Website Iklan Tayang Selamanya
Promo spesial hari ini posting iklan di situs web Iklan Jawa Barat murah sekali
setidaknya satu iklan Anda harus ada di Iklan Jawa Barat unikbaca.com ini, agar pengunjung
atau pengakses dapat mencari dan tahu usaha Anda, posting iklan di Iklan Jawa Barat murah
🎁 Hari ini sebar iklan massal murah ke 1.050 web! DISKON!

Tampilkan postingan dengan label cagar budaya. Tampilkan semua postingan
thumbnail

Rumah Adat Cikondang itu Masih Bertahan

EMBUSAN angin membuat api kian besar. Dalam sekejap 39 rumah panggung di Kampung Cikondang, Desa Lamajang, Kabupaten Bandung, terbakar.

Api cepat membesar karena 39 rumah itu terbuat dari bambu dan kayu dengan atap ijuk. Titik api berawal dari suatu rumah. Saat itu, penghuninya sedang membuat tape pisang di halaman. Api dari lubang pembuatan tape menjalar ke rumah.

Rumah Adat Cikondang itu Masih Bertahan
Situs Rumah Adat Cikondang (foto: Pikiran Rakyat)
Kebakaran itu terjadi pada 1942, tetapi warga masih mengingatnya. Tidak ada korban jiwa karena warga saling memperingatkan. Setelah api padam, warga bergotong royong membangun kembali rumah. Diperlukan waktu 39 hari untuk membangun 39 rumah panggung itu. sebenarnya, rumah di Kampung Cikondang berjumlah 40. Satu rumah tetap berdiri kokoh, walaupun sama-sama terkena percikan api dari ijuk yang berterbangan.

“Entah kenapa api malah padam saat merambat ke rumah ini. Itu salah satu bukti kekuasaan Allah swt,” tutur juru kunci Situs Rumah Adat Cikondang, Anom Juhana (67), saat dijumpai di lokasi rumah adat, Sabtu (22/2/2014).

Keberadaan Rumah Adat Cikondang merupakan saksi bisu kearifan lokal dan kebudayaan warga ketika itu. rumah panggung bermaterialkan bambu dan kayu menjadi simbol bahwa warga bisa hidup berdampingan dengan alam.

Model rumah panggung membuat keseimbangan alam karena lahan yang terpakai bangunan hanya sedikit. Warga pun yakin, rumah panggung membaut warga terhindar dari penyakit karena tidak lembab.

Dari segi kearifan lokal dan kebudayaan, Juhana menuturkan, warga sangat menjaga kesucian rumah. Tanpa terkecuali, bagi istri atau anak perempuan dewasa penghuni rumah.

Saat haid, penghuni perempuan tidak boleh memasuki ruangan utama rumah. Perempuan yang sedang haid, melakukan segala pekerjaan rumah dan tidur di sekitar bale.

Pada ruangan utama rumah, Juhana menuturkan, hanya ada ruang tengah, kamar, dan goah (ruang penyimpanan). Untuk menerima tamu, dilakukan di bangunan yang terletak beberapa meter dengan rumah utama dan disebut bale paseban.

Rumah Adat Cikondang telah mendapat pengakuan dari Pemkab Bandung sebagai situs cagar budaya. Lantaran bernilai sejarah dan budaya.

Rumah adat sering juga didatangi peziarah untuk bertawasul, mendoakan para leluhur agar diberikan keselamatan akherat oleh Allah swt. Peziarah dan peneliti tidak boleh hadir pada Senin, Selasa dam Jumat. Bagi peziarah perempuan tidak boleh masuk ke lingkungan rumah adat saat haid.

Setiap 15 Muharam, ada ritus tasyakur di Rumah Adat Cikondang. Pada ritus itu, warga bergotong royong membuat tumpeng lulugu dan tumpeng untuk dimakan bersama.

“Tumpeng lulugu, memiliki tiga congcot, ada yang terbuat dari beras biasa, beras ketan, dan beras huma. Filosofi setiap congcot, yakni mengingatkan manusia supaya membersihkan hati, berinisiatif berbuat kebaikan, dan menjauhi sifat serakah,”tutur Juhana.

Sumber: Satira Yudatama/*Pikiran Rayat* Senin, 24 Februari 2014
thumbnail

Villa Isola, sebuah mahkota dunia

 Villa Isola, sebuah mahkota dunia
Ilustrasi JONY/”PR”
Lokasi : Jalan Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung 40154
Pengelola : Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
“M’ ISOLO E VIVO”. Ungkapan berbahasa Belanda tersebut mengandung arti: saya mengasingkan diri dan bertahan hidup dalam kesendirian. Falsafah ini yang diamani Dominic Willem Berretty saat ia membangun sebuah vila pribadi di sebuah kawasan di dataran tinggi Bandung. Bangunan milik pria keturunan Indonesia-Eropa ini pun akhirnya dikenal dengan nana Villa Isola. Kendati berada di lokasi terpencil. Villa Isola merupakan bangunan paling canggih pada zamannya dan menuai banyak pujian. Bahkan salah seorang arsitektur dunia pada masa itu. JP Coen, menyebut Villa Isola sebagai sebuah mahkota dunia.

Villa Isola didirikan pada 1933 di atas lahan seluas 120.000 m2. pembangunannya memakan waktu delapan bulan, dimulai pada Oktober 1932 dan selesai pada Maret 1933. Pada awal berdirinya, bangunan megah ini dilengkapi halaman seluas 7,5 hektare yang berisi taman, air mancur, dan air terjun mini yang mengalir ke danau. Konon, Villa Isola merupakan salah satu masterplace maestro arsitektur tropis modern, Charles Prosper Wolff Schoemaker. Rancangan bangunan vila menggabungkan gaya modern art deco dengan unsur tradisional kosmik Jawa yakni penggunaan sumbu pintu selatan dan utara. Bagian kiri dan kanan vila dibuat simetris dan memiliki bentuk atap mendatar. Penambahan ruang di dalam vila dibangun vertikal sebanyak empat lantai dengan bentuk tangga melingkar di kiri dan kanan pintu masuk.

Berretty hanya setahun menempati vila ini karena ini meninggal dalam sebuah kecelakan pesawat. Beberapa tahun setelah kematiannya, Villa Isola dibeli oleh Hotel Savoy Homann dan menjadi bagian dari hotel tersebut. Pada masa pendudukan Jepang, vila ini sempat dijadikan tempat tinggal sementara Jendral Hitoshi Imamura menjelang diselenggarakannya Perjanjian Linggarjati di Subang. Pascakemerdekaan, tentara Indonesai berhasil merebut kembali Villa Isola dan mengubah namanya menjadi Bumi Siliwangi yang berati rumah pribumi.

Pada 1954, Villa Isola dijadikan gedung Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) oleh pemerintah Indonesia. PTPG merupakan cikal bakal Institut Keguruan dan Ilmu pendidikan (IKIP) atau Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Banduing. Saat itu, bangunan vila dijadikan kantor rektorat sekaligus ruang kelas. Kini, rektor, pembantu rektor, dan sekretariat UPI masih menempati gedung Villa Isola. Untuk mempertahankan eksistensi Villa Isola sebagai salah satu warisan cagar budaya. UPI akan membangun kawasan Isola Heritage. Diharapkan kawasan ini dapat dinikmati oleh seluruh kalangan sebagai bagian daei wisata pendidikan

Sumber: Hanif Hafsari Chaeza/Periset “Pikiran Rakyat”)***