunyai keahlian menggerakkan dan melakonkan wayang. Demikian juga haruslah ahli dalam olah batin, cendikiawan, ahli dalam pustaka serta paham tentang gending-gending. Tidak kalah penting juga adanya inprovisasi, yaitu kebebasan dalang untuk mengisi jalan cerita asal tidak keluar dari jalur pakem atau disebut sanggit, sebab dalam pementasan wayang tidak ada naskah baku atau Balungan Lakon. Lah dulunya wayang sebagai alat pemujaan seperti ruwatan, sadran dan bersih desa (tolak bala). Kemudian berkembang menjadi sebagai alat pengajaran agama, pendidikan, penerangan dan sebagainya, tapi yang jelas sebagai alat hiburan.

Unsur yang menarik dari pagelaran wayang ini adalah pesan yang terselubung dari dalam setting ceritanya, hal ini biasanya barkait dengan masalah kemasyarakatan, kritik sosial, politik, pesan moral-etika, informasi, sikap hidup dan sebagainya. Bagian ini sering muncul pada tengah-tengah acara yaitu waktu Goro-goro, keluarga para Punakawan: Gareng, Petruk, Bagong, dan bapaknya yaitu Semar Badranaya yang isinya guyonan sambil lelagon (nyanyi).

Wayang kulit ini terbuat dari kulit kerbau yang diukir dengan rincian sangat rumit serta diwarnai dengan cat, kemudian diberi penyangga berupa tangkai dan penggerak pada tangannya biasanya terbuat dari tanduk kerbau.

Penggambaran wayang pada umumnya adalah para dewa, manusia, raksasa atau jin-setan, satwa dan lambang alam lainnya. Satu perangkat (satu kotak) terdiri 150-300 jenis wayang.

Untuk memainkan wayang yaitu berada di depan kelir yaitu layar putih yang berarti jagad atau dunianya wayang, kemudian tangkainya ditancapkan di atas gedebong (batang pisang) yang berarti buminya atau sebagai pijakannya.

Untuk penerangannya disorot dengan lampu yang disebut blencong yaitu berarti matahari atau bulan, bermaksud pula adalah pandangan yang Maha Kuasa.

Kemudian simpingan yaitu wayang yang tidak dimainkan sisanya ditata di samping-samping dalang, yang akan adalah simbol kebaikan dan yang kiri adalah simbol kejelekan.

Kemudian pengiring cerita oleh dalang adalah gending-gending dari gamelan jawa yang ditambah dengan wiraswara serta sinden.

Pementasan wayang kulit ini biasanya sampai pagi, maka dibagi menjadi 3 bagian yaitu, pathet nem, pathet sanga, dan pathet mayura, dayang bermaka kelahiran, pertumbungan atau kehiduapan dan kematian.

Kisah cerita dibangun sekitar kelahiran, pernikahan, sayembara, wahyu, pengangkatan, kepahlawanan dan perang. Bersumber dari cerita Arjunasasra, Ramayana, dan mahabarata ditambah dengan mitologi adat Jawa juga kisah ciptaan dalang itu sendiri.

Sebetulnya di dalam cerita-cerita wayang kulit ini banyak sekali ajaran tentang pandangan hidup, ketauladan yang perlu kita ambil contoh, tentunya sambil berhibur. Caba cermati kalau nonton wayang lagi,… tapi sampai selesai.
--o0o—

Tulisan Wayang Purwa Jawa yang disimpan di archive69/arsip kula ini. Sumbernya berasal dari sablonan pakaian (kaos) anak-anak yang dijual di salah satu tempat wisata Ibu Kota.

salam